Jenis Jenis Najis Dalam Agama Islam

Agama Islam merupakan agama yang mengajarkan kepada para pengikutnya untuk selalu menjaga kebersihan. Hal ini karena kebersihan dalam agama Islam merupakan sebagian dari iman. Pokok ajaran tersebut diimplementasikan ke dalam aturan-aturan islam misalnya saja seperti berwudhu, melaksanakan mandi kecil maupun besar, membasuh tangan ketika menyentuh kotoran, dan lainnya.

Terutama ketika akan melaksanakan shalat lima waktu dan ibadah yang lainnya, maka para umat agama Islam diperintahkan agar selalu menjaga diri dan juga kebersihan dari jenis jenis najis. Sementara pengertian dari najis itu sendiri adalah kotoran yang membuat seseorang tidak sah ketika melaksanakan shalat atau ibadah yang lain.

Pengertian Najis

Pengertian Najis

Najis merupakan segala sesuatu yang menurut syara’ dipandang sebagai hal yang kotor dan juga menjadi penyebab utama terhalangnya seseorang untuk melaksanakan ibadah. Dampak dari najis ini bila tidak segera dibersihkan dari pakaian atau anggota-anggota tubuh maka akan menyebabkan dampak yang tidak baik. Misalnya saja menimbulkan penyakit tertentu, kotor, bau, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, sebagai seorang muslim sewaktu akan melaksanakan suatu ibadah seperti shalat ataupun thawaf sebaiknya mensucikan diri terlebih dahulu dari semua jenis jenis najis. Bisa dengan mandi, tayamum, dan berwudhu.

Hukum dari segala sesuatu

Dalam agama islam terdapat kaedah penting yang wajib diperhatikan yakni segala sesuatu mengenai hukum asalnya adalah suci dan mubah. Maka barangsiapa yang mengklaim bahwa hal tersebut najis maka baiknya orang tersebut juga mendatangkan dalil yang menjadi panutannya.

Akan tetapi bila orang tersebut tidak dapat mendatangkan dalil atau sudah mendatangkan dalil tapi kurang tepat maka wajib bagi Anda untuk selalu berpegang teguh pada hukum asal yakni segala sesuatu itu sebenarnya adalah suci. Karena menyatakan sesuatu najis berarti menjadi beban taklif, yang mana membutuhkan dalil.

Jenis-Jenis Najis

jenis jenis najis

Dalam agama islam terdapat beberapa najis yang terbagi dalam tingkatan yang berbeda-beda. Selain itu, setiap jenis najis maupun bentuknya tentu mempunyai cara untuk menyucikannya yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Di bawah ini merupakan penjelasan dari jenis-jenis najis dalam agama islam.

  • Najis Mughallazhah

Najis Mughalladzhah merupakan salah satu najis yang dikategorikan dalam kelompok najis yang berat. Contoh dari najis ini seperti najis dari anjing dan babi. Hal ini berdasarkan dari ayat dalam Al-Qur’an surat Al An’am: 145 yang mana mengharamkan dan juga menganggap bahwa babi termasuk dalam hewan yang mengandung najis.

Selain itu, disampaikan pula dalam sebuah hadist dari Rasulullah SAW yang berbunyi, “Dari Abi Huroirota RA telah berkata: Bahwa Rasulullah SAW telah bersabda”, Cara mensucikan bejana tempat air salah satu dari kalian adalah dengan, jika dijilat anjing maka hendaklah dibasuh sebanyak tujuh kali yang salah satunya dicampur dengan tanah.” (HR Muslim)

Sementara di dalam hadist yang lainnya, Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa air liur yang terdapat pada anjing adalah salah satu bentuk dari najis dan wajib untuk menyucikannya dengan menggunakan tanah maupun membasuh najis tersebut sebanyak tujuh kali.

  • Najis Mukhaffafah

Najis Mukhaffafah merupakan suatu najis yang termasuk dalam kategori najis yang ringan. Contoh dari najis mukhaffafah di antaranya air kencing bayi yang masih di bawah umur 2 tahun. Apa yang telah dimakan serta diminum hanya berupa air susu dari ibunya atau ASI. Maka kotoran yang dikeluarkan masih bersih dan tidak tercampur bermacam-macam zat lain.

Sementara untuk membersihkan najis mukhaffafah salah satunya dengan cara dibasuh dengan menggunakan air pada sumber dari najis tersebut atau bisa juga dengan menggunakan lap. Selain dengan cara dibasuh Anda bisa juga dengan mengaplikasikan cara yang lebih praktis yakni dengan memercikkan air lalu di lap sampai kering dan bersih.

Hal ini juga disampaikan dalam salah satu hadist dari HR. BukharIi Muslim yang mengatakan bahwa:


Sesungguhnya ia pernah membawa seorang anaknya yang laki-laki yang belum makan makanan (kecuali ASI). Lalu anak itu dipangku oleh Rasulullah SAW lalu anak itu kencing di pangkuannya. Kemudian beliau meminta air lalu memercikkan air itu pada bagian yang terkena air kencing dan beliau tidak membasuhnya.

  • Najis Mutawassithah

Najis ini termasuk dalam kategori najis yang sedang. Najis Mutawassithah ini adalah najis yang keluar dari kemaluan maupun dubur dari manusia dan hewan. Selain pada manusia dan hewan, najis ini juga terdapat pada segala jenis minuman atau air yang memabukkan dan bangkai (selain bangkai manusia, belalang, dan ikan).

Hal ini sebagaimana terdapat pada suatu hadist yang disampaikan oleh HR. Ibnu Majah & Hakim yang mana mengatakan bahwa, “Dari Ibnu Umar RA telah berkata: Telah di halalkan dua bangkai, yaitu ikan dan belalang. Adapun dua darah yaitu hati dan limpa.

  • Najis yang dimaafkan

Dari ketiga najis diatas terdapat beberapa najis yang masih bisa dimaafkan yakni tidak perlu dicuci maupun dibasuh. Contoh dari najis tersebut adalah bangkai pada binatang yang tidak terdapat darah yang mengalir, darah atau nanah yang hanya setitik saja, debu ataupun air-air yang memiliki semburat sedikit.

Bentuk Najis Mutawassithah

Najis mutawassithah adalah najis yang dikategorikan ke dalam najis berat. Maka dari itu sebelum menunaikan ibadah shalat harus dibersihkan terlebih dahulu. Selain itu, ada beberapa jenis-jenis najis mutawassithah yang perlu dibersihkan, antara lain:

  • Air Seni

Air seni atau yang biasa disebut dengan kencing termasuk dalam kategori najis. Air seni ini bisa terdapat pada air seni manusia maupun air seni hewan. Air kencing memiliki sifat najis karena kandungannya yang memang berbau, kotor, dan juga menjadi sumber penyakit. Maka dari itu, sebelum melaksanakan ibadah shalat sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu.

Hal ini berdasarkan pada salah satu hadist Anas, yang mengatakan bahwa:

“Suatu saat seorang Arab Badui kencing di masjid. Lalu sebagian orang (yakni sahabat) berdiri. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Biarkan dan jangan hentikan kencingnya.” Setelah orang badui tersebut menyelesaikan hajatnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas meminta satu ember air lalu menyiram kencing tersebut.

  • Madzi

Madzi merupakan air yang mana keluar dari adanya nafsu syahwat dari seorang manusia atau yang biasa disebut dengan air mani. Sehingga, air mani dianggap air yang bersifat hina karena kondisinya yang didapatkan dari hal kotor. Ketika manusia sedang mengeluarkan madzi maka tidak diperkenankan untuk melaksanakan ibadah shalat sebelum disucikan terlebih dahulu.

Hukum dari madzi merupakan suatu najis sebagaimana yang terdapat pada perintah untuk membersihkan kemaluan sewaktu madzi tersebut telah keluar. Hal ini berdasar pada hadist dari ‘Ali bin Abi Thalib, beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku termasuk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan kedudukan anaknya Fatimah di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan suatu jawaban kepada Al Miqdad.

“Perintahkan dia untuk mencuci kemaluannya kemudian suruh dia berwudhu.”

  • Tinja (Kotoran Hewan dan Manusia)

Tinja atau kotoran yang terdapat pada manusia maupun hewan termasuk dalam kategori najis. Hal ini bisa diketahui dari kotoran tersebut yang berisikan sisa-sisa serta racun dari dalam tubuh manusia maupun hewan. Apalagi ditambah dengan tinja mempunyai wujud dan berbau.

Mengenai kotoran manusia juga telah ditunjukkan dalam suatu hadist dari Abu Hurairah, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran (al adza) dengan alas kakinya, maka tanahlah yang nanti akan menyucikannya.”

Sementara pengertian dari al adza merupakan segala sesuatu yang mengganggu yakni jenis jenis najis, batu, kotoran, duri, dan lain sebagainya. Selain dalil yang telah disebutkan di atas juga terdapat beberapa dalil yang berisi perintah untuk beristinja’ yang mana menunjukkan bahwa najisnya kotoran manusia.

  • Darah

Selain tinja dan air seni, darah juga termasuk dalam benda yang mengandung najis, terutama darah haid wanita. Maka dari itu, ketika seorang wanita sedang mengeluarkan darah dari kemaluannya, wanita itu tidak boleh melaksanakan shalat. Karena darah ini akan terus-menerus timbul, tidak dapat dibersihkan dalam sekejap dan harus menunggu sampai berhenti.

Bentuk Najis Lainnya

Selain air seni, madzi, tinja dan darah terdapat juga beberapa bentuk najis lainnya yang perlu disucikan, di antaranya:

  1. Kotoran Hewan Tidak Halal Dimakan Dagingnya

Ada sebuah hadist dari HR Ibnu Majah (dishahihkan Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majahno. 2530) “Abdullah RA yang berkata bahwa “ketika Nabi SW hendak buang hajat, beliau berkata, ‘bawakan aku 3 batu’. Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata, (kotoran) itu najis.

  • Jilatan Anjing

Jilatan anjing juga termasuk dalam salah satu dari jenis jenis najis, maka hal itu perlu disucikan. Hal ini berdasar dari hadist Abu Hurairah, yang mana beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

Cara menyucikan bejana di antara kalian yang mana apabila telah dijilat anjing yakni dengan cara dicuci sebanyak tujuh kali dan pada awalnya dengan menggunakan tanah.” Sementara menurut Staikhul Islam Ibnu Taimiyah, bagian dari anjing yang termasuk dalam kategori adalah jilatannya saja. Sedangkan anggota tubuh lainnya dan bulunya dianggap suci.

  • Bangkai

Segala sesuatu yang telah mati tanpa disembelih secara syar’i adalah bangkai. Rasulullah SAW juga bersabda “Kulit bangkai apa saja jika telah disamak, maka ia suci” (HR. Ibnu Majah).

Sementara untuk bangkai yang telah dikecualikan adalah:

  1. Bangkai Belalang dan Ikan

Berdasarkan dari hadist Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami halalkan pada ke dua bangkai dan juga darah. Adapun dari kedua bangkai tersebut yakni belalang dan ikan. Sedangkan pada dua darah tersebut adalah hati dan limpa”.

  • Bangkai Hewan yang Darah Tidak Mengalir

Misalnya saja seperti bangkai semut, lalat, kutu, dan lebah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Apabila terdapat seekor lalat yang jatuh pada suatu bejana di antara milik kalian, maka celupkanlah lalat itu seluruhnya, lalu buanglah. Sebab pada salah satu sayap lalat itu terdapat racun atau penyakit dan pada sayap lainnya terdapat suatu penawarnya.”

  • Tulang, Kuku, Tanduk, Bulu, dan Rambut dari Bangkai

Semua benda tersebut adalah bagian dari bangkai yang mana suci karena telah dikembalikan pada hukum asal dari segala sesuatu yakni suci. Mengenai hal tersebut telah diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad atau mu’allaq, beliau Nabi SAW bersabda,

“Hammad telah mengatakan bahwa bulu pada bangkai tidaklah mengapa atau tidak najis. Az zuhri juga mengatakan mengenai tulang bangkai dari gajah maupun semacamnya. “Aku telah menemukan beberapa ulama salaf yang menyisir rambut dan juga berminyak menggunakan tulang itu. Mereka tidak menganggapnya najis.”

  • Wadi

Wadi merupakan cairan bening serta kental yang mana keluar setelah buang air. Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa:

“Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani maka wajib untuk mandi. Sementara untuk wadi dan madzi beliau Rasulullah SAW bersabda, ‘Basuhlah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat’” (HR Abu Dawud dan Al Baihaqi 1/115).

Cara Membersihkan Dari Berbagai Jenis Jenis Najis

Cara Membersihkan Dari Berbagai Jenis Jenis Najis

Untuk cara membersihkan najis ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan, antara lain:

  • Cara menghilangkan najis mukhaffafah yakni dengan memercikkan air pada tubuh yang terkena najis mukhaffafah tersebut.
  • Cara menghilangkan najis mutawassithah yakni dengan membasuhkan air sekali asalkan warna, najis, sifat, rasa, dan baunya telah hilang.
  • Cara menghilangkan najis mughallazhah misalnya terkena jilatan anjing ataupun babi yakni dengan cara membasuhnya menggunakan air bersih sebanyak tujuh kali dan pada salah satu basuhan tersebut airnya dicampur dengan tanah. Hal itu wajib sekali untuk dilakukan oleh para muslim yang terkena najis karena sesuai dengan QS AL A’nam ayat 145.
  • Sementara untuk membersihkan sesuatu yang telah keluar dari qubul atau kelamin manusia dan dubur atau anus misalnya air seni dan berak maka wajib sekali untuk dibersihkan dengan menggunakan air sampai bersih bukan menggunakan tisu maupun kapas layaknya orang barat.

Tujuan Membersihkan Najis

Dalam agama islam, setiap aturan yang telah diberlakukan tentu mempunyai tujuan, termasuk juga aturan mengenai menjaga diri dari berbagai najis. Najis yang telah dijelaskan pada bacaan di atas tentunya mempunyai arti bahwa sebuah kotoran yang bila tidak dibersihkan serta dihindarkan maka akan berakibat mengganggu kesehatan Anda.

Oleh sebab itu, Allah kerap kali memberikan suatu aturan agar para umat Islam selalu melaksanakan wudhu dan juga mandi, agar tetap dalam keadaan yang bersih selalu. Sehingga terhindar dari segala penyakit yang menjangkit tubuh. Sementara untuk tujuan dari membersihkan najis, di antaranya:

  • Menjaga dan Memperbaiki Diri

Dalam usaha memperbaiki diri merupakan salah satu simbol dari menjaga serta memperbaiki diri. Hal ini karena dalam menjaga dan memperbaiki diri berawal dari kebersihan dalam fisik yang sangat mudah untuk melakukannya. Oleh sebab itu, bila kebersihan dalam fisik saja sudah dijaga maka kebersihan dalam jiwa dan hati nurani sudah pasti ikut terjaga.

  • Menjaga Kesehatan Diri

Menjaga diri dari jenis jenis najis maka itu sama saja dengan menjaga diri dari segala penyakit. Sejatinya, najis itu seperti kotoran hewan yang bila menempel pada tubuh seorang manusia yang mana akan memancing segala jenis penyakit pada tubuh. Maka dari itu, segeralah dibersihkan, apalagi ketika akan melaksanakan ibadah.

  • Kenyamanan Bersosialisasi

Menjaga kebersihan dalam diri dari jenis jenis najis, itu juga akan berdampak pada menjaga kenyamanan diri dari orang lain terutama dalam hal bersosialisasi. Coba bayangkan saja, bila tubuh Anda dipenuhi oleh najis dan juga berbau, maka tentu saja orang lain tidak betah untuk bersosialisasi dengan Anda.

Untuk itu, perintah dari Allah untuk senantiasa menjaga kesucian diri bukan hanya berdampak ketika melaksanakan ibadah saja kepada Allah tetap juga kepada sesama manusia. 

Cara Membedakan Hadast dan Najis

Ketika seorang muslim yang sedang dalam keadaan hadast ataupun sedang dalam najis. Pastinya orang muslim tersebut belum dapat melaksanakan ibadah secara sempurna karena masih terdapat halangan. Maka dari itulah orang yang terkena najis tersebut harus mensucikan atau membersihkan diri terlebih dahulu.

Sementara itu sebenarnya hadast dan najis memiliki perbedaan. Mungkin agak susah-susah gampang dalam membedakan antara najis dan hadast. Hal ini dikarenakan kedua hal itu juga sama-sama dimulai dari orang itu sendiri. Akan tetapi, untuk najis datangnya sering berasal dari luar tubuh seseorang. Misalnya najis mukhaffafah dan najis mughaladhah.

Namun bila Anda kesulitan dalam membedakannya, maka Anda dapat membedakannya dengan mensucikan kotoran baik itu dalam bentuk najis maupun hadast yang berada pada diri seseorang tersebut.

Sekian pembahasan Jenis Jenis Najis, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.