Sholat gerhana seperti namanya, dilakukan di salah satu fenomena alam yang jarang terjadi yaitu terjadinya gerhana. Islam sebagai agama yang mengatur segala perilaku manusia pun menganjurkan untuk melakukan sholat gerhana. Sholat gerhana dilakukan apabila sedang menyaksikan langsung peristiwa gerhana. Apabila anda sedang berada di wilayah yang tidak tampak gerhana, maka anda tidak perlu untuk melakukan sholat ini.

Apabila anda masih bingung apakah harus sholat atau tidak, maka acuan yang dipakai adalah ru’yah, yaitu menyaksikan secara langsung. Walaupun analisa dari ahli falak atau astronomi mengatakan ada gerhana tapi tidak melihatnya, maka tidak perlu melaksanakan sholat gerhana. Berikut beberapa hal tentang sholat gerhana. Anjuran ini sebaiknya dilakukan apabila anda meyaksikan gerhana.

Dalil tentang Sholat Gerhana

dalil tentang sholat gerhana

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya matahari dan bulan, merupakan dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana, karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Namun Allah lah yang menciptakan peristiwa gerhana matahari dan bulan itu. Karena itu, jika kalian melihat gerhana, segeralah lakukan shalat(Muttafaqun ‘ alaihi).

Rasullah SAW mengaitkan perintah sholat gerhana dengan cara ru’yah, bukan dengan kabar ahli astronomi atau ilmu falak. Sebab kabar dari mereka hanya perkiraan, bisa tepat dan bisa juga meleset. Sehingga, tidak dijadikan sebagai acuan untuk sholat gerhana jika hanya berpedoman kepada hasil analisa tersebut.

Begitupun penjelasan dari Syaikhul Ibnu ‘Ustaimin rahimahullah yang menjelaskan bahwa “Bila para ahli falak mengabarkan, bahwa akan terjadi gerhana matahari atau bulan, maka kita tidak shalat gerhana kecuali setelah menyaksikan dengan penglihatan normal.

Adapun apabila Allah memberikan nikmat lebih, yaitu ketika di daerah kita tidak terlihat gerhana kecuali dengan menggunakan teropong, maka kita pun tidak diperintahkan untuk sholat (Syarah al Mumti, 5/180). Ini berarti bahwa analisa dari para ahli tidak berdampak pada hukum syari’at. Sholatlah apabila menyaksikan gerhana secara langsung (ru’yah).

Rahasia di Balik Sholat Gerhana

rahasia dibalik sholat gerhana

Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al Anshary :

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah menjadikan keduanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Dan sungguh tidaklah keduanya terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seorang manusia pun. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka sholatlah dan berdo’alah kepada Allah sehingga gerhana tersebut hilang dari kalian” (HR. Bukhari no. 1041, Muslim no. 911)

Hadist selanjutnya yaitu dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu :

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadinya hari kiamat, sehingga Beliau mendatangi masjid kemudian shalat dengan berdiri, ruku’, dan sujud yang begitu lama. Aku belum pernah melihat Beliau melakukan shalat sedemikian itu. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda : Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya, gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Tetapi Allah menjadikan yang demikian untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampunan kepada Allah ta’ala (HR. Bukhori no. 1059, Muslim no. 912).

Adanya fenomena gerhana menjadikan manusia lebih ingat kepada Allah. Salah satunya dengan bertafakur. Membayangkan bahwa bagaimana jika gerhana menjadi awal atau tanda-tanda kiamat yang akan dialami. Petuah dari Nabi Muhammad SAW sangat tertanam pada diri para sahabat. Ada rasa khawatir bahwa munculnya gerhana bisa menjadi sebuah peringatan turunnya bala dari Allah SWT. Berdzikir, berdo’a, dan memohon ampunan kepada Allah agar kemungkinan terburuk tidak menimpa diri.

Namun, tidak jarang saat ini ditemukan bahwa ketika muncul gerhana, hanya fenomena alam yang menjadi fokus utama. Seringkali rasa senang terhadap munculnya peristiwa ini lebih kuat dari pada rasa khawatir. Mengabadikan momen dengan kamera justru dianggap lebih urgent dibandingkan melaksanakan sholat gerhana dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. Sesungguhnya ini merupakan tanda hati yang keras. Rasa takut akan kiamat dan akhirat tidak tertanam dalam jiwa.

Rasulullah dan para sahabat dulu merasa khawatir. Apabila gerhana menjadi pertanda kiamat, maka mereka mengakhiri hidupnya dalam ketaatan kepada Allah SWT dengan mengerjakan sholat. Apabila tidak, sholat pun tidak membuat rugi, sebab pahala yang besar dijanjikan untuk orang-orang yang beribadah. Bahkan menjadikan mereka termasuk ke dalam golongan yang takut kepada Allah.

Hukum Sholat Gerhana

Ada dua jenis gerhana, yaitu gerhana matahari dan gerhana bulan. Para ulama sepakat bahwa hukum di antara keduanya berbeda.

  • Gerhana Matahari

Para ulama menyatakan bahwa hukum sholat gerhana matahari bersifat sunnah muakkadah, kecuali mazhab Al-Hanafiah. Menurut mazhab ini, sholat gerhana matahari hukumnya wajib.

  • Gerhana Bulan

Saat terjadi gerhana bulan, ada perbedaan pendapat antara para ulama. Menurut mazhab Al-Hanafiyah, sholat gerhana bulan hukumnya hasanah. Menurut Mazhab Al-Malikiyah, hukum sholat gerhana bulan adalah mandubah. Sedangkan menurut mazhab As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, sholat gerhana bulan hukumnya sunnah muakkadah.

Pelaksanaan Sholat Gerhana

  • Berjamaah

Sholat gerhana dilakukan dengan cara berjamaah. Pelaksanaan sholat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh cara Rasulullah melaksanakan sholat gerhana sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sebelumnya.

Namun, menurut Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yakni sholat gerhana yang dilakukan secara berjamaan bukan merupakan syarat. Apabila seseorang sedang berada di rumah, ia tetap boleh mengerjakaan sholat gerhana di rumah. Hal ini berdasarkan HR. Bukhari no. 1043 bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah.”. Beliau tidak mengatakan bahwa harus sholat di masjid. Sehingga, ini menunjukkan bahwa perintah sholat gerhana tetap dilakukan walaupun tidak dilaksanakan secara berjamaah.

Harus diketahui juga bahwa melaksanakan sholat gerhana dengan cara berjamaah lebih utama. Lebih utama apabila melaksanakannya di masjid, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajak para sahabat untuk melaksanakan sholat di masjid. Sebab akan menambah khusuknya sholat. Do’a juga terkabul sebab banyaknya jamaah.

  • Wanita boleh melaksanakan sholat bersama pria dengan berjamaah

Hal ini dari HR. Bukhari no. 1053 yakni Asma’ bintin Abi Bakr yang pernah berkata bahwa “saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.”

Dalam hal ini, dari bukhari : “Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”. Ibnu Hajar pun berkata bahwa judul bab ini merupakan sanggahan bagi orang yang tidak membolehkan wanita melaksanakan sholat gerhana bersama pria. Dapat disimpulkan bahwa wanita boleh melaksanakan sholat gerhana bersama di masjid. Namun, jika khawatir akan membawa fitnah, sebaiknya wanita melaksanakan sholat sendiri di rumah.

  • Tanpa adzan dan iqamat serta menyeru jamaah

Sholat gerhana tidak diawali dengan adzan ataupun iqamat. Namun ada lafal yang disunnahkan untuk menyeru jamaah yaitu dengan “Ash sholatu jaami’ah”. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadist riwayat Bukhari yang berbunyi : “Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-Shalatu Jamiah”

  • Sirr dan Jahr

Sholat gerhana juga bisa dilakukan dengan sirr atau merendahkan suara maupun dengan jahr yaitu mengeraskan suara.

  • Mandi

Sebelum melaksanakan sholat gerhana, disunnahkan untuk melakukan mandi sunnah. Hal ini karena sholat gerhana disunnahkan untuk dilakukan secara berjamaah.

  • Khutbah

Ada tidaknya khutbah yang dilakukan pada sholat gerhana, dijelaskan oleh dua pendapat yang berbeda.

  • Disyariatkan untuk Berkhutbah. Menurut pendapat As-Syafi’iyah, penyampaian khutbah pada pelaksanaan sholat gerhana diyari’atkan. Layaknya khutbah saat melaksanakan idul Fitri maupun idul Adha, serta saat sholat Jum’at.

Seperti yang diriwayatkan oleh hadist ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang artinya : “Dari Aisyah ra berkata,”Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim).

Dalam khutbah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk melakukan kebaikan, yaitu dengan berdo’a, istighfat atau minta ampun, dan bersedekah.

  • Tidak Disyari’atkan untuk Berkhutbah. Al-Malikiyah menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan shalat gerhana disunnahkan untuk memberikan peringatan kepada para jamaah, namun tidak dalam bentuk khutbah formal layaknya berada di mimbar. Begitupula dengan Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah, keduanya tidak mengatakan bahwa ada khutbah dalam pelaksanaan sholat gerhana. Sebab Rasulullah SAW hanya sekedar memberikan penjelasan setelah melakukan sholat gerhana.

Pendapat ini diambil berdasarkan sabda Rasulullah yang berbunyi “Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah sholat dan berdo’alah” (HR. Bukhari Muslim)

  • Banyak Berdo’a, Berdzikir, Takbir, dan Sedekah.

Seperti yang dijelaskan oleh HR. Bukhari dan Muslim yaitu “Apabila kamu menyaksikannya maka berdo’alah kepada Allah, bertakbir, sholat, dan bersedekah”. Maka, jelas bahwa ada amalan lain yang seharusnya dilakukan selain sholat.

Hal ini juga diperkuat oleh HR. Bukhari no. 1044 yakni dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang matahari dan bulan yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allag. Bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Apabila melihat hal tersebut, hendaknya berdo’a kepada Allah. Kemudian bertakbir dan mengerjakan sholat, serta bersedekah.

Niat Sholat Gerhana

  1. Gerhana Matahari

“Ushallii Sunnatal Kusuufis-Syamsi Rak’ataini Lillati Ta’alaa”.

Artinya : “Saya niat (melaksanakan) sholat sunnah gerhana matahari dua rakaat karena Allah ta’ala.”

  • Gerhana Bulan

“Ushallii Sunnatal Khusuufil-Qomari Rak’ataini Lillahi Ta’alaa”.

Artinya : “Saya niat (melaksanakan) sholat gerhana bulan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Gerhana

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca do’a iftitah kemudian berta’awudz
  3. Membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat yang panjang
  4. Ruku’ dan memanjangkan ruku’
  5. I’tidal atau bangkit dari ruku’ sambil mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd”
  6. Tidak langsung sujud. Kembali membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan dengan surat panjang. Berdiri kedua lebih singkat dari yang pertama
  7. Ruku’ kembali. Ruku’ kedua ini lebih pendek dari ruku’ pertama
  8. Bangkit dari ruku’ sambil mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd”. Selanjutnya berhenti dengan lama
  9. Melakukan sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kembali. Memanjangkan gerakan tersebut.
  10. Bangkit dari sujud dan melakukan raka’at kedua seperti pada raka’at pertama. Bacaan dan gerakan lebih singkat.
  11. Tasyahud
  12. Salam

Adapun dalil yang menerangkan tentang tata cara sholat gerhana yaitu berdasarkan hadist dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Terjadi gerhana matahari pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, kemudian Beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan sholat, dan para sahabat berdiri di belakang Beliau membuat barisan shof sholat, lalu Beliau bertakbir dan membaca surat yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu bangun dan mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian bangkit dari ruku’ dan tidak dilanjutkan dengan sujud, lalu membaca lagi dengan surat yang panjang yang bacaannya lebih singkat dari bacaan yang pertama tadi. Kemudian bertakbir, lantas ruku’ sambil memanjangkannya, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Lalu mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian sujud. Beliau melakukan pada raka’at yang terakhir seperti itu pula maka sempurnalah empat kali ruku’ pada empat kali sujud” (HR. Bukhori no. 1046, Muslim no. 2129).

Tata Cara Teknis Sholat Gerhana

Sebelum melakukan sholat gerhana, berikut teknis sholat gerhana berdasarkan nash-nash syar’i :

  • Sholat Dua Rakaat

Sholat gerhana terdiri dari dua rakaat. Setiap rakaat terdiri dari gerakan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Qur’an, 2 ruku’, dan 2 sujud. Hal tersebut didasarkan oleh sebuah hadist yang berbunyi : Dari Abdullah bin Amru berkata,”Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat “As-shalatu jamiah”. Nabi melakukan 2 ruku’ dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku’ untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,”Belum pernah aku sujud dan ruku’ yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Membaca ayat Al-Qur’an

Sholat gerhana termasuk shalat sunnah dengan durasi yang cukup lama, karena gerakannya lebih panjang dan pemilihan surat dalam Ayat Al-Qur’an yang panjang. Hal tersebut berdasarkan sebuah hadist yang berbunyi :

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku’ cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku’ lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku’ yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim).

Membaca surat panjang pada rakaat pertama dan berdiri pertama lebih diutamakan. Misalnya surat Al-Baqarah seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Begitu pula dengan berdiri kedua. Membaca surat dengan kadar 200 ayat, seperti surat Ali Imran.

  • Melakukan Ruku’ dan Sujud Lebih Lama

Memanjangkan ruku’ sangat disunnahkan, yaitu dengan bertasbih kepada Allah SWT. Hal ini berlaku untuk 2 ruku’ pada rakaat pertama, maupun 2 ruku’ pada rakaat selanjutnya. Panjangnya ruku’ dan sujud pertama pada rakaat pertama bisa diibaratkan dengan membaca 100 ayat surat Al-Baqarah. Sedangkan panjangnya ruku’ dan sujud kedua pada rakaat pertama seperti membaca 80 ayat surat Al-Baqarah. Lain lagi dengan rakaat kedua. Panjangnya ruku’ dan sujud pertama pada rakaat kedua seputar 70 ayat Al-Baqarah. Sedangkan panjangnya ruku’ dan sujud kedua pada rakaat kedua sekitar 50 ayat yang dibaca.

Hal ini berdasarkan hadist yang shahih dan telah disepakati ulama. Hadist tersebut berbunyi : Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana. Beliau berdiri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku’ sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku’ lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku’ panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila Meninggalkan Sholat Gerhana dengan Sengaja

Sholat gerhana, baik karena terjadi gerhana matahari ataupun gerhana bulan, hukumnya adalah sunnah. Tidak berdosa jika ada yang tidak melaksanakannya, meskipun secara sengaja. Sebab tidak meninggalkan amalan yang kuhumnya adalah wajib. Hal tersebut berdasarkan fatwa nomor 43206.

Namun, apabila menyepelekan dan meninggalkan secara terus menerus tanpa ada udzur atau kepentingan syar’i, ini akan menandakan hal lain. Pertanda bahwa diri yang kurang berhasrat untuk meningkatkan iman dengan cara mengincar dan melaksanakan amalan-amalan baik. Padahal tugas diri harusnya senantiasa meningkatkan iman dan taqwa terhadap apapun peristiwa yang terjadi.

Sebagaimana dijelaskan pada ensiklopedia hati yang disusun oleh Muhammad bin Ibrahim bin Abdulloh at Tuwaijiri. Adapun dari kutipan tersebut disebutkan bahwa “Apabila iman naik, maka akan mudah seorang melakukan amalan-amalan ketaatan. Bila iman turun, maka melemahlah semangatnya untuk melakukan ketaatan, ia akan berhasrat untuk melakukan kemaksiatan. Maka, setiap amalan ketaatan, akan menambah iman. Dan setiap maksiat, akan melemahkan iman. Setiap amal kebajikan akan menambah cahaya dalam hati. Dan setiap kemaksiatan akan menambah kegelapan hati.”

Sekian pembahasan Sholat Gerhana, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.