Sholat Maghrib

Maghrib berasal dari kata gharaba (غَرَبَ) yang berarti yang terbenam. Secara umum, pengertian sholat maghrib adalah sholat wajib tiga rakaat yang dilaksanakan saat waktu terbenamnya matahari sampai hilangnya mega merah.

Sholat maghrib merupakan urutan sholat keempat setelah sholat isya, dzuhur dan ashar. Dalam tiga rakaat, kita melakukan salam dua kali yaitu di rakaat kedua dan ketiga. Secara garis besar, tata cara melakukannya sama dengan sholat lainnya. Berikut penjelasan mulai dari rakaat pertama hingga ketiga:

Rakaat Pertama Sholat Maghrib

Rakaat Pertama Sholat Maghrib

Niat

Sholat maghrib dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu munfarid (sendiri) dan jama’ah (bersama-sama). Kedua cara tersebut memiliki niat yang berbeda, termasuk ketika kita menjadi imam. Meskipun sebenarnya niat dapat dilakukan dalam hati, namun Rasulullah menganjurkan kepada kita untuk tetap melafalkannya secara lisan.

Niat sholat munfarid (sendiri)

sholat-maghrib-1

Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an lilaahi ta’aalaa.

Artinya : “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga raka’at dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala”.

Niat sholat jamaah (makmum)

sholat-maghrib-2

Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati makmuuman lillaahi ta’aalaa.

Artinya : Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga raka’at dengan menghadap kiblat, sebagai makmum, karena Allah Ta’ala”.

Niat sholat jamaah (imam)

sholat-maghrib-3

Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati imaaman lilaahi ta’aalaa.

Artinya : Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga raka’at dengan menghadap kiblat, sebagai imam karena Allah Ta’ala”.

Niat dilakukan dengan posisi badan berdiri tegak menghadap kiblat. Niat sholat maghrib dapat dibaca sebelum atau sesudah takbiratul ihram. Pelafalan niat berarti kita sudah memasuki sholat, sehingga tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat membatalkan. Niat secara lisan ini juga harus didasari oleh niat sungguh-sungguh dari hati.

Takbiratul ihram

Takbiratul ihram dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga sambil membaca kalimat takbir, “Allahu akbar”. Kedua tangan disedekapkan dengan posisi tangan kanan berada di atas, memegang pergelangan tangan kiri. Posisi tangan tersebut diletakkan di atas perut (pusar).

Setelah posisi tangan dan badan sempurna, selanjutnya kita membaca do’a iftitah. Hukum membaca do’a iftitah adalah sunnah, sehingga boleh dibaca atau ditinggalkan. Berikut do’a iftitah yang biasa digunakan:

sholat-maghrib-4

Allaahu Akbaru kabiiraw-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw-wa’ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiina.

Artinya : Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.

Membaca surah Al Fatihah dan ayat Al-Qur’an

Setelah membaca do’a iftitah, kita diwajibkan untuk membaca surah Al Fatihah. Dalam sholat maghrib, pembacaan surah ini dilakukan dengan suara dikeraskan. Setelah itu, kita disunnahkan membaca surah atau ayat Al-Qur’an. Biasanya, kita memilih membaca surah-surah pendek juz 30 atau beberapa ayat dari surah yang panjang.

Ruku’ Sholat Maghrib

Setelah selesai membaca surah pendek, kita mengucap takbir kembali dan ruku’. Ruku’ dilakukan dengan posisi badan membungkuk ke kiblat, kedua tangan menyangga di atas lutut. Usahakan saat membungkuk, punggung dan kepala lurus rata. Saat ruku’, kita membaca do’a sebagai berikut:

sholat-maghrib-5

Subhaana rabbiyal azhiimi wa bi hamdihi 3x

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya”. (3x)

Do’a di atas adalah yang paling pendek dan sering dibaca. Disunnahkan untuk membaca tiga kali, namun jika satu atau dua dirasa sudah cukup maka hukumnya tidak apa-apa.

I’tidal Sholat Maghrib

Bangun dari posisi ruku’, kita berdiri tegak kembali seraya mengangkat tangan dan membaca do’a:

Sami’allaahu liman hamidahu

Artinya : “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.

Setelah mengangkat tangan dan membaca do’a tersebut, tangan kembali berada di sisi kanan dan kiri badan. Masih dalam keadaan i’tidal kita membaca do’a:

sholat-maghrib-7

Rabbanaa lakal hamdu Mil ussamaawaati wamil-ul ardhi wamil-u maasyi’ta min syai-in ba’du.

Artinya :“Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu-lah segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki sesudah itu”.

Sujud Sholat Maghrib

Selesai i’tidal, tanpa membaca kalimat takbir, kita langsung dalam posisi sujud. Sujud dilakukan dengan posisi dahi menempel di lantai, posisi lutut menekuk ke dalam, sisi kaki kanan kiri rapat dan kedua tangan berada di sisi kanan kiri telinga. Posisi badan membumi sebagai bentuk sembah dan permohonan manusia kepada Sang Pencipta. Saat sujud, kita membaca do’a berikut sebanyak tiga kali:

Subhaana rabbiyal a’la wa bi hamdihi. 3x

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan dengan segala puji bagi-Nya”.

Duduk di antara dua sujud

Setelah sujud, sambil mengucap kalimat takbir kita duduk di antara dua sujud. Posisi kaki kiri ditindih badan dan telapak kaki kanan berdiri tegak. Sedangkan kedua tangan diletakkan di atas paha dengan jari-jari lurus agak renggang. Do’a yang kit abaca saat duduk di antara dua sujud yaitu sebagai berikut:

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu ‘annii.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berikanlah rejeki kepadaku, berikanlah petunjuk kepadaku, berilah kesehatan kepadaku dan ampunilah aku”.

Setelah duduk di antara dua sujud yang pertama ini, kita kembali melakukan sujud satu kali. Tata cara sujud seperti yang sudah dijelaskan di atas. Kemudian, kita masuk di rakaan kedua.

Rakaat kedua Sholat Maghrib

Rakaat kedua Sholat Maghrib

Membaca surah Al Fatihah dan ayat Al-Qur’an

Bangkit dari posisi duduk, kita mengucap takbir dan kembali berdiri untuk rakaat kedua. Bedanya dengan rakaat pertama adalah tidak dibacanya do’a iftitah. Raka’at kedua diawali dengan membaca surah Al Fatihah dan ayat Al Qur’an. Sama seperti tata cara di rakaat pertama, dalam membaca surah dan ayat Al Qur’an, suara imam dikeraskan. Contoh surah yang biasa dibaca adalah surah Al Ikhlas.

Ruku’ Sholat Maghrib

Ruku’ dilakukan dengan tata cara yang sama seperti di rakaat pertama sambil membaca do’a di bawah ini sebanyak tiga kali:

Subhaana rabbiyal azhiimi wa bi hamdihi 3x

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya”. (3x)

I’tidal Sholat Maghrib

Bangun dari ruku’ diiringi kalimat takbir. Setelah itu membaca do’a:

Sami’allaahu liman hamidahu

Artinya : “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.

Sujud Sholat Maghrib

Tata cara sujud rakaat kedua sama seperti di rakaat pertama seraya membaca do’a sujud sebanyak tiga kali:

Subhaana rabbiyal a’la wa bi hamdihi. 3x

Artinya : “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan dengan segala puji bagi-Nya”.

Duduk di antara dua sujud

Duduk di antara dua sujud dalam rakaat kedua dilakukan satu kali dengan tata cara yang sama dengan rakaat pertama. Membaca do’a sebagai berikut:

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa ‘aafinii wa’fu ‘annii.

Artinya : “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berikanlah rejeki kepadaku, berikanlah petunjuk kepadaku, berilah kesehatan kepadaku dan ampunilah aku”.

Setelah selesai, kita kembali sujud satu kali. Jika di rakaat pertama setelah sujud kedua kita kembali berdiri, maka di rakaat kedua sholat maghrib, kita duduk kembali. Posisi ini kita sebut sebagai tasyahud awal.

Tasyahud awal

Tata cara tasyahud awal sama seperti saat duduk di antara dua sujud. Posisi kaki kiri ditindih badan dan telapak kaki kanan berdiri tegak. Sedangkan kedua tangan diletakkan lurus dan agak renggang di atas paha. Bedanya, saat tasyahud awal kita tidak membaca do’a yang sama saat duduk di antara dua sujud, namun membaca do’a tasyahud.

At-tahiyyaatul mubaarakatush-shalawaatuth-thayyibaatulillaahi. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiina. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin.

Artinya : “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan (shalawat), serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah. Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan (Shalawat) untuk Nabi Muhammad”.

Saat kita membaca do’a tasyahud awal dan menyebut kalimat asyhadu an laa ilaaha illallah, maka jari telunjuk ditegakkan. Ada pendapat ulama lain juga yang menyatakan bahwa jari telunjuk ditegakkan sejak awal membaca do’a tasyahud. Untuk perbedaan pendapat tersebut, kita bebas memilih salah satu sesuai keyakinan.  Selesai membaca do’a, kita kembali berdiri seraya mengucap takbir dan memasuki rakaat ketiga.

Rakaat ketiga Sholat Maghrib

Rakaat ketiga Sholat Maghrib

Beberapa tata cara gerakan sholat di rakaat ketiga, sudah dijelaskan di rakaat pertama dan kedua. Misalnya gerakan ruku’, i’tidal, sujud dan duduk di antara dua sujud. Semua gerakan tersebut dilakukan dengan cara yang sama.  Sedangkan untuk tata cara yang berbeda, akan dijelaskan sebagai berikut:

Membaca surah Al-Qur’an dan ayat Al-Qur’an

Berbeda dengan rakaat pertama dan kedua, dimana imam mengeraskan suara saat membaca do’a sholat. Dalam rakaat ketiga, biasanya imam akan memilih untuk men-syirkan bacaan (diam atau pelan). Dalam rakaat ketiga tidak ada membaca do’a iftitah dan menurut beberapa pendapat ulama juga diperbolehkan untuk tidak membaca surah atau ayat Al-Qur’an. Jadi, dalam rakaat ketiga kita hanya membaca surah Al Fatihah saja.

Tasyahud akhir

Tata cara dan posisi tasyahud akhir hampir mirip dengan tasyahud awal. Hanya saja, untuk posisi tasyahud akhir, kaki kiri tidak ditindih melainkan berada di bawah kaki kanan. Sedangkan untuk telapak kaki kanan tetap tegak dan posisi tangan berada di atas paha. Berikut do’a yang dibaca saat tasyahud akhir:

At-tahiyyaatul mubaarakatush-shalawaatuth-thayyibaatu lillaahi. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiina. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin.

Wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim, wa ‘alaa aali Ibraahiim, wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali Ibraahiim, fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiidun.

Artinya : “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan (shalawat), serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah. Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan (Shalawat) untuk Nabi Muhamma”.

“Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan (shalawat) kepada keluarga Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan (shalawat) kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung (Mulia)”.

Sama seperti rakaat kedua, saat kita membaca bagian kalimat asyhadu an laa ilaaha illallah dalam do’a tasyahud akhir, maka jari telunjuk ditegakkan. Perbedaan do’a tasyahud awal dan akhir terletak di ada tidaknya pembacaan sholawat nabi.

Salam

Gerakan sholat maghrib yang terakhir adalah salam. Salam dilakukan dengan cara menengokkan wajah ke kanan dan kiri seraya mengucapkan kalimat assalaamu’alaikum wa rahmatullaah.

Sunnah setelah sholat maghrib

Sunnah setelah sholat maghrib

Setelah melakukan ibadah wajib sholat maghrib, dianjurkan untuk kita agar tidak terburu-buru meninggalkan tempat sholat dan melakukan hal-hal yang sifatnya sunnah. Misalnya seperti sholat ba’diyah maghrib (sesudah maghrib), membaca wirid atau Al- Qur’an. Sholat ba’diyah maghrib berjumlah dua rakaat dengan satu kali salam. Tata cara pelaksanaan sama seperti sholat wajib dan sudah dijelaskan di atas. Hanya saja, niat berbeda dan sifatnya sunnah, bukan fardhu.

Jika kita sholat berjama’ah, biasanya wirid atau wiridan akan dipimpin oleh imam. Dalam wiridan, biasanya kita memperbanyak bacaan takbir, tahmid dan istighfar. Sedangkan untuk Al Qur’an dapat dilakukan secara individu. Hal-hal yang bersifat sunnah tersebut diharapkan dapat menambah pahala baik kita esok di akhirat.

Kesimpulan

Intinya, sholat maghrib merupakan ibadah wajib umat muslim yang berjumlah tiga rakaat. Seperti sholat lainnya, sholat maghrib dapat dilaksanakan secara munfarid (sendiri) atau jama’ah (bersama-sama). Waktu pelaksanannya adalah ketika matahari terbenam dan mega merah telah hilang. Mengingat jarak sholat maghrib dan isya sangat dekat, maka kita dianjurkan untuk menyegerakan.

Untuk waktu akhir sholat maghrib dijelaskan dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, bahwasanya “Kami pernah sholat maghrib bersama Rasulullah SAW, kemudian salah seorang di antara kami ada yang pulang dulu, dan ia masih dapat melihat jelas di mana jelas tempat jatuhnya anak panah miliknya”.

Menurut hadist tersebut, waktu akhir sholat maghrib adalah saat kedaan belum terlalu gelap atau penglihatan masih dapat melihat benda sekitar. Inilah alasan kita dianjurkan untuk mengusahakan sholat di awal waktu. Karena jika ditunda-tunda, dikhawatirkan tidak akan mendapat waktu sholat tersebut.

Sekian pembahasan Sholat Maghrib, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.