Riba merupakan salah satu kegiatan yang sangat dilarang oleh Islam. Riba sendiri dalam Bahasa Arab memiliki arti bertambah, sehingga segala sesuatu yang bertambah dikenal dengan riba. Sedangkan menurut istilah riba memiliki arti sebagai penambahan beban kepada pihak yang berutang, sehingga terdapat tambahan sejumlah uang selain jumlah pokok.

Dalam Ajaran Islam, riba adalah salah satu hal yang paling dilarang, bahkan termasuk ke dalam dosa besar melebihi zina. Hal inilah yang menyebabkan umat Islam harus menjauhi riba, karena sangat dekat dan bisa disengaja maupun tidak disengaja dapat dilakukan.

Sejarah Riba

sejarah riba

Menurut sejarah riba telah dikenal sejak zaman dahulu, tepatnya sejak manusia mengenal emas, perak, dan juga uang. Namun kisah yang paling terkenal adalah pada zaman Nabi Musa As, dimana banyak sekali kaum Yahudi yang melakukannya. Dan hal ini ditiru oleh umat Nabi Musa As, sehingga Allah SWT melarang hal tersebut.

Kaum Yahudi pada zaman tersebut menyebarkan di Arab tepatnya di Kota Thaif dan Kota Yashrib, sekarang dikenal dengan Kota Madinah. Bahkan riba sendiri terus menyebar dengan pesat, dan akhirnya sampai di Kota Mekkah.

Di zaman Rasulullah Saw sendiri telah dihapuskan seperti pada Sabda “ Riba Jahiliyah telah dihapuskan. Riba pertama yang kuhapuskan adalah riba Abbas bin Abi Muthalib. Sesungguhnya semua riba telah dihapuskan”. (HR. Muslim)

Dari sabda Rasulullah Saw tersebut menyebutkan bahwa riba telah dilarang dan dihapuskan. Terutama bagi umat muslim yang menganut Ajaran Islam.

Riba telah dilarang dengan jelas oleh Ajaran Islam dan telah dimasukkan ke dalam perbuatan yang keji. Bahkan dalam ayat suci Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menyebut tentang riba. Salah satunya adalah Surah Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَوَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُون

Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.

Jenis-jenis Riba

Jenis-jenis Riba
  • Riba Utang Piutang

Riba adalah kegiatan menambah atau menggandakan kekayaan dengan cara yang tidak benar, digolongkan menjadi beberapa golongan. Salah satunya adalah utang piutang, yang dimana terdapat unsur riba apabila terdapat penambahan selain pokok yang diberikan. Secara garis besar riba utang piutang dibedakan menjadi dua yaitu Qardh dan Jahiliyah.

Qardh merupakan jenis yang terjadi pada proses utang piutang, dimana terdapat tambahan nilai atau manfaat terhadap kreditor (peminjam). Hal ini adalah yang sangat sering kita temui, yaitu terdapat tambahan nilai yang dibebankan kepada kreditor. Biasa kita kenal juga sebagai bunga dari pinjaman pokok.

Jahiliyah merupakan jenis yang terjadi akibat keterlambatan kreditor dalam mengembalikan pinjaman pokok. Seorang peminjam harus memberi tambahan selain pinjaman pokok, atau biasa kita kenal dengan denda. Hal ini adalah jenis yang biasa kita temui pada kredit sebuah barang.

  • Riba Jual Beli

Riba bukan hanya terjadi pada utang piutang saja, namun dapat terjadi pada transaksi jual beli. Dimana terdapat kondisi atau keadaan transaksi dikatakan riba. Dalam garis besar jenis ini dibedakan menjadi Fadhl dan Nasi’ah.

Fadhl adalah jenis yang terjadi pada transaksi jual beli antara jenis barang yang sama, namun memiliki kadar atau jumlah yang berbeda. Dalam keadaan jual beli pada umumnya riba jenis ini juga sering terjadi, dimana terdapat perbedaan atau pengurangan jumlah barang yang dijual oleh seorang pedagang.

Nasi’ah adalah jenis jual beli yang terjadi karena adanya penangguhan transaksi, dan dalam penangguhan tersebut terdapat perbedaan atau perubahan jumlah barang maupun jumlah uang yang diberikan. Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan dikarenakan akan terjadi kerugian yang dialami oleh suatu pihak.

Karakteristik

  • Adanya Jual Beli Tidak Jujur

Dalam terjadinya, terdapat beberapa karakteristik yang selalu mengiringinya, salah satunya adalah karakteristik tidak jujur baik pembeli maupun penjual. Dalam kasus jual beli sendiri sering terjadi hal ini, dimana banyak pedagang yang menggunakan cara curang dengan mengurangi jumlah maupun berat dari barang yang dijualnya, sehingga ia bisa mendapat keuntungan lebih banyak dari sebelumnya.

Sedangkan dalam kasus utang piutang sudah sangat jelas, bahwa terlalu memberatkan seorang kreditor. Bahkan terdapat potongan-potongan hingga biaya tambahan, sehingga semakin terasa dan membuat kreditor semakin berat. Selain itu, riba juga dilarang karena terdapat sikap tidak jujur yang dilakukan oleh seorang tertentu dalam meminjamkan uangnya kepada kreditor.

  • Adanya Utang Piutang Berbunga

Karakteristik yang berikutnya adalah adanya kondisi dimana uang piutang merajalela, dan dibarengi dengan adanya bunga. Bunga inilah yang bisa disebut dengan riba, yaitu adanya tambahan sejumlah uang selain pinjaman pokok yang dipinjam. Walaupun sifatnya sangat menguntungkan, namun bunga sendiri sangat dilarang dalam Ajaran Islam.

Ironisnya kini utang piutang jenis ini sangat banyak ditemui, dengan kedok sebagai penambah modal banyak sekali orang yang meminjamkan uangnya dengan syarat bunga sekian persen. Terdapat juga bunga dalam jumlah yang sangat kecil, namun hal ini juga tetap dilarang oleh Ajaran Islam.

  • Adanya Barang-barang Ribawi

Karakteristik lainnya adalah adanya barang-barang riba, barang ini adalah barang Naqdain dan makanan. Naqdain sendiri terdiri dari barang berharga seperti emas, perak, dan uang. Sedangkan makanan terdiri dari jenis-jenis makanan yang dapat di konsumsi. Adanya beragam barang inilah yang membuat riba bisa terjadi jika tidak memenuhi syarat.

Pada umumnya cara untuk menghindarinya adalah dengan melakukan transaksi sesuai dengan nilai, dilakukan di satu tempat, dan dilakukan secara kontan. Cara tersebut adalah cara yang paling aman untuk terhindar dari sifat riba, karena riba jual beli sering kali terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja oleh para pedagang dengan para pembeli dalam melakukan pertukaran.

  • Adanya Pertukaran Tidak Seimbang

Pertukaran yang berbeda atau tidak seimbang adalah karakteristik dari riba. Dimana pertukaran tidak seimbang ini memiliki arti yang sangat luas, mulai dari pertukaran barang tidak sejenis, perbedaan takaran, hingga perbedaan nilai dari sebuah barang yang ditukarkan. Tentunya saat akan melakukan transaksi atau jual beli harus benar-benar diperhatikan.

Pertukaran tidak seimbang ini, bisa diatasi dengan menggunakan patokan harga atau nilai sebuah barang di waktu tersebut. Kita bisa membandingkan harga suatu barang dengan jenis barang yang sama di pasaran, lalu menukarnya dengan barang tidak sejenis yang telah terlebih dahulu diukur nilainya di waktu yang sama.

Bahaya

  1. Siksa Neraka

Dilarang di Ajaran Islam bukanlah tanpa alasan, mengingat riba ini sangat merugikan bagi salah satu pihak. Ancaman dari Islam sendiri tidaklah main-main, bahkan sangat mengerikan. Salah satu bahaya atau ancaman tersebut adalah siksa api neraka. Hal ini telah dijelaskan di berbagai hadis dan firman Allah Swt dalam kitab suci Al-Qur’an.

  • Retaknya Persaudaraan

Bahaya lainnya adalah dapat retaknya sebuah persaudaraan. Hal ini disebabkan oleh sifat riba itu sendiri, dimana sangat merugikan salah satu pihak. Apalagi jika bunga atau perbedaan nilai terlampau jauh, sehingga akan semakin membuat seseorang mengalami penderitaan.

Dalam Islam sendiri hal tersebut sangatlah tidak dianjurkan, bahkan di Islam kita diajarkan untuk membantu sesama dengan melakukan zakat, wakaf, ataupun melakukan sedekah. Bukannya membantu namun membuat seseorang semakin menderita dengan riba.

  • Bersifat Membinasakan

Menurut hadis riwayat Muslim menyebutkan “ Hindarilah tujuh hal yang membinasakan,…. melakukan riba”. Berdasarkan hadis tersebut dijelaskan bahwa salah satu hal yang dapat membinasakan adalah melakukan riba. Terutama bagi seseorang yang melakukan kegiatan keseharian yang mengandung riba, dimana ia akan mendapatkan balasan atas apa yang ia perbuat tersebut.

  • Hilangnya Keberkahan

Bahaya yang berikutnya adalah hilangnya keberkahan, dalam artian akan dihilangkan segala keberkahan atas apa yang dimilikinya. Hal ini tentu saja merupakan salah satu ancaman bagi orang yang melakukannya, dimana ia tidak akan mendapatkan keberkahan dan menghapuskan keberkahan dalam harta serta hidupnya di dunia.

  • Semua yang Berperan Berdosa

Terdapat sebuah Hadis Riwayat Imam Muslim menyebutkan bahwa “ Rasulullah Saw melaknat pemakan riba, juru tulis transaksi, dua orang saksi, semuanya sama yang berperan sama saja “.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa semua orang yang ada dalam struktur organisasi tersebut sama saja, dimana mereka juga ikut berperan terhadap kegiatan itu. Baik pemilik modal, karyawan, hingga orang-orang yang terlibat, karena pada dasarnya mereka sama saja dengan melakukan riba itu sendiri.

  • Dosa yang Besar

Dosa tentu saja merupakan salah satu bahaya atau ancaman bagi seseorang yang melakukannya. Berdasarkan hadis riwayat Ahmad menyebutkan “ Satu dirham saja yang dimakan oleh seseorang dari hasil tersebut, dan ia mengetahui bahwa hal itu berasal dari riba. Maka sebenarnya dosanya lebih besar dari pada perbuatan zina sebanyak 36 kali “.

Kita tahu bahwa zina merupakan salah satu dosa besar, dimana sangat dilarang oleh Islam. Namun dosa dari tindakan ini ternyata lebih besar lagi, hal ini dikarenakan merupakan perbuatan keji yang harus dihindari oleh umat muslim yang ada di dunia.

  • Menimbulkan Keburukan

Menimbulkan keburukan adalah bahaya yang selanjutnya, dimana keburukan tersebut disebarkan di sekitarnya. Hal ini bisa terjadi karena dosa tidak ditanggung oleh satu orang saja, namun semua pihak yang ikut dalam pelaksanaan atau kelancaran riba akan ikut menanggung dosa yang sangat besar tersebut.

Dengan demikian keburukan akan tersebar, walaupun seseorang hanya sedikit saja ikut di dalamnya tetap akan mendapat keburukan dan dosa. Hal ini juga telah dijelaskan pada hadis riwayat At Tirmidzi “ Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram akan layak untuk dibakar oleh api neraka “.

  • Doa Tidak Dikabulkan

Berdasarkan hadis riwayat Muslim menyebutkan “ Makanan dan minuman yang berasal dari haram, pakaian yang haram, dan di kenyangkan dengan yang haram. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Berdasarkan hadis tersebut riba bisa di golongkan sebagai salah satu hal yang haram, dan hal yang haram ini akan membuat doanya tidak terkabulkan. Sudah sepatutnya bagi kita umat muslim untuk meninggalkan kegiatan haram tersebut.

Cara Terhindar

  • Ketahui Jenis Riba

Menghindari riba adalah hal yang wajib kita lakukan sebagai umat muslim. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan mengetahui jenis-jenis riba itu sendiri. Dimana riba di golongkan menjadi dua yaitu utang piutang dan jual beli.

Untuk utang piutang dibedakan menjadi Qardh dan Jahiliyah, sedangkan untuk riba jual beli dibedakan menjadi Fadh dan Nasi’ah. Kita harus mempelajari jenis riba tersebut agar bisa terhindar dari kegiatan riba.

  • Ketahui Bahaya Riba

Bahaya serta ancaman riba sangatlah luar biasa, di dalam Islam sendiri banyak sekali bahaya dan ancaman bagi seseorang yang melakukannya. Dengan mengetahui bahaya tersebut, kita senantiasa akan menjauhi dan tidak akan melakukan kegiatan ini.

  • Belajar Jual Beli yang Benar

Jual beli ternyata juga bisa mengalami nya, dimana banyak orang yang sengaja maupun tidak sengaja melakukan nya dalam transaksi jual beli. Maka dari itu kita sebagai umat Islam wajib untuk belajar bagaimana jual beli yang baik dan benar, hal ini dilakukan agar kita bisa mengetahui jual beli yang benar dan dapat terhindar dari kegiatan riba yang sesungguhnya sangat merugikan bagi diri sendiri.

  • Menjual Barang Halal

Menjual barang yang halal juga termasuk menjadi tameng dalam transaksi riba. Dimana barang haram juga dapat membuat atau mendorong kita melakukannya. Dikarenakan.sudah terlanjur melakukan dosa maka kita akan memperbesar dosa dengan melakukannya . Maka dari itu usahakan untuk senantiasa menjual barang yang baik dan juga halal agar terhindar dari kegiatan tersebut.

  • Melakukan Transaksi yang Diperbolehkan

Memahami sebuah transaksi yang benar adalah kunci utama untuk terhindar dari riba jual beli. Dimana di dalam Islam telah menjelaskan tentang transaksi yang diperbolehkan, dan juga transaksi yang dilarang. Dimana di dalamnya ada unsur jual beli sesuai dengan takaran dan nilai ataupun jual beli yang tidak ditangguhkan dan tidak berubah nilainya dari waktu lalu sehingga tidak merugikan orang lain.

Riba di Indonesia

Riba adalah hal yang sangat dilarang oleh Islam, namun dalam kenyataan yang beredar masih banyak yang melakukan riba. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat riba yang sangat tinggi, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah umat muslim.

Di Indonesia terdapat banyak utang piutang yang berbunga, jual beli berbeda nilai dan takaran, serta banyak juga jual beli ditangguhkan yang melanggar syarat halalnya transaksi dalam Islam. Mayoritas penduduk Indonesia melakukan hal ini karena sudah terbiasa, atau menjadi kebiasaan yang sering dilakukan di masyarakat.

Seharusnya terdapat pemahaman dimana hal tersebut bisa dicegah, yaitu dengan memberi tahu bahwa yang mereka lakukan adalah riba dan dilarang oleh Allah Swt. Adapun yang melakukannya secara tidak disengaja dan dianggap lumrah dalam hal transaksi barang. Hal ini tentu saja sangat tidak dibenarkan dalam Ajaran Islam karena akan merugikan suatu pihak tertentu saja.

Dengan mengetahui segala jenis, bahaya, serta cara menghindarinya, diharapkan kita sebagai umat muslim untuk bisa menjauhi kegiatan yang mengandung riba. Baik kecil maupun besar riba tetaplah tidak dibenarkan oleh Islam, oleh karena itulah kita sebagai umat muslim harus sadar dan mulai menjauhi segala kegiatan yang mengandung riba baik itu kecil maupun besar.

Sekian pembahasan Riba, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.