Doa Mandi Wajib

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur urusan umatnya dari segala aspek, mulai dari perkara besar seperti tauhid dan ibadah hingga perkara kecil seperti bersuci (thaharah). Berbicara perihal bersuci, Islam sangat memperhatikan tata cara serta aturan ketika bersuci dari hadas besar maupun hadas kecil. Dalam Islam, dikenal 3 cara bersuci yaitu wudhu, tayamum, serta mandi wajib.

Kali ini, pembahasan akan berfokus pada mandi wajib. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mandi wajib? Apa yang membedakan mandi wajib dengan mandi pada umumnya? Adakah ada doa mandi wajib yang harus dilafalkan? Apakah seseorang harus mengikuti tata cara khusus demi sempurnanya mandi wajib? Untuk memperdalam ilmu mengenai mandi wajib, simak pembahasan berikut.

Pertama-tama, Anda perlu memahami dulu pengertian mandi wajib. Secara bahasa, mandi (al ghuslu) bermakna mengalirkan air pada sesuatu. Sementara menurut syariat, mandi wajib merupakan kegiatan mengalirkan air ke seluruh tubuh dengan tata cara khusus. Lalu, apa yang membedakan mandi wajib dengan mandi pada umumnya?

Secara syariat, seorang muslim diwajibkan untuk melaksanakan mandi junub (mandi wajib) jika menemui beberapa hal seperti keluarnya sperma karena onani atau setelah berhubungan intim, serta setelah haid. Sedangkan mandi biasa tidak disyariatkan demikian. Seseorang bisa melakukan mandi pada waktu kapan saja. Perbedaan lain antara mandi wajib dan mandi biasa adalah pada tata cara pelaksanaanya.

Dalil Mandi Wajib

Dalil Mandi Wajib

Seorang muslim tidak boleh menyepelekan perkara mandi junub. Apabila ditemukan dalam dirinya penyebab mandi junub, maka wajib baginya untuk melaksanakan mandi tersebut begitu juga dengan doa mandi wajibnya. Perihal mandi junub sendiri secara langsung tertulis di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedangkan kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisa’:43)

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

“Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani)”. (HR. Muslim No. 343)

Berdasarkan dalil di atas, sudah jelas bahwa perkara mandi wajib atau mandi junub merupakan perkara yang disyariatkan. Sudah sepantasnya seorang muslim menaruh perhatian dalam hal ini dan tidak bermudah-mudah dalam melaksanakannya. Tentu dengan memanjatkan doa mandi wajib sebelumnya.

Penyebab Mandi Wajib

Penyebab Mandi Wajib

Apa yang menyebabkan seseorang harus mandi wajib? Berikut ini beberapa penyebab wajibnya seseorang untuk melakukan mandi junub:

  1. Keluar mani dengan syahwat

Menurut mahzab Syafi’i, mani terbagi menjadi dua yaitu madzi dan wadi. Ciri-ciri mandi antara lain bau khas seperti telur kering, keluarnya memancar, serta menyebabkan lemas ketika keluar. Jika salah satu ciri tersebut terpenuhi, maka seseorang wajib untuk mandi junub. Hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Hanya saja, perempuan tidak disyaratkan air mani yang memancar.

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tercantum dalam kitab hadist Muslim. Rasulullah bersabda,

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

“Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim No. 343)

Hukum ini juga berlaku ketika seseorang mengalami mimpi basah. Terdapat kesepakatan ulama mengenai wajibnya seseorang jika mengalami mimpi basah (ikhtilam). Hal ini sesuai dengan hadist dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِى طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِى مِنَ الْحَقِّ ، هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِىَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ »

“Ummu Sulaim (istri Abu Tholhah) datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, jika dia melihat air.” (HR Bukhari no. 282)

Menurut pendapat mayoritas ulama, mandi hanya diwajibkan untuk seseorang yang keluar air mani dengan memancar dan diiringi dengan rasa nikmat. Namun jika mani tersebut keluar tanpa disebabkan oleh syahwat seperti ketika kedinginan atau sakit, maka tidak diwajibkan untuk mandi.

Hal ini berbeda dengan pendapat ulama Syafi’iyah. Menurut madzhab Syafi’iyah, seseorang wajib melakukan mandi junub dan memanjatkan doa mandi wajib jika mani keluar meskipun tidak terasa nikmat. Meskipun demikian, dalam hal ini pendapat mayoritas ulama dianggap lebih kuat.

  1. Bertemunya dua kemaluan

Penyebab mandi wajib yang selanjutnya adalah bertemunya dua kemaluan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا ، فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

“Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (menyetubuhi), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 219)

Dari hadist tersebut, sudah jelas bahwa seorang muslim wajib melakukan mandi junub setelah melakukan hubungan suami istri. Dalam riwayat lainnya disebutkan wajibnya untuk mandi meskipun tidak mengeluarkan air mani.

  1. Haidh

Seorang wanita yang telah selesai haidh wajib mandi junub. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Fathimah binti Abi Hubaisy,

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

“Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haidh berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Bukhasi no. 320)

Hal ini juga berlaku untuk nifas. Menurut ijma’ para ulama, seorang wanita wajib mandi junub apabila darah nifas telah berhenti keluar.

  1. Masuk Islam

Seorang kafir yang baru memeluk Islam juga diwajibkan untuk melakukan mandi junub. Hal ini pernah terjadi di zaman Rasulullah, di mana seorang bernama Qois yang baru masuk Islam kemudian diperintahkan untuk melakukan mandi. Dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara.” (HR. An Nasai no. 188)

Perintah tersebut berlaku tidak hanya untuk Qois tetapi juga untuk setiap orang kafir yang baru memasuki Islam. Menurut kaidah ushul, hukum mandi bagi muallaf adalah wajib. Ulama yang mewajibkan mandi tersebut antara lain Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hazm. Tentunya dengan memanjatkan doa mandi wajib terlebih dahulu.

  1. Kematian

Penyebab terakhir untuk melakukan mandi wajib adalah kematian. Yang dimaksud dengan mandi wajib untuk orang meninggal adalah orang hidup wajib memandikan orang yang telah meninggal tersebut. Jumhur ulama berpendapat bahwa mandi wajib untuk orang meninggal hukumnya fardhu kifayah, jadi kewajiban akan gugur apabila telah dilakukan oleh sebagian orang.

Tata cara mandi wajib bagi mayat sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitab Bukhari adalah mengguyur mayat dengan air yang dicampur dengan daun sidr (bidara) sebanyak 3 kali, 5 kali, atau lebih jika perlu. Untuk siraman terakhir, gunakan kapur barus atau wewangian.

Yang wajib dimandikan adalah adalah muslim yang meninggal baik laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, orang merdeka maupun budak. Namun orang yang meninggal di medak peperangan melawan orang kafir tidak perlu dimandikan.

Bagaimana dengan bayi yang meninggal akibat keguguran? Dalam hal ini, perlu ditinjau umur bayi tersebut di dalam kandungan. Apabila bayi yang keguguran belum memiliki ruh, maka tidak disyariatkan untuk dimandikan. Namun jika bayi telah memiliki ruh, maka perlu dimandikan sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan. Ruh akan ditiupkan pada tubuh bayi ketika usia kandungan memasuki 4 bulan.

Niat Mandi Wajib

Niat Mandi Wajib

Ketika Anda ingin melakukan doa mandi wajib, hal pertama yang harus dilakukan adalah niat. Niat mempunyai kedudukan penting dalam Islam. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1)

Berdasarkan hadist tersebut, Anda tentu bertanya-tanya bagaimana lafaz niat untuk doa mandi wajib. Di masyarakat, beredar lafaz niat ketika akan melaksanakan doa mandi wajib. Niat tersebut mempunyai lafaz yang berbeda sesuai dengan penyebab mandi wajib sebagai berikut:

  1. Mandi wajib secara umum

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf ‘il hadatsil akbari fardhal lillahi ta’ala

Artinya: Saya niat mandi wajib untuk mensucikan hadast besar fardhu karena Allah ta’ala

  1. Mandi wajib karena haidh

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minal haidil lillahi ta’ala

Artinya: Saya niat doa mandi wajib untuk mensucikan hadast besar dari haid karena Allah ta’ala

Demikian beberapa lafaz niat yang sering dijumpai dalam buku-buku Islam maupun berbagai website. Sayangnya, tidak ada dalil shahih mengenai lafaz-lafaz tersebut sebagai niat untuk melaksanakan doa mandi wajib. Dengan kata lain, lafaz niat di atas merupakan perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah sebelumnya.

Imam an-Nawawi mengatakan:

“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan.” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)

Dari kitab tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa niat tidak perlu untuk diucapkan dan cukup berada di dalam hati saja. Ketika akan melakukan mandi junub, Anda hanya perlu meniatkan dalam hati untuk melakukan mandi tersebut sebagai cara untuk membersihkan diri dari keadaan junub. Memaksakan diri untuk melafazkan niat merupakan perbuatan yang diada-adakan dan menyelisihi Rasulullah. Oleh karena itu, doa mandi wajib seharusnya dilakukan dengan niat dalam hati.

Sebagai muslim yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik suri tauladan, ada baiknya untuk menghindari hal-hal yang tidak dicontohkan. Agama Islam telah sempurna dan tidak perlu ditambah-tambah dengan apapun karena hal ini termasuk pada perbuatan bid’ah.

Dilihat dari segi kemudahan, tentunya melafazkan niat untuk setiap perbuatan justru akan merepotkan umat Islam. Ada begitu banyak ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Alangkah sulitnya jika setiap ibadah tersebut harus mengucapkan niat dengan lafaz yang berbeda. Hal ini justru menjadi beban tersendiri dan tak jarang menimbulkan was-was dalam hati pelaku.

Rukun Mandi Wajib

Rukun Mandi Wajib

Memenuhi rukun doa mandi wajib menjadi syarat sahnya mandi tersebut. Secara umum, mandi bermakna mengguyur seluruh badan dengan air. Hal inilah yang menjadi rukun mandi. Apabila seseorang melakukan mandi disertai dengan niat doa mandi wajib dalam hati, maka perbuatan tersebut telah dianggap sah sebagaimana doa mandi wajib.

Namun, terdapat tata cara mandi yang diajarkan oleh Rasulullah. Dengan mengikuti tata cara tersebut, doa mandi wajib menjadi sempurna sesuai dengan Sunnah. Adapun tambahan mandi yang dimaksudkan adalah berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung, dan menggosok-gosok badan.

Tata Cara Mandi Wajib

Tata Cara Mandi Wajib

Meskipun mandi wajib bisa dikatakan sah hanya dengan mengguyurkan air ke seluruh tubuh yang disertai dengan niat, ada baiknya untuk mengetahui tata cara doa mandi wajib secara sempurna. Berikut ini tata cara pelaksanaan doa mandi wajib yang sempurna:

  1. Mencuci tangan sebanyak 3 kali, dahulukan tangan kanan.
  2. Membersihkan kemaluan serta kotoran yang ada menggunakan tangan kiri.
  3. Mencuci tangan sesudah membersihkan kemaluan, yang salah satunya menggosokkan tangan ke tanah atau menggunakan sabun.
  4. Berwudhu dengan wudhu sempurna seperti ketika akan melaksanakan shalat. Namun beberapa ulama mempunyai perbedaan pendapat apakah kaki dicuci pada tahap ini atau diakhirkan. Kedua pendapat tersebut mempunyai landasan dalil yang shahih sehingga Anda dapat memilih salah satu dari pendapat tersebut.
  5. Mengguyur kepala dengan air sebanyak 3 kali sambil menggosok-gosok hingga pangkal rambut.
  6. Mencuci kepala bagian kanan, kemudian bagian kiri.
  7. Menyela-nyela rambut.
  8. Mengguyur air ke seluruh badan yang dimulai dari sisi kanan.

Mandi Wajib Menggunakan Sabun

Mandi Wajib Menggunakan Sabun

Setelah membahas mengenai tata cara pelaksanaan mandi wajib, muncul pertanyaan mengenai penggunaan sabun ketika mandi. Apakah sah melakukan mandi wajib menggunakan sabun? Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa mandi junub wajib menggunakan air yang murni. Air dapat dikatakan murni apabila tidak tercampur dengan sabun ataupun benda lainnya.

Lantas, bagaimana jika menggunakan sabun ketika mandi? Untuk menentukan boleh atau tidaknya hal semacam ini, ada dua perkara yang perlu ditinjau. Jika sabun tersebut dicampur dengan air sehingga air berubah, maka ulama mempunyai perbedaan pendapat. Menurut madzhab Abu Hanifah, mencampur air dengan sabun diperbolehkan dan mandi wajib tersebut terhitung sah.

Sementara itu, pendapat lain muncul dari jumhur ulama. Menurut kebanyakan ulama, mencampur sabun dengan air yang digunakan untuk mandi wajib tidak diperbolehkan. Untuk lebih berhati-hati, ada baiknya jika Anda mengikuti pendapat jumhur ulama karena dianggap lebih kuat.

Bagaimana jika menggunakan sabun di badan kemudian mengguyur dengan air? Hal semacam ini diperbolehkan menurut mayoritas para ulama karena air yang digunakan masih murni sementara sabun hanya menempel pada badan.

Meskipun demikian, Anda perlu berhati-hati dalam hal ini. alangkah lebih baiknya apabila Anda menyelesaikan mandi wajib terlebih dahulu tanpa menggunakan sabun. Setelah mandi wajib selesai, Anda bisa mengulangi mandi dengan menggunakan sabun. Cara ini dianggap sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalankan syariat agama.

Doa Mandi Wajib

Doa Mandi Wajib

Dalam pelaksanaan mandi wajib, tidak disyariatkan untuk membaca doa tertentu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, niat juga tidak perlu dilafazkan secara khusus dan cukup di dalam hati saja. Kesimpulannya, tidak ada doa khusus untuk mandi wajib dan inilah yang terbaik menurut sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun jika ada pendapat ataupun sumber yang menyatakan bahwa terdapat doa tertentu ketika mandi wajib, maka hal ini bisa dikatakan sebagai perkara baru dalam beragama. Sebagai umat muslim, ada baiknya untuk menghindari hal tersebut.

Sekian pembahasan Doa Mandi Wajib, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.