Rukun haji menjadi hal pokok ketika berbicara tentang ibadah haji. Kita meyakini jika ibadah haji itu memiliki keistimewaan dibandingkan dengan jenis ibadah lainnya. Hal ini bisa terjadi dikarenakan memang pelaksanaan ibadah haji ini, membutuhka persiapan yang matang, dan juga berbagai persiapan lainnya baik itu harta, waktu dan kesehatan.


Pelaksanaan ibadah haji haruslah mengikuti alur ataupun tata cara, sesuai dengan rukun haji yang ada. Maka dari itu persiapan yang dibutuhkan pastilah akan sangat banyak, dan membutuhkan tenaga yang ekstra. Meskipun berat dan membutuhkan banyak hal, tetapi dampak dan keutaman yang bisa kita dapatkan sangat banyak sekali, ketika telah melakukan serangkaian rukun ibadah haji.

Pengertian Haji dan Rukun Haji

Pengertian Haji

Pengertian haji menurut harfiah merupakan sebuah kesengajaan melakukan sesuatu, untuk menjadikan ibadah lebih sempurna dan meyakini dengan sebenarnya, tentang ke esaan Allah SWT. Sedangkan menurut istilah, haji ialah keadaan dimana jiwa seorang insan manusia yang menaruhkan harapan hanya kepada Allah SWT, dan dengan ikhtiar mengunjungi kota Mekkah.
Tidak sekadar mengunjungi kota Mekkah saja, namun juga mentaati segala urutan atau tahapan dalam melaksanakan ibadah haji tersebut. Sehingga kesimpulannya ialah dalam melaksanakan ibadah haji ini, memang dikarenakan adanya kesengajaan dan paksaan dari jiwa seorang insan manusia. Dan pelaksanaannya dilakukan dengan mengikuti alur dan tata cara secara syariah.

Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji dan Rukun Haji

Pelaksanaan ibadah haji ditentukan sesuai penanggalan islam, dan tidak bisa dilakukan secara asal. Inilah yang dinamakan ibadah agung, yaitu ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat di dunia dan pada satu tempat yaitu Mekkah al mukarromah. Bulan haji dimulai dari syawal sampai pada 10 hari pada bulan dzulhijjah.

Pada bulan ini layaknya ibadah romadhon, yang mana hanya dilakukan setahun sekali. Begitupun haji hanya dilakukan pada 1 bulan saja, dan itu dilakukan serentak oleh seluruh umat manusia di dunia. Dan pada pelaksanaannya pun, mengikuti syariah dan tidak adanya perbedaan. Sehingga tata cara sesuai dengan rukun haji yang telah ditetapkan dari ihram, wukuf, thawaf, sa’i, tahallul dan tertib.

Hukum Pelaksanaan Ibadah Haji

Hukum Pelaksanaan Ibadah Haji

Hukum ibadah haji yaitu wajib bagi seluruh insan manusia muslim, bagi yang mampu. Maksud mampu di sini ialah mampu dalam segi pemberangkatan, dan juga mampu melaksanakan untuk bisa melakukan urutan rukun serta tata cara lainnya. Sehingga tidak menjadikan ketika berada di tanah suci Mekkah menjadi mubazir.
Mampu melaksanakan ibadah haji bukan saja dikarenakan harta dan umur. Melainkan karena memang telah mendapatkan panggilan dari Allah SWT, untuk bisa hadir dan bepergian menuju Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Jadi patokan dari ibadah haji bukanlah dari harta, namun dari panggilan dari Allah SWT, maka kita akan mendapatkan kemampuan untuk bisa hadir ke Mekkah.

Syarat Haji

  • Islam

Syarat yang harus terpenuhi dan tidak boleh ditawar yaitu, ialah bagi seorang pelaksana ibadah haji beragama islam. Bagaimana mungkin orang yang non muslim datang dan menginjakkan kakinya di dalam masjidil haram. Maka dari itu, wajib bagi jamaah haji untuk beragama islam.

Ketika seorang non muslim hendak berkenan untuk melaksanakan ibadah haji, masih bisa dan salah satu solusinya ialah bersyahadat terlebih dahulu. Karena memang ibadah haji ini merupakan salah satu ibadah agung, sehingga tidak ada tawaran ataupun kelonggaran dalam pelaksanaannya. Sehingga harus sesuai dengan tata cara sesuai syariah islam.

  • Baligh Atau Dewasa

Memiliki pemikiran tentang baik buruknya sebuah perilaku memang sangatlah penting. Karena begitu detailnya ibadah haji ini, maka haruslah sebagai seorang jamaah ibadah haji, haruslah memiliki pemikiran yang sudah baligh dan memahami sepenuhnya tentang urutan dan tata cara melaksanakan, baik wajib maupun rukun haji secara runtut dan benar.

Ibadah haji ini memiliki banyak sekali aturan yang menjadikan ibadah ini semakin tidak mudah dilakukan, oleh orang yang memang belum baligh. Oleh karena itu, sebelum anda mengajak anak anda ada baiknya untuk mempersiapkan diri anak tersebut ketika besar kelak, untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Dan jangan memaksakan untuk mengajak ibadah haji sebelum baligh.

  • Aqil Atau Berakal Sehat

Hal terpenting dari sebuah ibadah ialah memiliki akal yang sehat, sehingga dalam pelaksanaannya maka akan bisa berjalan secara semestinya. Bagaimana mungkin orang yang terganggu akalnya akan mampu melakukan urutan rukun haji secara baik dan benar. Maka pemeriksaan kesehatan pastilah dilakukan oleh pihak panitia haji.

Persiapan ibadah haji ini termasuk ke persiapan yang memang harus matang dan tidak asalan. Kita ketahui ibadah yang dilakukan di tempat yang jauh dari negara Indonesia, dan juga dengan cuaca yang sangat berbeda pula, maka haruslah mengutamakan kesehatan dan utamanya ialah yang tidak terganggu akalnya. Maka ketika hal ini tidak terjadi pastilah haji pun berjalan lancar.

  • Merdeka Atau Bukan Hamba Sahaya

Bagi jamaah haji senantiasa pula memiliki cadangan harta untuk bisa dipergunakan, untuk kebutuhan bagi keluarga yang ditinggal. Bagaimana tidak ketika seorang jamaah dan sebagai kepala keluarga bepergian ke Mekkah, dengan waktu 1 bulan lamanya dan tidak meninggali biaya hidup untuk keluarga, maka pastilah hal ini tidak diperkenankan.

Oleh karena itu, bagi para jamaah ibadah haji senantiasa harus mampu dalam hal harta untuk keluarga yang ditinggal, dan juga biaya untuk bisa berangkat ke Mekkah al mukarromah. Ibadah dan sosial tetap harus terjaga, sehingga tidak ada yang didzolimi. Maka kenapa haji diwajibkan bagi yang mampu karena memang harus memenuhi harta dan biaya hidup keluarga yang ditinggal.

  • Isthitha’ah  Atau Mampu

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji, sejatinya haruslah memiliki kemampuan baik secara jasmani maupun rohani. Ketika dua hal tersebut telah terpenuhi, maka pastilah ibadah haji akan bisa terlaksana secara lancar dan tidak ada hambatan sedikitpun.

Bagaimana mungkin ketika melakukan ibadah haji namun tidak memiliki pikiran yang sehat, dan bagaimana mungkin ketika ingin melaksanakan ibadah haji namun tidak memiliki bekal yang cukup. Oleh karena itu, persiapan haji ini perlulah dilakukan secara jangka  panjang agar bisa berjalan secara lancar baik ketika berada di Mekkah maupun yang ada di rumah.

Tipe – Tipe Rukun Haji

  • Ihram

Apapun ibadahnya maka haruslah menggunakan sebuah niat sebagai awalan, untuk bisa mengawali sebuah ibadah. Ketika tidak ada niat dalam hati maka tidak akan mampu meningkatkan ghiroh dalam beribadah. Oleh karena itu, ketika anda melaksanakan ibadah haji perlulah pula untuk bisa melakukan niat sebagai sah nya sebuah ibadah haji.

Menjadi hal penting ketika sedang melakukan ibadah melakukan niat, baik lisan maupun dalam hati. Ketika hati ini telah tertata secara baik dan rapi, maka akan menghadirkan semangat dalam menjalankan segala aturan dan tuntunan secara syariah. Namun ketika tidak ada niat dalam diri seseorang yang melaksanakan ibadah, maka tidak akan bisa maksimal.

  • Wukuf Di Arafah

Di padang arafah para jamaah akan melaksanakan ibadah sebagai pemenuhan dan penertiban rukun haji. Yang mana ibadah ini dimaksudkan sebagai perwujudan untuk lebih mengingatkan hambanya kepada Allah SWT. Di tempat ini para jamaah akan berdiam diri untuk berdzikir, berdoa, dan mengingat akan kesalahan yang telah dilakukan.

Pelaksanaan wukuf ini dilaksanakan pada 9 dzulhijjah, kegiatan yang dilakukan oleh para jamaah haji tidak sekadar berdiam diri dan berdzikir saja, melainkan juga sebagi pengingat tentang hal yang harus dilakukan karena pada hakekatnya, keduniawian ini akan terus membuat pikiran terus dan selalu lupa akan dunia akhirat.

Oleh karena itu, rukun haji yang satu ini akan kembali membuka pintu hati ketika hati telah terasa keras, untuk bisa kembali merangsang kepada pikiran untuk bisa melakukan ibadah hanya kepada Allah SWT secara istiqomah.

  • Tawaf

Mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali menjadi rangkaian tawaf. Hal ini dilakukan dengan mengenakan pakain ihram, yang dilakukan oleh seluruh jamaah haji di Mekkah al mukarromah. Melakukan tawaf ini diwajibkan bagi seluruh jamaah haji, ketika tidak mampu melaksanakannya maka bisa dilakukan dengan menggunakan kursi roda.

Adapun beberapa kendala bagi orang yang memang mengalami kesakitan pada beberapa rukun haji sebelum tawaf, maka dari pihak panitia penyelenggara memberikan tempat khusus untuk bisa melaksanakan tawaf. Begitu pentingnya tawaf ini, hingga harus dilakukan oleh seorang jamaah haji agar menjadi seorang haji yang sah.

Pelaksanaan dari rukun tawaf ini yaitu pada tanggal 10 dzulhijjah. Pada rukun haji ini memang haruslah dilakukan pada moment yang sesuai, sehingga memang haruslah melakukan seluruh rangkaian ibadah ini dengan tenaga yang maksimal hingga membuat banyak orang yang mengalami kelelahan. Maka persiapkanlah jasmani dan rohani ketika haji.

  • Sa’i

Pelaksanaan ibadah selanjutnya pada rukun haji yaitu sa’i atau yang biasa kita ketahui, berjalan atau berlari-lari kecil dari bukit sofa ke bukit marwah. Hal ini sebagai pengingat dan penanda bagi para jamaah haji, dan juga para pemirsa aktifitas haji yang bisa langsung memahami dan mengetahui maksud serta intisari dari sebuah perjalanan tersebut.

Sa’i ini menceritakan tentang perjalanan seorang hamba Allah SWT yang beriman. Ialah istri dari nabi Ibrahim yang bersama ismail ketika tidak ada penghidupan berupa bahan pangan. Namun dari keyakinan diri, percaya akan kekuasaan Allah SWT dan berikhtiar mencari seteguk air, dan melakukan perjalanan dengan berlari dari bukit sofa ke bukit marwah.

Pada perjalanan tersebut menghasilkan sebuah kasih sayang Allah SWT, berupa munculnya air dari samping bayi mungil dan imut yaitu pada bagian samping tubuh nabi Ismail, yang hingga kini menjadi sumber air terbesar di kota yang terkenal tandus itu. dan kini menjadi rukun haji yang wajib dilakukan oleh seorang jamaah haji.

  • Tahallul

Selesai menunaikan rukun haji sa’i, maka rukun selanjutnya yaitu tahallul yaitu sebagai perwujudan pembersihan jasmani berupa mencukur seluruh rambut yang ada pada tubuh. Sehingga bersih baik jasmani maupun rohani. Rukun haji ini juga memiliki makna dan tujuan yang mendalam, hingga ketika ditelaah secara lebih rinci lagi maka menyimpan segudang makna.

  • Tertib

Serangkaian rukun haji telah dilakukan secara baik dan benar tanpa adanya keterlambatan dan runtut. Maka akan menjadikan haji tersebut menjadi haji yang mabrur dan sah. Sehingga harapannya setelah melakukan ibadah haji selama kurang lebih satu bulan, bisa tetap istiqomah dan tetap di jalan Allah SWT.

Wajib Haji

  • Ihram dari miqat

Ihram dari miqat ini dapat diartikan sebagai batasan waktu yang dilakukan oleh seorang jamaah haji, yang akan melaksanakan ibadah haji. Pada seluruh rangkaian rukun haji senantiasa memiliki batasan waktu, sehingga akan bisa melaksanakan seluruh rangkaian rukun haji.

Ketika seorang haji tidak dapat mengetahui dan memahami sebuah rangkaian rukun haji, maka akan kebingungan melaksanakan ibadah haji nya. Oleh karena itu, saat ini telah terdapat banyak panitia penyelenggara haji yang akan membantu demi terlangsungnya sebuah haji yang lancar dan baik, secara urutan rukun dan wajib haji.

  • Mabit di muzdalifah

Pelaksanaan mabit di muzdalifah ini dilakukan ketika para jamaah melakukan rukun wukuf di arafah pada siang hari, maka pastilah akan melakukan mabit di muzdalifah. Memang pelaksanaan wukuf ini terbagi 2 kali, yaitu pada pagi hari dan juga siang hari. Ketika pelaksanaannya dilakukan pada siang hari, maka pastilah harus menginap di muzdalifah.

Namun meskipun demikian, rangkaian acara ini telah dikonsep oleh nabi Muhammad SAW sejak dahulu, dan mengetahui tentang keadaan yang akan datang seperti sekarang ini. Maka bisa menjadi bahan merenung dan muhasabah diri, jika pelaksanaan mabit di muzdalifah ini memiliki arti dan makna yang penting bagi jamaah haji.

  • Mabit di mina

Mabit di mina ini dilaksanakan pada hari tasyriq, yaitu dari tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijjah. Pelaksanaan ini pun juga diberikan kepada para jamaah untuk tak henti-henti nya memohon ampun kepada Allah SWT, dan senantiasa muhasabah diri atas apa yang telah dilakukan sebelumnya.

Memang pada umumnya pelaksanaan ibadah haji ini senantiasa dilakukan dengan penuh keyakinan, bahwa akan memberikan pahala yang sangat luar biasa. Sehingga bagaimanapun keadaannya, pastilah bibir dan hati ini akan selalu berdzikir dan berdoa memohon ampun kepada Allah SWT.

  • Melontar jumrah ula, wustha dan aqobah

Makna penting dari sebuah pelaksanaan pelemparan jumrah ini, sebagai perwujudan perlawanan seorang hamba Allah SWT yang beriman yaitu nabi Ibrahim as. Yang pada waktu itu digoda oleh syaiton, untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Namun nabi Ibrahim as tetap istiqomah menjalankan perintah Allah SWT, berupa menyembelih putranya yaitu ismail.

Dengan melempar batu yang ditujukan kepada syaithon, dan dari sinilah bermula pelemparan jumroh ini dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan terhadap syaithon yang senantiasa mengganggu, dan menggoda diri manusia dari godaan syaithon terlaknat.

  • Tawaf wada’

Rangkaian terakhir dari ibadah haji yaitu tawaf wada’, yang mana tawaf ini sebagai penutup dari ibadah haji dengan mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Dan tawaf ini wajib dilakukan oleh seluruh jamaah yang melaksanakan ibadah haji.

Macam – macam haji

  1. Haji tamattu
    Pelaksanaan haji tamattu ini dapat diartikan sebagai salah satu ibadah dengan mendahulukan ibadah umrah terlebih dahulu, barulah melaksanakan ibadah haji.
  2. Haji ifrad
    Pelaksanaan haji ifrad ini dapat diartikan sebagai salah satu ibadah dengan terlebih dahulu melaksanakan ibadah haji, barulah setelah itu melaksanakan ibadah umrah.
  3. Haji qiran
    Pelaksanaan haji qiran ini yaitu melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan, dan cukup hanya diselingi dengan tahallul atau mencukur rambut.

Sekian pembahasan Rukun Haji, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.