Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar menjadi salah satu sahabat yang mendampingi nabi dalam perjuangan menyebarkan islam di kota Makkah. Abu Bakar bahkan rela memberikan harta dan segala yang dimilikinya demi membantu perjuangan Nabi Muhammad SAW. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq patut kita teladani.

Sosok Abu Bakar dikenal sebagai orang yang selalu membenarkan apapun yang datang dari nabi Muhammad SAW. Salah satu kejadian yang cukup terkenal adalah saat nabi menceritakan perjalanan Isra Mi’raj nya. Kala itu banyak yang meragukan cerita Rasulullah SAW. Namun, Abu Bakar dengan yakin membenarkan apapun yang dikatakan Rasulullah SAW. Sejak itu Abu Bakar menyandang gelar Ash-Shiddiq yang dalam bahasa Arab berarti yang membenarkan.

Dengan segala perjuangannya bersama nabi Muhammad SAW, kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq kerap dijadikan suri tauladan.

Kisahnya lantas diceritakan dalam buku-buku sejarah-sejarah kebudayaan islam serta buku bacaan bagi anak-anak.  Berikut kisah perjalanan kehidupan Abu Bakara Ash-Shidiq.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Mulai Kelahiran

Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir pada tahun 572 M dengan nama lahir Abdullah bin Abi Quhafah. Abu Bakar dilahirkan dari keturunan Bani Tamim dengan suku bangsa Quraisy.

Nama lengkap Abu Bakar Ash-Shiddiq beserta nasabnya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Abu Bakar bertemu nasabnya dengan Nabi Muhammad SAW pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim.

Dalam hidupnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki profesi sebagai pedagang. Beberapa pakar sejarah juga mencatat jika Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang terpelajar dan hakim yang berkedudukan tinggi. Selain itu Abu Bakar Ash-Shiddiq dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi. Abu Bakar juga dikenal sebagai sosok yang amanah dan jujur.

Saat Rasulullah SAW berdakwah di awal mendapatkan wahyu, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi salah satu dari 5 orang yang pertama memeluk Islam atau yang disebut Assabiqunal Awwalun.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Memeluk Islam

Kisah Abu Bakar Ash-Shidiq Memeluk Islam

Berdasarkan dari kitab Hayatussahabah, kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq masuk islam terjadi usai menerima ajakan Rasulullah SAW secara langsung. Setelah resmi masuk islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq turut membantu Rasulullah SAW berdakwah. Abu Bakar Ash-Shiddiq bahkan berhasil mengajak jajaran tokoh penting seperti Usman bin Affan, Saad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah untuk masuk islam.

Meski Abu Bakar Ash-Shiddiq memilih masuk islam dan turut menyebarkannya, tak seluruh keluarganya menerima hal tersebut.Sang istri yang bernama Qutaylah binti Abdul Uzza justru menolak. Hal itu membuat, Abu Bakar Ash-Shiddiq memilih menceraikannya. Selain sang istri, anaknya yang bernama Abd Rahman bin Abu Bakar juga menolak islam. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun lantas memutuskan hubungan dengan anaknya yang tak mau masuk islam.

Sementara itu, istri Abu Bakar Ash-Shiddiq lainnya, Ummu Ruman memilih memeluk islam. Anak Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lain juga melakukan hal yang sama dengan sang ayah.

Perjuangan Abu Bakar Menghadapi Orang Kafir Quraisy

Pada masa Jahiliyah orang islam yang paling kejam disiksa adalah mereka yang berstatus sebagai budak. Salah satu yang paling memilukan sempat dialami Bilal bin Rabah. Bilal pernah dijemur di terik matahari sementara tubuhnya ditindih dengan batu besar. Penyiksaan itu bertujuan agar para budak meninggalkan islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka.

Layaknya para pemeluk islam lainnya di masa awal, Abu Bakar Ash-Shiddiq kala itu juga merasakan kekejaman kaum kafir Quraisy. Akan tetapi karena statusnya yang cukup terpandang sebagai pedagang dan juga memiliki kerabat dan saudara, Abu Bakar Ash-Shiddiq masih mendapatkan perlindungan dari keluarganya. Didalam Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq terdapat banyak pertentangan.

Meski Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat perlindungan dari keluarganya, beliau tak lantas menutup mata melihat berbagai penyiksaan kafir Quraisy kepada para budak yang beragama Islam. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melakukan tindakan secara nyata. Ia menggunakan harta pribadinya untuk membebaskan para budak dengan membeli mereka dari para tuannya untuk dimerdekakan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga tak pernah meragukan Rasulullah dan selalu yakin serta membelanya di hadapan para kaum Kafir Quraisy. Hal itu tercermin saat peristiwa Isra Mi’raj. Pada saat Nabi Muhammad SAW menyampaikan perihal peristiwa dan wahyu yang diterimanya, orang-orang justru meragukannya. Lantas, mereka ramai mendatangi Abu Bakar dan mempertanyakan perihal hal tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun lantas membenarkan apapun yang dikatakan Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang selalu setia mendampingi Rasulullah SAW. Saat ada perintah hijrah ke Madinah, Abu Bakar terpilih sebagai sahabat yang menemani Nabi Muhammad SAW berhijrah dan menyertainya. Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menemani nabi Muhammad saat bersembunyi di Gua Tsur.

Momen mencekam sempat dialami Abu Bakar Ash-Shiddiq kala menemani hijrahnya Nabi Muhammad. Kejadian itu terjadi saat orang-orang kafir Quraisy mencari-cari nabi dan mengejarnya hingga ke Gua Tsur. Orang kafir Quraisy sudah mencurigai gua tersebut, Abu Bakar bahkan telah melihat kaki-kaki mereka.Di momen mencekam tersebut, Nabi Muhammad SAW menenangkan sang sahabat dan mengatakan Allah SWT melindungi mereka.

Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar lolos dari kejaran karena pertolongan Allah SWT, lewat laba-laba dan dua dua ekor burung dara hutan di mulut gua. Orang kafir Quraisy beranggapan gua tersebut tak mungkin dimasuki manusia karena terdapat sarang laba-laba dan dahan yang terkulai. Mereka beranggapan jika ada orang yang masuk ke gua tersebut tentu sarang laba-laba akan rusak, selain itu ada cabang pohon yang terkulai dan membuat mereka semakin yakin.

لَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا  فَأَنزَلَالله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. At-Taubah, 9:40).

Setelah 3 hari berdiam di Gua Tsur, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq pun berhijrah ke Madinah. Keduanya mengendarai dua ekor unta yang telah disiapkan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Serta perbekalan yang disiapkan putri-putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma’ dan Aisyah.

Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq beserta umat Islam akhirnya berhasil berhijrah ke Madinah.Di masa kemudian, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi mertua Nabi Muhammad SAW. Hal itu terjadi usai Nabi Muhammad SAW menikahi putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, Aisyah RA.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Memimpin Umat Islam

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan satu dari Khulafaur Rasyidin yakni empat khalifah penerus kepemimpinan umat Islam usai wafatnya Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah pertama menggantikan Rasulullah SAW.

Selama masa Rasulullah SAW sakit saat menjelang wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq lah yang menggantikan menjadi imam salat. Hal itu membuat sebagian orang menganggap itu sebagai indikasi bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq pantas menempati posisi sebagai pemimpin umat Islam menggantikan Rasulullah SAW.

Setelah kematian Rasulullah SAW, musyawarah pun dilakukan dan menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam pada tahun 632 M. Abu Bakar Ash-Shiddiq dibaiat sebagai khalifah pertama umat Islam usai wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah pembaiatan sebagai khalifah dilakukan, Abu Bakar menyampaikan pidato yang sangat rendah hati. Ia menuturkan jika ia tak lebih baik dari umat Islam lainnya. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun meminta agar dibantu dan ditolong jika dirinya berbuat baik. Namun, ia juga tak ragu menyuruh umat Islam untuk menegurnya jika telah membuat kesalahan.

“Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat pada Allah dan Rasul-Nya,” pidato Abu Bakar (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Dalam kepemimpinananya, Abu Bakar Ash-Shiddiq terkenal sebagai sosok yang baik, lembut, suka menolong namun juga tegas. Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadikan hukum Allah sebagai standar untuk menentukan yang slah dan benar. Dan hukum tersebut tak hanya diikuti oleh rakyat namun juga penguasa.

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq menceritakan bagaimana beliau benar-benar menegakkan hukum Allah, saat mendengar beberapa kaum muslimin murtad dan tidak mau membayar zakat, Ia langsung memberi peringatan dan akan memerangi mereka.Perang Riddah atau perang melawan kemurtadan dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq pada masa 632 dan 633 M.

Dalam kepemimpinannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dihadapkan pada kasus nabi palsu. Ada seorang bernama Musailamah al-Kazzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi palsu. Musailamah menyebarkan ajaran tidak benar dengan berusaha menghapuskan kewajiban shalat. Musailamah juga menyusun ayat-ayat untuk tandingan Al-Qur’an.

Melihat Musailamah yang perlahan-lahan mempengaruhi orang-orang, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun mengambil tindakan tegas. Musailamah pun diperangi dan akhirnya pasukan Musailamah kalah pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid. Sementara itu, Musailamah sendiri terbunuh di tangan Al Wahsyi yang merupakan mantan budak yang akhirnya memeluk Islam dan menyesali perbuatannya dulu.

Al Wahsyi adalah mantan budak yang dibebaskan Hindun binti Utbah, istri dari Abu Sufyan yang jelas-jelas menentang Islam. Al Wahsyi dibebaskan karena berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW.  Usai peristiwa pembunuhan itu Al Wahsyi bertobat dan masuk islam serta menyesali tindakannya dulu.

Selain memerangi kemurtadan internal, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga melakukan ekspedisi untuk menyebarkan Islam keluar daratan Jazirah Arab. Beberapa jenderal Islam dikirim ke beberapa wilayah dengan misi penaklukan.Salah satu misi yang sukses adalah penaklukan Irak oleh Khalid bin Walid serta berhasilnya ekspedisi ke daerah Suriah.

Setelah melebarkan wilayah, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan pelestarian teks-teks tertulis Al-Qur’an. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian Al-Qur’an. Pasalnya usai perang melawan nabi palsu, Musailamah, banyak penghafal Al-Qur’an yang turut terbunuh.

Kenyataan itu Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan koleksi Al-Qur’an. Lantas dibentuklah tim khusus yang diketuai Zaid bin Tsabit dalam proyek pengumpulan Al-Qur’an. Lembaran Al-Qur’an alantas dikumpulkan dari para penghafal juga tulisan-tulisan yang berada di benda-benda seperti tulang, kulit dan sebagainya.

Setelah terkumpul semua, kumpulan tulisan Al-Qur’an tersebut lantas disimpan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat khalifah umat Islam itu wafat, kumpulan tulisan A-Qur’an tersebut lantas disimpan sahabat lainnya, yakni Umar bin Khattab. Kemudian saat Umar wafat, kumpulan Al-Qur’an itu disimpan putrinya, Hafsah yang lantas pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi tersebut menjadi dasar kepenulisan mushaf Al-Qur’an yang dikenal hingga saat ini. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq berikutnya membahas soal wafatnya beliau.

Wafatnya abu Bakar

Selayaknya manusia pada umumnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dihadapkan pada kematian. Abu Bakar Ash-Shiddiq tutup usia pada 23 Agustus 634 M di Madinah, Arab Saudi. Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya pada usia 61 tahun.

Dari hidup hingga meninggal, Abu Bakar Ash-Shiddiq seolah selalu dekat dengan Rasululah SAW. Pasalnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq diketahui dimakamkan di rumah putrinya, Aisyah RA yang dekat dengan masjid Nabawi di samping makam Nabi Muhammad SAW.

Seusai wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, kepemimpinan umat Islam pun kembali kosong. Umar bin Khattab pun lantas ditunjuk sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Menjadi sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu mendampingi perjuangan mendakwahkan Islam. Abu Bakar juga tak pernah meragukan Rasulullah SAW dan tak segan mengorbankan segala yang dimilikinya demi membantu perjuangan Islam. Didalam Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq,Abu Bakar pun dikenal memiliki beberapa keutamaan.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq dijamin masuk surga

Dalam salah satu hadits yang ditulis oleh Imam Bukhari dan Muslim, Abu Bakar Ash-Shiddiq dikatakan sebagai orang yang akan masuk surga. Abu Bakar Ash-Shiddiq bahkan akan dipanggil dari berbagai pintu nantinya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, mereka yang berpuasa akan dipanggil dari pintu puasa, yaitu pintu Rayyan. Lantas Abu Bakar bertanya; “Jika seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari salah satu pintu, itu adalah sebuah kepastian. Apakah mungkin ada orang akan dipanggil dari semua pintu tersebut wahai Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka, wahai Abu Bakar.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

  • Abu Bakar adalah laki-laki yang paling dicintai Rasulullah SAW

Saat ditanya oleh salah seorang sahabatnya, Rasulullah pernah menjawab jika Abu Bakar adalah orang yang dicintainya. Abu Bakar Ash-Shiddiq memang sosok sahabat yang menemani Rasulullah SAW dalam suka dan duka.

“Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi shallallahu’alahi wa sallam, “Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim).

  • Orang yang Paling Dipercaya Rasulullah SAW saat Hijrah

Diantara para sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah yang paling dipercaya. Rasulullah SAW saat berhijrah ke Madinah. Terbukti, Abu Bakar Ash-Shiddiq terpilih menjadi yang menemani Nabi Muhammad SAW saat masa sulit dikejar-kejar orang kafir Quraisy.

  • Termasuk orang yang memeluk Islam pertama kali

Dibandingkan sahabat lainnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan laki-laki dewasa yang pertama memeluk islam dan masuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun. Meski sejatinya Ali bin Abi Thalib juga masuk dalam golongan tersebut, Namun, kala itu Ali masih seorang anak kecil. Sehingga Ali menjadi anak kecil pertama yang masuk Islam, sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi laki-laki dewasa yang masuk Islam.

  • Terikat secara kekeluargaan dengan Nabi Muhammad SAW

Abu Bakar Ash-Shiddiq masih memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar Ash-Shiddiq bertemu nasab dengan Rasulullah pada kakeknya, Murrah bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim. Selain itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berstatus sebagai mertua Nabi Muhammad SAW usai putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, Aisyah RA menikah dengan Rasulullah.

Begitulah kisah dan keutamaan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dikenal dengan kebenaran, kelembutan serta ketegasannya. Banyak sekali hal yang bisa diteladani dari kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq terutama kerelaan dan keikhlasannya melakukan segalanya di jalan Islam.

Sekian pembahasan Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.