Sholat Jama mungkin jarang terdengar bagi sebagian orang, seperti sholat pada umumnya, sholat merupakan suatu kewajiban yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim. Setiap muslim yang sudah baligh dan berakal sehat, baik laki-laki maupun perempuan sangat dianjurkan melaksanakan ibadah sholat tanpa terkecuali. Hal ini berkaitan erat dalam membangun kokohnya iman pada diri seorang muslim.

Begitu pentingnya sholat, sampai Allah memerintahkan langsung untuk menggantinya dalam keadaan-keadaan tertentu seperti sakit bahkan ketika dalam perjalanan jauh. Dalam hal ini, Allah memberikan keringanan dalam pelaksanaan sholat dengan cara meringkas dua waktu sholat secara bersamaan (menjama sholat).

Pengertian Sholat Jama

Pengertian Sholat Jama

Sholat jama merupakan ringkasan dua waktu sholat yang dilaksanakan dalam satu waktu. Namun sholat jama hanya berlaku untuk sholat zuhur, ashar, maghrib, isya, dan tidak berlaku untuk sholat subuh. Hukum mengerjakan sholat jama adalah mubbah, di mana sholat ini diperbolehkan hanya untuk keadaan-keadaan tertentu saja.

  ٱلْكَٰفِرِينَ 
إِنَّ ۚ  كَفَرُوٓا۟ ٱلَّذِينَ  يَفْتِنَكُمُ 
أَن  خِفْتُمْ  إِنْ   ٱلصَّلَوٰةِ
مِنَ  تَقْصُرُوا۟ أَن  حٌ  جُنَا  عَلَيْكُمْ  
فَلَيْسَ رْضِ ٱلْأَ  فِى بْتُمْ ضَرَوَإِذَا

 مُّبِينًا 
وًّا  عَدُ  لَكُمْ كَانُوا۟

Artinya: “Dan apabila
kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar
sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya
orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (An-Nisa’ 4:101)

Sehingga sholat jama
dapat diartikan sebagai bentuk keringanan (rukhsah) serta kemudahan untuk
melaksanakan sholat. Akan tetapi, sholat jama hanya boleh dikerjakan jika memenuhi
syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  1. Seorang musafir atau seseorang yang berada
    dalam perjalanan jauh. Perjalanan yang ditempuh kira – kira mencapai 81 km
    berdasarkan kesepakatan para ulama.
  2. Perjalanan yang ditempuh bukan untuk perbuatan
    maksiat, melainkan untuk keperluan lain yang masih berada di jalan Allah.
  3. Seseorang yang berada dalam situasi tertentu
    misalnya, sakit, hujan lebat, angin kencang, bencana alam, serta ketakutan dan
    juga hal – hal lain yang masih bisa terbilang relevan.

Hal ini
dijelaskan dalam hadist sebagai berikut:

Dari Ibnu Abbas ra, dia
berkata: “Rasulullah menjamak sholat Zuhur dan Ashar serta sholat maghrib dan
Isya di Madinah tanpa adanya rasa takut dan tidak juga hujan dan dalam hadist
Waki berkata: “Saya bertanya Ibnu Abbas, kenapa beliau demikian itu?” Dia
menjawab: “Agar umatnya tidak merasa berat” (HR. Muslim)

Berikut hadist lain yang menjelaskan terkait sholat jama:

 الحضر .صلاة 
وأتمت السفر صلاة فأقرت ركعتين  فرضت  ما أول الصلاة

Artinya: “Ketika sholat
pertama kali diwajibkan adalah dua rakaat, lalu dua rakaat tersebut ditetapkan
sebagai sholat safar, dan disempurnakan (menjadi empat rakaat) untuk sholat
orang yang sedang muqim.” (HR Bukhari dan Muslim).

Melakukan sholat jama tentunya juga ada ketentuan dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Adapun sholat yang bisa di jama adalah zuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya. Selain itu, pengerjaan sholat tidak bisa dilakukan dengan cara jama.Seperti halnya melakukan jama pada sholat subuh dan zuhur, hal ini tidak diperbolehkan karena sholat subuh tidak bisa dijama dengan alasan apapun.

Kemudian, sholat subuh
tidak diperbolehkan dijama dengan sholat apapun. Menjama sholat subuh dan juga
isya tidak diperbolehkan, begitu pula dengan menjama sholat ashar dan juga
sholat magrib. Hal ini dijelaskan dalam hadis Anas bin Malik, bahwasanya
terkait adanya orang yang menjamin lima sholat wajib sekaligus pada saat yang
sama adalah perbuatan yang tidak dibenarkan.

Syarat Sah Melakukan Sholat Jama

Syarat Sah Melakukan Sholat Jama
  1. Bersuci untuk menghilangkan hadast kecil atau besar dan
    segala hal lain yang bertujuan untuk menghilangkan najis.
  2. Melakukan sholat dengan menutup aurat sebagaimana
    mestinya.
  3. Melakukan sholat dan menghadap kiblat.
  4. Melakukan semua rukun sholat fardhu seperti ketentuan da
    pada umumnya.
  5. Membaca niat sholat jama.
  6. Melakukan sholat jama dengan cara bersamaan dan berurutan
    tanpa dijeda dengan aktivitas serta hal-hal lain. Sehingga, setelah melakukan
    salam pada sholat yang pertama dianjurkan untuk langsung berdiri tanpa
    berbicara dan langsung melanjutkan ke sholat yang kedua.

Contoh Pelaksanaan Sholat

Ketika seseorang dalam suatu perjalanan jauh dan kemudian tidak bisa
melakukan sholat maghrib, maka orang tersebut bisa melakukan sholat maghrib di
waktu sholat isya. Artinya, setelah memasuki sholat isya orang tersebut lebih
dahulu melaksanakan sholat maghrib kemudian dilanjutkan dengan sholat isya.

Pembagian Sholat Jama

Pelaksanaan sholat jama bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
menggunakan jama taqdim dan jama ta’khir.

  • Jama Taqdim

Melaksanakan dua waktu sholat yang diringkas menjadi satu waktu, di mana
pelaksanaannya dilakukan di awal waktu sholat. Contoh: Menjamak sholat maghrib
dan juga isya yang dilakukan di waktu sholat maghrib.

Jama taqdim dilakukan untuk meringkas dua sholat fardhu dalam satu waktu
pada sholat yang pertama. Seperti contoh berikut ini:

  • Melakukan
    sholat zuhur dan sholat ashar yang di kerjakan di waktu sholat zuhur.
  • Melakukan
    sholat maghrib dan sholat isya yang dikerjakan di waktu sholat maghrib.
  • Niat sholat jama taqdim

Menjamak sholat zuhur dan juga ashar yang dilakukan di waktu
sholat zuhur dengan melafadzkan niat sebagai berikut: “Aku niat sholat fardhu
zuhur empat rakaat di jama bersama ashar dengan jama taqdim fardhu karena Allah
Ta’alla.”

Menjamak sholat maghrib dan juga isya yang dilakukan di
waktu sholat maghrib dengan melafadzkan niat sebagai berikut: “Aku niat sholat
fardhu maghrib tiga rakaat di jama bersama isya dengan jama taqdim fardhu
karena Allah Ta’alla.”

Berikut syarat-syarat untuk melaksanakan Jama Taqdim:

  1. Pelaksanaan sholat dimulai dari sholat yang pertama
  2. Membaca niat sholat jama pada rakaat sholat yang pertama
  3. Melakukan sholat secara berturut-turut dari sholat yang
    pertama ke sholat yang kedua
  4. Diperbolehkan sholat ketika masih dalam perjalanan
  • Cara pelaksanaan jama taqdim
  • Membaca niat sholat Zuhur dengan jama taqdim.
    Bacaan niat sebagai berikut:

تَعَالىفَ
للهِ رْضًا العَصْرِ مَعَ تَقْدِيْمًا جَمْعًا رَكَعَاتٍاَرْبَعَالظُهْرِفَرْضَاُصَلِّى

Artinya:
“Saya niat sholat Zuhur digabung dengan sholat Ashar dengan jama taqdim karena
Allah Ta’ala.”

  1. Melakukan takhbiratul ikhram.
  2. Melakukan sholat Zuhur empat rakaat terlebih
    dahulu.
  3. Melakukan salam. Kemudian dilanjutkan dengan
    sholat Ashar tanpa berbicara dan melakukan apapun.
  4. Selanjutnya berdiri lagi untuk melakukan sholat
    Ashar dengan niat sebagai berikut

تَعَالى
للهِ فَرْضًا الظُهْرِ مَعَ تَقْدِيْمًا جَمْعًا رَكَعَاتٍ اَرْبَعَ العَصْرِفَرْضَ
اُصَلِّى

Artinya: “Saya niat sholat Ashar empat rakaat
digabungkan dengan sholat Zuhur dengan jama taqdim karena Allah
Ta’ala.”

  • Melakukan takhbiratul ikhram
  • Melakukan sholat Ashar empat rakaat seperti
    biasa
  • Melakukan tasyahud akhir kemudian diakhiri
    dengan mengucap salam
  • Jama Ta’khir

Melaksanakan dua waktu sholat yang diringkas menjadi satu waktu, di mana
pelaksanaannya dilakukan di akhir waktu sholat. Contoh: Menjamak sholat maghrib
dan juga isya yang dilakukan di waktu sholat isya.

Jama ta’khir dilakukan untuk meringkas dua sholat fardhu dalam satu
waktu pada sholat yang terakhir. Seperti contoh berikut ini:

  • Melakukan
    sholat zuhur dan sholat ashar yang di kerjakan di waktu sholat ashar.
  • Melakukan
    sholat maghrib dan sholat isya yang dikerjakan di waktu sholat isya.
  • Niat Sholat Jama Ta’khir

Menjamak sholat zuhur dan juga ashar yang dilakukan di
waktu sholat ashar dengan melafadzkan niat sebagai berikut: “Aku niat sholat
fardhu zuhur empat rakaat di jama bersama ashar dengan jama ta’khir fardhu
karena Allah Ta’alla.”

Menjamak sholat maghrib dan juga isya yang dilakukan di
waktu sholat isya dengan melafadzkan niat sebagai berikut: “Aku niat sholat
fardhu maghrib tiga rakaat di jama bersama isya dengan jama ta’khir fardhu
karena Allah Ta’alla.

  • Cara pelaksanaan jama ta’khir:
  • Membaca niat sholat Maghrib dengan jama takhir.
    Bacaan niat sebagai berikut:

تَعَالى
للهِ فَرْضًا العِشَاءِ مَع تَأخِيْرًا جَمْعًا رَكَعَاتٍ ثَلاَثَ  المَغْرِبِ فَرْضَ اُصَلِّى

Artinya:
“Saya niat sholat maghrib digabung dengan sholat isya’ dengan jama taqdim
karena Allah Ta’ala.”

  • Melakukan takhbiratul ikhram.
  • Melakukan sholat maghrib tiga rakaat terlebih
    dahulu.
  • Melakukan salam. Kemudian dilanjutkan dengan
    sholat isya tanpa berbicara dan melakukan apapun.
  • Selanjutnya berdiri lagi untuk melakukan sholat
    isya dengan niat sebagai berikut:

تَعَالى
للهِ فَرْضًا المَغْرِبِ مَع تَأخِيْرًا جَمْعًا رَكَعَاتٍ اَرْبَعَ العِشَاءِ العَصْ
اُصَلِّى

Artinya:
Saya niat sholat isya’ empat rakaat digabung dengan sholat maghrib dengan jama
taqdim karena Allah Ta’ala.”

  • Melakukan takhbiratul ikhram.
  • Melakukan sholat isya’ empat rakaat seperti
    biasa.
  • Melakukan tasyahud akhir kemudian diakhiri
    dengan mengucap salam.

Syarat Melakukan Sholat Jama

  1. Perjalanan Jauh

Perjalanan jauh sering kali mengharuskan seseorang untuk meninggalkan
sholat karena permasalahan waktu yang tak terkondisi dengan baik. Dalam agama,
hal ini sangat diperbolehkan, dalam artian mengganti sholat wajib dengan
menjamak sholat di waktu sesudah atau sebelumnya.

Melakukan perjalanan pendek yang kemudian dengan sangat terpaksa
mengharuskan seseorang untuk meninggalkan sholat. Kondisi jalanan yang macet
ketika sholat magrib hingga berjam-jam, hal seperti ini tentunya masih tetap
bisa melaksanakan sholat dengan cara melakukan jama pada satu waktu sholat.

Melakukan jama dalam perjalanan sangat dianjurkan jika memenuhi ketentuan dan juga syarat yang telah ditetapkan, dalam hal ini seseorang diperbolehkan melakukan sholat jama apabila disebabkan adanya hujan atau hal – hal lain yang menyebakan tertundanya sholat. Kemudian sakit, dan segala kesulitan – kesulitan lain.

Dalam hal ini
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwasanya: “Setiap nama di mana tidak ada batas tertentu baginya dalam bahasa
maupun agama, maka dalam hal itu dikembalikan kepada pengertian umum saja,
sebagaimana “berpergian” dalam pengertian kebanyakan orang yaitu berpergian di mana
Allah mengaitkannya dengan suatu hukum.”

2. Musafir

Selain itu seorang musafir atau seseorang yang sedang melakukan
perjalanan bertujuan untuk melakukan hal-hal baik (masih di jalan Allah) dalam
artian tidak melakukan perjalanan untuk perbuatan maksiat sangat diperbolehkan
untuk menjama sholatnya. Dalam hal ini, hendaknya juga mengetahui destinasi
yang akan dituju dan tidak berniat untuk bermukim lebih dari empat hari.

Allah berfirman
(wa idzaa dlarabtum fil ardli fa laisa ‘alaikum junaahun an taqshuruu minash
shalaati
) artinya, “Dan
apabila kamu bepergian di muka bumi ini, yakni kalian melakukan perjalanan di
sebuah negeri maka tidaklah mengapa kamu menqashar sholatmu” dan diberi
keringanan dari segi jumlahnya dari empat menjadi dua, dalam konteks ini
sebagaimana yang dipahami oleh jumhur ulama.

Para ulama
mengambil dalil tentang diperbolehkannya menqasar dan juga menjama sholat
ketika berada dalam perjalanan. Meskipun banyak perbedaan pendapat dari kalangan
ulama, beberapa di antaranya mengemukakan bahwa perjalanan harus dalam rangka
taat seperti jihad, haji, menuntut ilmu atau ziarah, dan lain-lain. Sebagaimana
yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Atha, dan Yahya.

Akan tetapi,
sebagian para ulama ada juga yang mengatakan bahwa tidak diisyaratkan terkait
perjalanan dalam rangka taqqarub, di mana perjalanan haruslah dalam perkara
yang mubah. Seperti yang dijelaskan dalam surat berikut: “Maka barangsiapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa.” (QS. Al-Maidah: 3)

Kemudian ada
pula yang mengatakan bahwa, cukup apa saja yang dapat dikatakan sebagai
perjalanan baik itu mubah atau pun haram, masih tetap diberlakukan adanya
keringanan untuknya dalam pengerjaan sholat seperti melakukan jama hingga
qashar. Sebagaimana pendapat yang diutarakan ini sangatlah bertolak belakang
dengan jumhur ulama.

Dalam hal lain ketika membicarakan jarak tempuh pada sholat jama,
Syaikhul Isal Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa apa pun yang masih bisa dikatakan
sebagai perjalanan maka masih diperbolehkan untuk melakukan sholat jama, baik
itu perjalanan pendek maupun panjang. Sehingga tidak ditentukan kriteria khusus
terkait jarak dalam berpergian (safar) untuk melakukan sholat jama.

Menurutnya,
“Siapa yang membuat perbedaan antara jarak dekat dan jarak jauh, berarti dia
memisahkan apa yang sudah dihimpun Allah SWT, dengan sebagian pemisahan dan
pembagian yang tidak ada dasarnya.” Pendapat dari Syaikhul Isal Ibnu Taimiyah ini rupanya juga sama persis
dengan pendapat dari golongan Zhairiyah yang di dukung oleh pengarang
Al-Mughny.

Hal ini juga termasuk uzur yang memperbolehkan seseorang untuk menjama sholatnya sesuai ketentuan adalah seseorang yang sedang dalam perjalanan atau ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan atau biasa disebut dengan musafir.  (HR. Bukhari, Muslim)

Imam Nawawi
Rahimahullah mengatakan bahwa: ”Sebagian Imam atau ulama berpendapat bahwa ada
seorang yang mukim boleh menjama sholatnya jika diperlukan dengan catatan bahwa
hal tersebut tidak dijadikan sebagai kebiasaan.

Hal ini seperti
yang dijelaskan oleh hadist Rasulullah SAW: bahwasanya Rasulullah SAW menjamak
antara zuhur dengan ashar dan antara magrib dengan isya di Madinah tanpa sebab
takut dan safar(dalam
riwayat lain, tanpa sebab takut dan hujan).

Artinya: “Dari Muaz bahwasanya Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Tabuk apabila
beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan sholat zuhur
sehingga beliau kumpulkan pada sholat ashar (beliau sholat zuhur dan ashar pada
waktu ashar).

Jika beliau berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau melaksanakan
sholat zuhur dan sholat ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan.

Jika beliau berangkat sebelum magrib, beliau mengakhirkan sholat magrib
sehingga beliau mengerjakan sholat magrib beserta isya; dan jika beliau
berangkat sesudah waktu magrib, beliau menyegerakan sholat isya dan beliau sholat
isya beserta magrib.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi).

Adapun firman Allah yang berbunyi, “In khiftum ay yaftinakumul ladziina kafaruu” yang artinya adalah jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir, dalam hal ini menceritakan terkait asal mulanya permasalahan sholat ini diturunkan. Seperti pada di awal perjalanan islam, di mana perjalanan mereka selalu dipenuhi dengan rasa takut di medan peperangan terhadap Islam dan juga para pengikutnya.

Sekian pembahasan Sholat Jama, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.