Adab kepada Orang Tua!

Setiap anak wajib berbakti kepada orang tua. Ini merupakan perintah yang tercantum pada Al-Qur’an dan pada hadist. Ada banyak hal yang menyangkut adab kepada orang tua yang harus diperhatikan saat ingin berbakti kepada orang tua. Ada adab yang harus ditunaikan, bukan semena-mena dan sesuai kehendak pribadi. Namun, dalam pelaksanaannya adab seringkali diabaikan. Adab tidak dijunjung tinggi bahkan oleh orang yang berilmu.

Padahal adab lah sebelum ilmu. Bagaimana ingin berbakti, jika adab tidak diperhatikan. Berikut beberapa hal yang harus diketahui dalam hal berbakti kepada orang tua, khususnya tentang adab dan contoh pelaksanaannya. Sebab orang tua lah yang paling berhak untuk dijaga perasaannya. Maka, rendah hatilah dalam berperilaku, tunjukkan kasih sayang yang begitu orang tua rindukan dari anaknya.

Adab Kepada Orang Tua serta Akhlaq yang wajib Dilaksanakan

Berikut beberapa adab yang baik dan akhlak yang mulia dalam menghadapi orang tua :

  • Memandang orang tua dengan pandangan yang teduh dan menyenangkan hati. Tidak memandang dengan pandangan yang tajam.
  • Merendahkan suara ketika berbicara dengan orang tua. Hal ini berdasarkan hadist Al Musawwir bin Makhramah radhiallahu’anhu. Sebagaimana adab para sahabat nabi terhadap Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Pada hadist tersebut disebutkan bahwa : “jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731).

Sehingga, tidak memandang tajam dan merendahkan  suara merupakan akhlak mulia. Yakni sebagai bentuk sikap penghormatan. Begitupun kepada orang tua. Sikap ini harus diterapkan kepada beliau. Sebab orang tua lah yang paling pantas untuk mendapatkan perilaku terbaik dari para anak-anaknya.

  • Tidak mendahului orang tua dalam berkata-kata. adab kepada orang tua Ini adalah salah satu adab yang penting di antara yang lainnya. Mempersilahkan orang tua untuk berbicara terlebih dahulu merupakan adab mulia. Jangan memotong pembicaraan.

Sebagaimana Andullah bin Umar adhiallahu’anhu yang menerapkan adab ini. Beliau berkata : “kami pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim’. Ibnu Umar berkata: ‘sebetulnya aku ingin menjawab: pohon kurma. Namun karena ia yang paling muda di sini maka aku diam’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma” (HR. Al Bukhari 82, Muslim 2811).

Begitupun yang lainnya, yaitu Ibnu Umar radhiallahu’anhuma. Beliau melakukan demikian kepada para sahabat lain yang lebih tua usianya. Walaupun bukan merupakan orang tuanya. Tentu akan lebih baik dan lebih layak apabila menerapkan adab ini lebih layak lagi kepada orang tua.

  • adab kepada orang tua selanjutnya adalah saat orang tua berdiri, hendaknya tidak duduk. Hal ini dilarang karena merupakan kebiasaan dari orang kafir Romawi dan Persia. Hendaknya sebagai muslim menyelisihi dan tidak meneladani mereka.

Hal ini pun sesuai dengan hadist dari abir bin Abdillah radhiallahu’anhu, yakni: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaduh (karena sakit), ketika itu kami shalat bermakmum di belakang beliau, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, ‘kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk” (HR. Muslim, no. 413).

  • Dalam perkara duniawi, hendaknya lebih mengutamakan orang tua dibandingkan diri sendiri. Misalnya saat makan, minum, ataupun perkara lainnya. Dalam sebuah hadist shahihain, sebuah kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW yakni tentang 3 orang yang terjebak dalam sebuah gua yang tertutup batu besar. Mereka bertawassul kepada Allah SWT melalui amalan-amalan mereka. Salah satu di antaranya berkata :

“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya”

Berbakti Kepada Orang Tua

Selain beberapa adab yang dijelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang juga bisa dilakukan untuk berbakti kepada orang tua, yakni :

  1. Terus mendo’akan orang tua. Sebagaimana HR. Muslim : 1631 yaitu : “Jika manusia meninggal dunia, maka terpurus amalannya, kecuali 3 perkara : yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”
  2. Tetap berbakti kepada orangtua walaupun sudah meninggal dunia. Sebagaimana HR. Abu Dawud no. 5142, yakni :

Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa sesuatu bentuk baktiku kepada kedua orangtuaku yang bisa aku wujudkan setelah mereka berdua meninggal dunia?” Beliau menjawab, ‘Ya, (yaitu) mendoakan mereka berdua, memohonkan ampunan bagi mereka berdua, melaksanakan janji (wasiat) mereka berdua setelah mereka meninggal, menyambung tali silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali dengan (sebab hubungan) mereka berdua dan memuliakan teman mereka berdua.”

  • Membayarkan nazar dan hutang orang tua. Sebagaimana dalam HR. Bukhari dan Muslim yakni “Bahwasannya Sa’ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan menanggung kewajiban nadzar, (maka apa yang harus aku lakukan?).’ Beliau menjawab, ‘Laksanakanlah nadzarnya untuk menggantikannya.”

7 Adab Anak kepada Orang Tua Menurut Imam Al-Ghazali

7 adab anak kepada orang tua

Dari risalah yang berjudul Al-Adab fid-Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, A;-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444), Imam Al-ghazali berpendapat bahwa setidaknya ada 7 adab anak kepada orang tua. Ketujuh adab ini minimal harus diketahui. Selanjutnya, harus dilaksanakan dengan baik.

Semakin berjalannya waktu, semakin bertambahnya usia, maka semakin besar pula tuntutan untuk mengamalkan adab-adab kepada orang tua. Sikap semena-mena dan sesuai keinginan pribadi tidak dibolehkan. Adapun adab kepada orang tua ialah :

  • Mendengarkan kata-kata orang tua.

Ketika orang tua berbicara atau berkomunikasi dengan anak, hendaknya anak mendengarkannya dengan baik dan seksama. Terutama jika orang tua sedang serius dalam memberikan nasehat. Apabila anak ingin memotong pembicaraan, ada baiknya untuk memohon ijin terlebih dahulu.

Di dalam adab kepada orang tua ini, jika dalam hal memotong saja harusnya meminta ijin, maka sangat tidak sopan apabila anak meminta orang tua berhenti berbicara. Apalagi jika hanya karena tidak menyukai nasihatnya. 

  • Berdiri ketika mereka berdiri.

Ini berkaitan dengan etika. Apabila orang tua berdiri, sebaiknya anak pun berdiri. Tidak hanya berkaitan dengan etika atau sopan santun, namun juga menunjukkan kesiapan anak dalam memberikan bantuan di kemudian hari apabila diperlukan. Baik diminta ataupun tidak. Demikian pula sebaliknya, apabila orang tua duduk, maka hendaknya anakpun dalam posisi duduk. Kecuali dalam kondisi tidak tersedia kursi yang bisa diduduki. 

  • Mematuhi perintah orang tua.

Apapun perintah orang tua, sudah seharusnya anak harus patuh terhadapnya. Kecuali dalam kondisi dimana perintah yang diberikan bertentangan dengan syariat Allah SWT. Atau dalam kondisi jika perintah tersebut melebihi batas kemampuan anak untuk dilaksanakan dan diselesaikan.

Dalam hal ini, anak harus mencoba semampunya. Jika terpaksa harus menolak, maka cara menolaknya adalah dengan halus dan disampaikan dengan baik. Harus tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan. Bahkan bisa dengan memohon maaf serta memberikan alternatif lain yang sesuai dengan kemampuannya.

  • Memenuhi panggilan orang tua.

Apabila ada panggilan orang tua, anak harus segera menjawab panggilan begitu mendengarnya. Apabila orang tua memanggil anak untuk pulang dan segera menemuinya, anak harus segera mengusahakannya. Langsung saja beranjak tanpa menunda-nunda. Dalam hal anak sedang melaksanakan shalat (shalat sunnah), ia boleh membatalkan shalatnya untuk segera memenuhi panggilannya.

  • Merendah kepada orang tua dengan penuh sayang serta tidak menyusahkan mereka.

Adab kepada orang tua ini sudah mulai ditinggalkan. Melakukkannya tidak boleh menggunakan pemaksaan. Setinggi apapun ilmu anak, sealim apapun ia, sehebat apapun jabatannya, harus tetap ta’zim kepada orang tua. Orang tua harus disayangi meskipun mereka dulu pernah dibuat kecewa.

Misalnya tidak bisa memenuhi keinginan anak. Anak pun harus mengerti dan memahami kondisi orang tua. Misalnya kondisi yang berkaitan dengan keuangan, fisik, mental, kesehatan dan lain sebagainya. Ini untuk menghindari tuntutan yang berlebihan kepada orang tua di luar kemampuan mereka. Mengenai tentang uang, perlu tetap menghindari riba. Cara seperti ini akan lebih membantu dan meringankan orang tua.

  • Tidak mudah mengeluh dan merasa capek dalam berbuat baik kepada orang tua.

Anak sebaiknya tidak sungkan dalam melaksanakan perintah-perintah yang diberikan orang tua. Anak harus senantiasa mengingat jasa orang tua yang telah mengasuh, mendidik, membesarkan, membiayai, dan segala bentuk perhatian lainnya. Ini merupakan adab kepada orang tua yang sangat penting untuk dilakukan.

Tanpa kenal lelah bahkan sering kali menyayangi dan menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda. Sehingga, anak harus selalu berusaha menyenangkan dan menenangkan hati orang tua dengan melaksanakan perintah yang diberikan. 

  • Tidak memandang orang tua dengan rasa curiga.

Selain itu, anak tidak seharusnya membangkang perintah orang tua. Anak harus selalu berusaha untuk  memiliki prasangka baik kepada orang tua. Jika memang ada sesuatu yang perlu ditanyakan, anak tentu boleh menanyakannya. Tentu saja disertai dengan pertanyaan yang baik. Tanpa ada rasa curiga yang ditunjukkan.

Perilaku yang Tidak Dibolehkan di dalam Adab Kepada Orang tua

Mengingat jasa orang tua yang begitu besar kepada anak, maka wajib untuk berbakti kepadanya. Layaknya seorang ibu yang telah mengandung. Sekuat tenaga ia coba lakukan sampai menunggu kehadiran buah hati di dunia. Ibu bahkan menyabung nyawa untuk melahirkan anak. Selanjutnya, anak kemudian diberikan kebutuhan-kebutuhannya, dididik dengan penuh cinta dan do’a setulusnya.

Begitu pula ayah yang mengerahkan tenaganya untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk anak. Wajar dan wajib bagi anak untuk kembali mengabdi kepada orang tua dengan cara memenuhi adab kepada orang tua. Namun, nyatanya masih banyak hal tidak baik yang masih dilakukan kepada orang tua.

Bahkan bisa menyakiti orang tua, membuatnya murka, atau menangis. Ingatlah bahwa hal ini bisa membuat Allah SWT murka. Ini akan mengundang dosa, yakni dosa durhaka kepada orang tua. Sebaiknya dihindari dan tidak dilakukan, sebab ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Berikut beberapa hal yang seharusnya tidak dilakukan kepada orang tua :

  • Mengucapkan perkataan yang menunjukkan rasa tidak suka. Misalnya kata “ah” atau semacamnya. Mengucapkan kata “ah” saja dilarang, apalagi lebih dari itu. Apalagi jika ditambah dengan intonasi tinggi serta merendahkan. Pun tatapan yang begitu sinis nan tajam kepada orang tua. Allah SWT sudah memperingatkan pada surat Al-Isra : 23, yakni :

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

  • Mencela orang tua secara langsung ataupun tidak. Ini merupakan salah satu adab kepada orang tua yang harus diperhatikan. Karena mencela orang tua dapat mengakibatkan kesulitan bagi diri sendiri.
  • Merasa malu untuk mengakui mereka sebagai orang tua. Ini  biasanya terjadi kepada anak yang sudah memiliki penghasilan tetap, menjadi lebih mapan, dan merasa terhormat di pandangan manusia. Perilaku ini sangat tidak baik, mengingat tidak ada yang bisa menggantikan jasa orang tua dengan materi ataupun yang lainnya.
  • Memerintah orang tua. Sangatlah tidak sopan apabila anak memerintah orang tua, apalagi dalam hal sepele, seperti mencuci baju, menyapu rumah, menyiapkan makanan, dan lainnya. Apalagi orang tua dalam keadaan lemah terpaut usia dan fisik yang semakin menua.
  • Memberatkan orang tua dengan segala permintaan yang diinginkan. Banyak kasus seperti ini terjadi. Anak tidak bisa mengontrol keinginan karena terbawa arus dunia. Anak bahkan tidak memahami bagaimana kondisi keluarga. Misalnya secara fisik, ekonomi, maupun mental tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Durhaka Kepada Orang Tua

Setelah mengetahui pentingnya dan kewajiban atas berbakti kepada orang tua, berikut beberapa hal yang juga harus dipegang. Yakni mengenai durhaka kepada orang tua. Ada konsekuensi yang harus diambil, Betapa besar bahaya apabila durhaka kepada orang rua. Karena hal ini menyangkut dengan adab kepada orang tua.

Bahkan ini merupakan salah satu dosa besar. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam HR. Bukhari Muslim dari sahabat Anas bin Malik, yakni :”dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu”

Begitu pula pada hadits yang diriwayatkan Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi dalam HR. Bukhari Muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua”.

Dijelaskan pula pada QS. An-Nisa : 36 yang berbunyi : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua”. Begitu besarnya dosa apabila anak durhaka kepada orang tua.

Maka, penting untuk senantiasa berbakti kepada orang dua. Yakni dengan mencoba untuk mengetahui dan menjalankan adab-adab yang telah diberikan. Semoga kita semua dapat melaksanakan dan mematuhi adab kepada orang tua agar memperoleh kebahagiaan dan sebagai wujud terimakasih kepada orang tua kita.

Sekian pembahasan Adab kepada orang tua, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.