Istinja bagi umat muslim tentu bukan hal yang asing, kita semua tentu tahu kebersihan itu sangatlah penting. Menurut beberapa pendapat, kebersihan termasuk beberapa faktor, yang membentuk iman kita. Kebersihan atau bersuci, kerap kali diisyaratkan melalui firman Allah SWT, dalam Al-Quran atau hadist sahih Nabi Muhammad SAW. Contohnya ketika hendak melakukan ibadah shalat, maka kita diwajibkan adalah untuk berwudhu terlebih dahulu.

Mensuci-kan anggota tubuh kita sebelum melakukan ibadah, tentu sangat penting dalam Islam. Selain untuk syarat- syarat shalat, menurut medis, bersuci akan menjaga tubuh kita tetap sehat. Hal yang wajib diketahui oleh umat islam adalah Istinja, karena sebagian orang muslim tidaklah mengetahui, apa itu Istinja, bagaimana syaratnya, manfaat dan syafaatnya.

Pengertian Istinja

Pengertian Istinja

Istinja yang berarti cara bersuci dalam agama islam. Istinja sendiri bisa dimaksud mensuci-kan diri dari hal- hal yang kotor, bersifat fisik. Dalam artian membersihkan diri dari kotoran manusia. Kotoran tersebut bisa terjadi selepas buang air besar atau air kecil. Kebersihan saat membersihkan kotoran kecil dan besar, memang di populerkan oleh kaum muslim.

Contohnya peradaban sabun, tempat makan dan juga tempat buang air kecil dan besar. Bila dilihat peradaban- peradaban eropa, sangatlah kotor dalam hal ini. Bila diselidiki, meskipun peradaban- peradaban Eropa mempunyai istana- istana yang megah, jarang sekali yang memiliki fasilitas toilet. Oleh sebab itu, sejak dahulu tidak jarang informasi ini tersebar luas ke daratan Eropa.

Karena dari budaya timur tengah inilah, zaman sekarang bisa mengenal toilet serta fasilitasnya. Apalagi bila melihat ke zaman ini, tidak jarang para peneliti modern pun memfatwakan, bahwa bersuci itu lebih baik digunakan dengan air atau batu, dibanding menggunakan tisu. Hal tersebut diakibatkan, karena air bersifat dapat membersihkan kuman dan bakteri jahat yang menempel pada kotoran.

Fatalnya Bila Tidak Beristinja

Fatalnya Bila Tidak Beristinja

Sahabat muslim yang budiman perlulah mengetahui, beberapa kasus tentang Istinja ini. Ada banyak riwayat yang menjelaskan, bahwa seorang muslim yang rajin shalatnya, zakatnya, sedekahnya dan ibadah lainnya, bahkan sempat naik haji, namun dirinya wafat tetap mendapat siksa kubur yang amat pedih.

As Sayyidina Abu Bakar R.A. pernah hendak menshalatkan mayat seorang lelaki, tetapi tiba- tiba tersentak dengan suatu benda bergerak- gerak dari dalam kain kafan lelaki itu. Lalu disuruhnya seseorang untuk membukanya. Alangkah terkejutnya ada seekor ular sedang melilit kepala kemaluan mayat lelaki itu.

Khalifah Abu Bakar mencabut pedang lalu menghampiri ular tadi untuk membunuhnya. Tetapi ular itu tiba2 berkata: ”Apakah salahku? Karena aku diutus oleh Allah untuk menjalankan tugas yang diperintahkan” Abu Bakar pun terkejut mendengar perkataan ular tersebut lalu mengurungkan niatnya untuk membunuh ular tersebut.

Abu Bakar pun menanyakan apa yang salah dari lelaki itu hingga ia mengalami azab yang begitu mengerikan. Setelah diselidiki, ternyata lelaki itu semasa hidupnya menyepelekan dalam hal beristinja’ yakni mencuci kemaluannya setelah selesai buang air kecil maupun buang air besar dengan cara yang salah hingga tidak begitu bersih.

Dari riwayat yang terkenal tersebut, tentu saja banyak sebab yang menjadi alasan mengapa seorang mukmin yang bisa di kategorikan rajin shalat dan berbuat baik, namun tetap menerima siksa kubur yang amat perih. Dan hal tersebut, tidak lain diakibatkan karena istinjanya yang tidak diperhatikan atau salah. Ini berlaku untuk semua sholat seperti sholat qashar, sholat jama, sholat jenazah, sholat witir, sholat istikhrar, sholat tahajud maupun sholat-sholat lainnya.

Banyak kaum mukmin yang kerap menganggap enteng hal ini. Dan mungkin saja, tidak sedikit pula yang tidak mengetahui ritual, serta cara- cara beristinja yang baik menurut syariat islam, sebagai mana hadis sahih.Terutama kaum laki- laki muslim, yang kerap kali tidak memperhatikan cara beristinja ini dan selalu menganggap enteng. Apalagi seperti kasus “kebelet buang air” dan terpaksa buang air kecil atau air besar sembarangan.

Maka dari itu, ketika mengetahui bahasan ini kaum muslimin seluruh Indonesia, mengetahui adab dalam beristinja. Beristinja sangatlah penting, karena bila melanggar sedikit saja, maka azab akan menanti di akhir hayat kita. Oleh sebab itu sebagai muslimin dan muslimah yang sudah “melek” informasi, kita seharusnya mengerti, terutama bab- bab fiqih yang penting ini.

Cara Beristinja Buang Air Kecil Untuk Laki- Laki

Dalam melakukan istinja, Islam mengajarkan hukum syari berbeda antara umat laki- laki dan umat perempuan. Tentu saja karena Allah SWT memberikan bentuk fisik yang berbeda antara laki- laki dan perempuan. Oleh karena itu dengan keadaan biologis yang berbeda, beberapa cara pembersihan hadas pun berbeda, sesuai kaidahnya.

Ketika kita beristinja’ secara otomatis akan mencucinya dengan bersih, namun cara yang kita gunakan itu belum tentu sebuah cara yang benar yang di syariatkan. Terutama bila mencuci disisi yang sangat sulit untuk dilalui air. Karena bila kita kembali kepada syariat Islam, melakukan istinja’ yang keliru, akan mengancam bahwa semua amal ibadah yang kita lakukan selama di dunia ini akan terhapuskan.

 Mukmin yang baik, adalah mukmin yang peka terhadap kebersihan.  Dan pertanyaannya, bagai mana beristinja’ dengan benar? Maka yang kita harus lakukan dalam beristinja buang air kecil adalah sebagai berikut:

  • Ketika kita selesai kencing atau buang air kecil, disunnahkan untuk mengejan, atau dalam bahasa sehari- hari disebut “ngeden”. Dan hal itu diwajibkan dalam beberapa kali, ada yang berpendapat tiga kali, ada pun yang berpendapat lima kali. Hal itu difungsikan agar tetesan- tetesan urin dapat keluar sampai betul- betul bersih.
  • Mengurut batang kemaluan dari bawah, hingga ke ujung batang bagian atas. Hal tersebut harus dilakukan untuk beberapa urutan, sehingga kemaluan tidak meneteskan urin lagi.
  • Setelah selesai melakukan dua proses pada poin diatas dan meyakini bahwa tidak ada tetesan air yang tersisa. Lalu langkah selanjutnya adalah membasuhkan semua kemaluan dengan air bersih, yang diyakini air tersebut tidak mempunyai najis.
  • Ada beberapa pendapat yang mengatakan, bahwa membasuh kemaluan laki- laki selepas buang air kecil itu, dengan cara mengaliri bagian bagian mulut atau pintu bagian luar, dimana tempat keluarnya urin, dengan memberikan air sedikit demi sedikit.
  • Adabnya melakukan pembersihan dengan tangan kiri, dimana tangan kanan memegang alat yang dipakai untuk mengalirkan air.

Beberapa fase yang harus dilalui oleh para kaum muslim laki- laki adalah menghormati sunnahnya Rasulullah. Karena dengan wahyunya yang diterima oleh Allah SWT, tidak mungkin Rasulullah mengetahui cara tersebut. Apalagi cara tersebut diyakini sangat benar oleh beberapa peneliti, dan ilmuwan.

Cara Beristinja Buang Air Kecil Untuk Perempuan

Perempuan pun merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, perempuan pun harus mengerti dan memahami fitrahnya. Kita pernah mendengar bahwa mayoritas penghuni neraka adalah kaum perempuan bukan? Oleh sebab itu sebagai makhluk yang harus menjaga kesuciannya, perempuan pun harus memperhatikan adab- adab sebagai perempuan, terutama cara- cara bersuci.

Maka simak langkah- langkah saat berinstinja’ yang di sunnahkan untuk kaum perempuan, sebagai berikut:

  • Ketika sudah melakukan buang air kecil, hal yang dilakukan hampir sama persis dengan yang dilakukan oleh kaum laki- laki. Mengejan dan harus memastikan bahwa air kencing tersebut sudah tidak keluar menetes lagi. Karena rongga saluran air kecil pada perempuan berbeda dengan laki- laki, maka dianjurkan untuk menunggu beberapa detik, khawatir akan ada tetesan yang terlambat.
  • Setelah hal itu dilakukan, maka ambillah air bersih yang terbebas dari najis untuk mencuci atau membilas kemaluan perempuan tersebut. Dimulai dari bagian yang terletak pada bagian dalam kemaluan. Caranya dengan sedikit memasukkan jari pada rongga dan bibir kemaluan perempuan bagian dalam.
  • Untuk menghindari iritasi, jangan terlalu kuat untuk menekan atau menggosokanya, karena bagian sensitivitas organ perempuan berbeda- beda.
  • Ketika melakukan poin nomor dua tersebut, dianjurkan untuk terus mengaliri air saat melakukannya. Melakukan sedikit tekanan dari atas hingga bibir bawah sampai menyentuh bagian dalam, sampai bersih. Sebaiknya dilakukan perlahan dan tidak terburu- buru, agar semua air dapat terkena kebagian dalam.
  • Biasakan membersihkan dengan tangan kiri, dimana tangan kanan memegang gayung, atau semprotan air.

Sebagai fitrahnya para perempuan dan laki- laki harus mengetahui hal dalam beristinja ini. karena kelak hal tersebut akan diajarkan kepada anak dan cucu anda.

Cara Beristinja Buang Air Besar

Setelah mengetahui cara beristinja terhadap buang air kecil atau kencing, sekarang akan membahas cara beristinja terhadap buang air besar. Yang perlu diketahui oleh kaum muslim, bahwa beristinja untuk buang air besar ini tidak membedakan, yang mana perempuan atau laki- laki. Karena sumber keluarnya kotoran saat buang air besar antara laki- laki dan perempuan, yaitu sama- sama terletak di dubur.

Beberapa cara yang disunnahkan untuk istinja saat buang air besar diantaranya, sebagai berikut :

  • Setelah kita sudah melakukan buang air besar, dalam riwayat sahih disunnahkan untuk mengaliri air yang banyak. Air tersebut harus kita gunakan untuk membasuh dan aliri bagian pangkal selangkangan kita, dan hingga air tersebut harus mengenai ke tempat buang air besar. Lakukan banjuran atau guyuran tersebut beberapa kali, tanpa harus menggosok- gosok dengan tangan.
  • Setelah poin ke satu dilakukan, dengan tangan kanan yang terus mengalirkan air, maka bersihkanlah bagian dubur dengan menggunakan jari (umumnya jari tengah). Dan cara membersikaannya tersebut sampai kotoran terbuang. Hal tersebut dilakukan sambil di aliri oleh air.
  • Dalam riwayat terdapat cara untuk sedikit memasukkan bagian jari tengah anda, masuk ke dalam lubang dubur dan dibersihkan.
  • Bila sudah terasa kesat atau kasar, maka dipastikan bahwa kotoran anda sudah bersih.
  • Beberapa riwayat mengatakan membersihkan jari tengah yang dipakai dalam membersihkan dubur adalah menggunakan air yang bersih dan suci. Sambil  jari tersebut dibersihkan dengan dengan air, maka harus dibersihkan juga dengan menggesekan pada benda yang kasar, yang di sunnahkan adalah seperti batu atau bisa juga memakai dinding yang agak kasar. Hal tersebut dilakukan agar hilang najisnya.

Syarat Yang Di Syariatkan dan Diperlukan Dalam Istinja

Saat zaman dahulu, maka yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah menyediakan air dan batu dalam toilet. Jelas saja pada zaman peradaban Rasulullah, belum ditemukan sebuah teknologi pembersih, layaknya sabun. Maka meski cara tradisional tersebut dilakukan, bukan berarti tanpa alasan. Karena dibalik hal yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, ada sebab akibatnya.

Seiring berkembangnya zaman, beberapa catatan ilmiah dari peneliti muslim mengungkapkan, bahwa batu atau tanah fungsinya menetralkan kuman. Maka dari itu kita wajib mengetahui sunnah Rasulullah adalah yang terbaik untuk kita ikuti. Oleh sebab itu beberapa syarat istinja dengan media batu atau bisa juga benda kasar dan kesat, dibagi menjadi enam macam cara dan jenis, diantaranya:

  • Baik batu atau benda lainnya, terutama yang memiliki sifat tidak hancur terhadap air tersebut, haruslah suci. Dalam artian benda alami yang bisa dipakai untuk membersihkan najis.
  • Batu atau benda lainnya itu bukanlah golongan benda yang dihormati oleh manusia. Contoh hal- hal yang menjadi makanan kita, seperti tulang, atau batu yang diambil dari pecahan batu masjid.
  • Tiga kali bilasan, sampai kotoran tersebut benar- benar sampai bersih, adalah syarat Istinja yang disunnahkan.
  • Najis atau kotoran tersebut belum sampai kering atau dibiarkan kering.
  • Najis atau kotoran tersebut masih menempel dari sumbernya atau tempat keluarnya. Dalam artian bila kotoran itu jatuh, maka tidak ada kewajiban untuk membersihkan dengan cara Istinja.
  • Najis atau kotoran itu tidak tercampur dengan benda suci. Karena bila tercampur maka akan beda caranya.

Pada zaman yang sudah modern ini, tentu saja produk- produk pembersih kuman, seperti sabun akan mudah ditemukan, dan tentunya bisa digunakan setelah anda melakukan pembersihan atau istinja yang telah disunnahkan diatas. Maka dianjurkan dalam beristinja adalah dengan air yang masih bersih. Setelah pembersihan tersebut anda lakukan, tidak ada salahnya bila ingin mencampurnya dengan sabun, agar wangi.

Adab Buang Air

Bila kita sudah mengetahui cara- cara membersihkan kotoran atau beristinja seperti yang telah di syariatkan, maka selanjutnya kita harus mengetahui adab- adab apa saja saat buang air ini. Islam adalah agama sempurna yang tentunya mengajarkan kita secara lengkap, dari hal yang terkecil sampai hal besar. Maka dari itu hal tersebut memang sejatinya kita butuhkan, karena dengan adanya hal tersebut membuat kita tetap bersyukur menjadi makhluk ciptaan Allah SWT.

Oleh karena itu beberapa adab buang air besar dan kecil harus diperhatikan, sebagai berikut :

  • Ketika akan memasuki tempat buang air, maka yang di dahulukan adalah membaca do’a sebelum masuk ke tempat buang air tersebut.  Bismillahi Allahumma innii ‘a-udzubika minal khubutsi wal khoba-its (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah aku berlindung kepadaMu daripada kotoran dan dari segala yang kotor).
  • Setelah itu kita di wajibkan mendahulukan kaki kiri dibandingkan kaki kanan karena toilet atau tempat buang air merupakan bukan tempat suci. Berbeda bila memasuki tempat suci seperti masjid atau rumah. Karena kedua tempat tersebut diwajibkan untuk melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu.
  • Beberapa riwayat mengatakan, bahwa saat membuang air dianjurkan menggunakan alas kaki. Hal tersebut dikarenakan bila tempat buang air itu memang kotor. Namun bila keadaan toilet rumah anda selalu dibersihkan, maka tidak apa- apa bila tidak menggunakan alas kaki.
  • Saat membersihkan kotoran atau istinja, yang wajib digunakan adalah tangan kiri dan tangan kanan digunakan untuk alat pembawa air. Alasan logisnya bahwa tangan kanan harus lah bersih, karena tangan kanan kerapkali digunakan untuk makan, mengambil makanan dan lainnya.

Dari Salman ra. ia berkata : “Sungguh Rasulullah SAW telah melarang kami mengahadap kiblat ketika sedang buang air besar/kecil dan melarang kami beristinja’ dengan batu kurang dari tiga buah, dan melarang kami beristinja’ dengan kotoran binatang atau dengan tulang.” (HR. Muslim).

  • Setelah istinja dan buang air, maka keluar toilet harus melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu.
  • Setelah keluar dari toilet, baiknya untuk membaca do’a.  Ghufroonakal hamdu lillaahil ladzii adzhaba ‘annil hadzaa wa ‘aafaanii (Aku mengharap ampunanMu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran yang menyakitkan diri saya, dan Engkau telah menyehatkan saya.”

Hal- Hal Yang Tidak Diperbolehkan Ketika Buang Air

Untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri kita, maka kita hendak mengetahui hal- hal yang tidak diperbolehkan saat buang air kecil dan besar, diantaranya :

  • Bila dikamar mandi juga di lubang tempat buang air, kita tidak boleh mengucapkan kalimat Allah, atau melantunkan ayat Al- Quran.
  • Dilarang untuk kaum mukmin, buang air kecil dan besar ditempat yang tidak terlindungi, terlihat oleh orang lain atau di tempat terbuka.
  • Dilarang untuk buang air, dimana tempat itu dapat mengganggu orang lain.
  • Dilarang untuk kaum mukmin, buang air kecil dan besar di air yang tenang. Bila terjadi sesuatu yang mendadak seperti jauh dari tempat pembuangan air, contohnya di hutan, maka dikenakan udzur syari dan boleh buang air ditempat yang aman.
  • Tidak boleh buang air di dalam lubang- lubang, karena bisa mengkhawatirkan terganggunya makhluk yang diam disitu.
  • Ketika keadaan terdesak dan tidak menemukan tempat buang air, maka tidak boleh buang air kecil dan besar di bawah pohon- pohon yang dapat berbuah.
  • Ketika buang air kita tidak diperbolehkan untuk mengobrol, namun dapat terkecuali bila hal itu penting atau sangat terpaksa.

Sebagai penutup, bersyukurlah kita menjadi seorang muslim, karena kita diajarkan untuk tetap bersih dan suci. Di zaman modern ini, mungkin kita harus mewaspadai toilet- toilet umum yang tidak memenuhi standar yang telah disyariatkan untuk beristinja. Maka sikap seorang muslim harus tetap waspada dan memeriksa terlebih dahulu tempat- tempat umum, untuk buang air. Demikian pembahasan istinja tersebut, semoga bermanfaat.

Sekian pembahasan Istinja, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.