Puasa Senin Kamis

Puasa merupakan salah satu amalan utama dalam Islam. Dengan berpuasa, seseorang akan terhindar dari godaan syahwat yang menjerumuskan. Selain itu, puasa juga dapat menghindarkan seseorang dari siksa api neraka. Puasa sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu puasa wajib dan puasa sunah. Puasa wajib dilaksanakan hanya pada bulan Ramadan saja, sedangkan puasa sunah tidak terikat waktu.

Secara umum, puasa sunah dapat menyempurnakan puasa wajib. Ketika telah menyelesaikan amalan wajib, ada baiknya Anda mengikuti dengan amalan sunah agar bertambah sempurna. Puasa sunah sendiri dapat menambal kekurangan pada puasa wajib. Dengan demikian, keutamaan puasa sunah tidak bisa diremehkan.

Umat Islam mengenal beberapa macam puasa sunah, seperti puasa Arafah, puasa Syawal, puasa Senin Kamis, puasa ayyamul bidh (puasa 3 hari di pertengahan bulan Hijriah), puasa Daud, dan lain sebagainya. Setiap amalan puasa tersebut mempunyai keutamaan tersendiri sehingga kaum muslimin dianjurkan untuk melaksanakannya.

Pada pembahasan kali ini, kita akan berfokus pada puasa Senin Kamis. Apa saja yang menjadi dalil pelaksanaan puasa sunah Senin Kamis? Apakah puasa ini mempunyai keutamaan jika dibandingkan dengan amalan sunah lainnya? Untuk mengetahui lebih dalam mengenai puasa Senin Kamis, simak pembahasan berikut ini.

Dalil Puasa Senin Kamis

Dalil Puasa Senin Kamis

Anjuran puasa Senin Kamis didasarkan pada beberapa dalil. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin dan beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”

Dalil lain mengenai anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”

Dari hadist di atas, bisa diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis. Pada hari tersebut, amalan manusia dihadapkan pada Allah dan alangkah baiknya jika pada saat tersebut seorang hamba sedang melakukan puasa sebagai bentuk ketaatannya pada Allah.

Dalil yang ketiga mengenai anjuran puasa Senin Kamis adalah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.”

Berdasarkan ketiga hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa puasa Senin Kamis merupakan amalan utama yang dicontohkan oleh Rasulullah. Dengan melaksanakan amalan tersebut, hal ini menjadi bukti keteladanan kaum muslim terhadap Rasulullah.

Keutamaan Puasa Senin Kamis

Keutamaan Puasa

Berbicara mengenai keutamaan puasa Senin Kamis, hal ini tidak dapat dipisahkan dari keutamaan puasa secara umum. Orang yang berpuasa mempunyai beberapa keutamaan. Dalam satu hadist, Rasulullah bersabda,

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” (HR. Bukhari no. 1904)

Dalam riwayat lain disebutkan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Setiap amalan adalah sebagai tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Ahmad)

Berdasarkan dua hadist di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa merupakan amalan yang sangat utama karena Allah berjanji akan membalasnya sendiri. Amalan puasa tersebut adalah untuk Allah, sementara amalan lain hanyalah untuk hamba sendiri. Dengan demikian, alangkah baiknya jika seorang muslim memperbanyak puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Apabila seseorang rutin menjalankan puasa sunah, termasuk puasa Senin Kamis, maka keutamaan yang akan didapat antara lain:

  1. Pahala tak terhingga.
  2. Masuk surga disebabkan oleh puasa.
  3. Dua kebahagiaan, saat berbuka dan saat berjumpa dengan Rabbnya.
  4. Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada minyak kasturi di sisi Allah.

Niat Puasa Senin Kamis

Niat Puasa Senin Kamis

Berbicara mengenai niat puasa hari Senin dan Kamis, para ulama mempunyai dua pendapat yang berbeda apakah niat tersebut dilakukan sebelum subuh atau boleh dilakukan pada siang hari. Setiap pendapat mempunyai landasan dalil yang shahih sehingga kaum muslimin harus menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana.

Adapun pendapat pertama adalah tidak mensyaratkan niat sebelum subuh. Ulama yang meyakini pendapat ini adalah ulama madzhab Syafi’iyah, Hanafiyah, dan Hambali. Pendapat tersebut dilandaskan pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Rasulullah pernah menemuiku pada suatu hari. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki makanan?” Kami jawab, “Tidak.”

Kemudian beliau mengatakan, “Jika demikian, saya berpuasa.”

Berdasarkan riwayat tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa Rasulullah tidak menghadirkan niat berpuasa sebelum subuh. Beliau menghadirkan niat berpuasa karena tidak ada makanan yang dimiliki. Dengan demikian, ini menjadi landasan bagi para ulama untuk membolehkan pelaksanaan puasa sunah tanpa harus menghadirkan niat sebelum subuh.

Sementara itu, madzhab Malikiyah mempunyai pendapat bahwa puasa sunah dilakukan dengan menghadirkan niat sejak sebelum subuh, sebagaimana pada puasa wajib. Hal ini didasarkan pada hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Siapa yang tidak berniat puasa di malam hari, maka tidak ada puasa baginya.”

Dari dalil di atas, para ulama Malikiyah berpendapat bahwa menghadirkan niat adalah syarat untuk melakukan puasa sunah sebagaimana puasa wajib. Menghadirkan keinginan ketika amal tersebut sudah lewat adalah hal yang mustahil.

Cara yang bijak untuk menyikapi perbedaan tersebut adalah dengan mengambil pendapat dari jumhur ulama. Mayoritas ulama membolehkan puasa sunah, termasuk puasa Senin Kamis, meskipun tidak mempunyai niat sejak sebelum subuh dan niat tersebut baru hadir pada siang hari. Hal tersebut diperbolehkan, dengan catatan seseorang belum mengkonsumsi apapun sejak terbitnya matahari.

Demikian perihal waktu dalam menghadirkan niat puasa sunah. Lantas, apakah niat puasa Senin Kamis mempunyai lafaz khusus? Sesuai dengan yang beredar di masyarakat, berikut adalah niat puasa sunah pada hari Senin.

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma yaumal itsnaini sunnatal lillahi ta’ala

Artinya: Saya berniat puasa Sunah hari Senin karena Allah Ta’ala

Sedangkan untuk niat berpuasa pada hari Kamis, lafaz niat tersebut sedikit berbeda. Berikut niat yang diucapkan untuk melaksanakan puasa hari Kamis.

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma yaumal khomiisi sunnatal lillahi ta’ala

Artinya: Saya berniat puasa Sunah hari Kamis karena Allah Ta’ala

Demikian dua lafaz niat puasa yang banyak beredar di masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah lafaz tersebut mempunyai dalil yang shahih? Apakah lafaz niat yang demikian pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Sayangnya lafaz puasa tersebut tidak mempunyai landasan dalil yang kuat sehingga tidak dapat diamalkan oleh kaum muslimin.

Mengapa tidak? Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh melaksanakan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadist yang pertama diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697).

Hadist selanjutnya yang melarang adanya perkara baru yang cenderung diada-adakan tanpa pernah dilaksanakan oleh Rasulullah maupun para sahabat adalah sebagai berikut. Dalam khutbahnya, Rasulullah bersabda,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Berdasarkan dua dalil di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa melakukan amalan yang tidak sesuai dengan contoh Nabi Muhammad maka akan tertolak. Berkaitan dengan lafaz niat puasa Senin Kamis, hal tersebut tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Dengan demikian, kaum muslimin tidak selayaknya melakukan perbuatan tersebut dan juga tidak mengajarkannya.

Hal ini juga senada dengan penyataan Imam an-Nawani mengenai niat yang dilafazkan. Beliau berkata,

“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan.” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)

Bolehkah Puasa pada Salah Satu Hari, Senin atau Kamis Saja?

Bolehkah Puasa pada Salah Satu Hari, Senin atau Kamis Saja

Berbicara mengenai puasa sunah pada hari Senin dan Kamis, banyak kaum muslimin yang bertanya-tanya apakah puasa tersebut harus dilakukan sebagai satu kesatuan ataukah boleh berpuasa pada satu hari saja? Pertanyaan ini cukup wajar sesuai dengan hadist dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah terbiasa merutinkan puasa pada hari Senin dan Kamis.

Selain itu, yang menjadi penyebab kekhawatiran boleh atau tidaknya berpuasa pada satu hari saja (Senin atau Kamis) berdasarkan larangan Rasulullah. Beliau melarang untuk berpuasa khusus pada hari Jum’at. Yang demikian telah disampaikan oleh Rasulullah bahwa seorang muslim tidak boleh mengkhususkan hari Jum’at untuk melakukan amalan puasa sementara hari lain tidak.

Apakah berpuasa pada satu hari (Senin atau Kamis saja) tergolong menyelisihi sunah? Para ulama berpendapat bahwa puasa hari Senin dan Kamis bukanlah satu kesatuan sehingga seorang muslim boleh memilih puasa pada hari Senin saja, Kamis saja, atau kedua. Hal ini disebabkan tidak adanya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggabungkan dua puasa tersebut sebagai satu kesatuan.

Meskipun demikian, berpuasa pada hari Senin dan Kamis tentunya mempunyai keutamaan tersendiri daripada berpuasa hanya pada satu hari saja. Selain membuktikan rasa cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad, orang yang melakukan puasa Senin-Kamis bisa mendapatkan keutamaan secara sempurna.

Hukum Menggabungkan Niat Puasa Senin Kamis dengan Puasa Sunah Lain

Hukum Menggabungkan Niat Puasa Senin Kamis dengan Puasa Sunnah Lain

Jika Anda mulai merutinkan puasa Senin-Kamis, mungkin Anda akan menjumpai bahwa hari tersebut bertepatan dengan hari tertentu yang disunahkan untuk melakukan puasa lain. Sebagai contoh, bisa jadi hari Senin atau Kamis bertepatan dengan puasa Syawal, puasa Arafah, atau puasa ayyamul bidh. Bagaimana jika ingin menggabungkan puasa Senin-Kamis dengan puasa sunah lain?

Dalam hal ini, para ulama sepakat bahwa menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa lain adalah diperbolehkan, selama sama-sama dihukumi sunah. Menggabungkan niat ibadah dalam satu amalan biasa dikenal sebagai at-Tasyrik oleh para ulama. Dengan melakukan hal tersebut, Anda bisa mendapatkan dua ibadah sekaligus.

Hal ini juga berlaku seperti orang yang melakukan mandi junub bertepatan dengan hari Jum’at. Maka, baginya amalan mandi junub untuk menghilangkan hadast besar dan baginya pula pahala karena telah melakukan mandi Jum’at. Dengan pemahaman tersebut, Anda tidak perlu lagi khawatir untuk menggabungkan beberapa niat amalan yang mempunyai tingkatan sama (sama-sama sunah).

Cara Melakukan Puasa Senin-Kamis

Cara Melakukan Puasa Senin-Kamis

Bagaimanakah tata cara pelaksanaan puasa sunah Senin-Kamis? Pada dasarnya, puasa Senin-Kamis mempunyai ketentuan yang sama dengan puasa pada umumnya. Seseorang menahan diri dari makan dan minum sejak sebelum terbitnya matahari hingga terbenam matahari. Perihal niat puasa, seseorang boleh menghadirkan niat sebelum subuh maupun sesudah subuh ketika matahari sudah terbit.

Agar amalan puasa sunah diterima, ada baiknya untuk memperhatikan dua hal berikut:

  1. Ikhlas karena Allah

Syarat diterimanya amal adalah dengan menghadirkan rasa ikhlas. Rasa ikhlas tersebut berarti seseorang melakukan ibadah hanya karena Allah dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Hal ini berarti tidak diperbolehkan melakukan ibadah hanya karena ingin mendapat pujian atau dengan tujuan tertentu selain karena Allah seperti agar langsing atau untuk menghemat pengeluaran.

  1. Ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasulullah)

Syarat kedua diterimanya amal adalah dengan melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Sebagaimana hadist yang telah disampaikan sebelumnya, suatu perkara baru dalam urusan agama akan tertolak. Tentu sangat disayangkan jika Anda telah bersusah payah menahan hawa nafsu namun amal tersebut tertolak karena tidak mengikuti tuntunan dari Nabi Muhammad.

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh kebanyakan masyarakat umum adalah melafazkan niat seperti yang telah disampaikan. Hal ini tergolong perkara baru dan diada-adakan sehingga sudah sepatutnya bagi Anda untuk meninggalkan perkara tersebut.

Faedah Merutinkan Puasa Senin-Kamis

Faedah Merutinkan Puasa Senin-Kamis

Setelah mengetahui keutamaan, dalil-dalil serta tata cara pelaksanaan puasa Senin-Kamis, Anda juga perlu mengetahui faedah merutinkan puasa sunah hari Senin dan Kamis untuk memotivasi diri sehingga dapat merutinkan amalan tersebut. Apa saja faedah yang bisa didapat ketika mampu melaksanakan puasa sunah dengan rutin?

  1. Beramal pada waktu utama

Dalam hadist disebutkan bahwa amalan dinaikkan dihadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Pada hari tersebut, alangkah baiknya jika seorang mukmin dalam keadaan berpuasa sehingga lebih utama baginya.

  1. Bermanfaat untuk badan

Selain mengharapkan pahala dari Allah, Anda juga bisa mendapatkan manfaat dari segi kesehatan. Seseorang yang rutin melaksanakan puasa Senin-Kamis memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan detoksifikasi 2 kali dalam sepekan. Hal ini tentu saja sangat baik untuk tubuh. Namun, bukan berarti Anda melakukan puasa tersebut semata-mata untuk mendapatkan manfaat kesehatan tersebut.

  1. Mengikuti sunah Rasulullah

Dalam riwayat juga disebutkan bahwa Rasulullah merutinkan puasa Senin-Kamis. Sebagai kaum muslim, sudah seharusnya kita mengikuti sebaik-baik suri tauladan yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Merutinkan puasa Senin Kamis bisa menjadi bentuk rasa cinta kepada beliau.

  1. Pahala tetap mengalir meskipun tidak puasa

Setiap amalan yang dilakukan secara rutin akan tetap mendapat pahala apabila Anda tidak mengerjakannya karena udzur syar’i. Misalnya Anda rutin berpuasa Senin-Kamis namun karena suatu halangan, Anda tidak bisa melakukannya. Maka insyaallah Anda akan tetap mendapat pahala karena telah merutinkan puasa tersebut pada waktu lainnya.

Sekian pembahasan Puasa Senin Kamis, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.