Sujud syahwi erat kaitannya dengan shalat. Shalat merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim yang tentunya menjadi rukun Islam yang pertama hal ini menjadikan bahwa setiap rukun dan tata cara shalat harus dilakukan sebagai mana yang telah di contohkan oleh nabi kita Muhammad SAW. Namun adakalanya dalam sebuah praktik shalat kini dihinggapi rasa lupa pada setiap rukun yang harus dijalankan dalam Ibadah shalat.

Akan pentingnya hal tersebut maka tentunya kita sebagai umat islam wajib mengetahui baik itu arti, hukum, Sebab sebab, dan juga tata cara dari sebuah rukun dari Sujud Syahwi. maka dari itu untuk lebih memahami akan sbuah rukun sunah dari penambalan dalam mengerjakan shalat maka kita wajib mengetahui beberapa tahapannya sebagai berikut

Pengertian Sujud Syahwi

Pengertian Sujud Syahwi

As-Sahwu apabila diartikan menurut bahasa adalah berarti melupakan sesuatu. Namun apabila menurut syariatnya adalah sebuah kelalaian dan juga kekurangan yang terjadi pada saat seseorang mengerjakan ibadah shalat, baik merupakan sebuah kesengajaan dan juga hal itu terjadi karena lupa. Dan sebuah sujud yang dilakukan pada akhir shalat hal itu merupakan  sebuah cara untuk menambal dari terjadinya kekurangan dalam rukun shalat.

Hukum dari Sujud Syahwi

Hukum dari Sujud Syahwi

Untuk hukumnya sendiri Sujud syahwi hukumnya sunah untuk dilaksanakan berdasarkan sebab sebab tertentu, dan bila kita tidak melaksanakannya shalat tetap syah dikarenakan dari hukumnya yang tidak tidak wajib, dan untuk lebih jelasnya maka hendaklah kita untuk menyempatkan diri dalam membaca sebuah dalil yang disyari’atkan.

Berikut adalah sebuah hadits riwayat al-Bukhari (1169), dari Abu Hurairah RA, dia berkata:

 صَلَّى بِنَاا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَاَوِالْعَصْرِ، فَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ ذُوْالْيَدَيْنِ: الصَّلاَةُ يَارَسُوْلُاللهِ، اَنَقَصَتْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَحَقُّ مَايَقُوْلُ؟ قَلُوا نَعَم، فَصَلَّى رَكَعَتَيْنِِ اُخْرَيَتَيْنِ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ 

Nabi SAW melakukan shalat Zhuhur dan ‘Ashar bersama kami, lalu salam. Maka berkatalah Dzul Yadain kepada beliau: “Shalat ini, ya Rasulullah, apakah berkurang? Nabi SAW bertanya: “Benarkan apa yang dia katakan?” Para sahabat menjawab: “Ya”. Maka beliau melanjutkan shalat 2 rakaat lagi, kemudian bersujud 2 kali. 

Sebab di sunahkan mengerjakan Sujud syahwi 

1. Apabila kita tidak melaksanakan salah satu diantara sunah Ab’ad

Sunah Ab’ad seperti halnya dalam tasyahud awal dan juga melaksanakan Qunut.

Al-Bukhari (1166) dan Muslim (570) telah meriwayatkan dari Abdullah bin Buhainah RA, bahwa dia berkata:

 صَلَّى لَنَا رَسُوْلُاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكَعَتَيْنِِ مِنْ بَعْضِ الصَّلاَةِ وَفِى رِوَيَةٍ: قَامَ مِنِ اثْنَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ، ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، فَلَمَّ قَضَى .صَلاَتُهُ وَنَظَرْنَا تَسْلِيمَهُ، كَبَّرَ قَبْلَ التَّسْلِيْمِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، ثًمَّ سَلَّمَ 

Nabi Rasulullah SAW shalat bersama kami dua rakaat dari suatu shalat –dan menurut suatu riwayat lain: beliau bangkit setelah dua rakaat dari shalat Zhuhur- kemudian bangkit tanpa duduk (terlebih dahulu). Maka, orang-orang pun ikut bangkit bersama beliau. Tatkala beliau menyelesaikan shalatnya, sedang kami menunggu salamnya, maka beliau bertakbir sebelum salam, lalu bersujud dua kali selagi duduk, sesudah itu salam. 

Sedang Ibnu Majah (1208), Abu Daud (1036) dan lainnya meriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah, dia berkata: Sabda Rasulullah SAW:

 اِذَاقَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكَعَتَيْنِِ، فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِِمًا فَلْيَجْلِسْ، وَاِذََََاسْتَتَمَّ قَائِِمًا فَلاَ يَجْلِسْ، وَيَسْجُدُ سَجْدَتِيَ السَّهْو 

Apabila seorang dari kamu sekalian (terlanjur) bangkit sesudah dua rakaat, tetapi belum sempurna berdirinya, maka duduklah. Dan apabila telah sempurna berdirinya, maka jangan duduk, dan bersujud sahwilah dua kali sujudan. 

2. Ragu akan sebuah bilangan rakaat dalam Shalat

Bila kita mendapati sebuah keraguan dalam bilangan shalat maka yang pertama pastikanlah kita mengerjakan hitungan rakaat yang sedikit dalam ingatan kita setelah itu sempurnakanlah dengan sujud syahwi. contohnya bila kita ragu akan hitungan rakaat pada shalat isya apakah sudah 3 rakaat atau sudah 4 rakaat maka kita pilih yang terkecil yakni 3 rakaat.

Setelah kita meneruskan hitungan rakaat yang terkecil selanjutnya melakukan sujud Syahwi untuk melakukan sebuah penambalan atas keraguan dalam shalat, berikut adalah hadisnya.

Muslim (571) telah meriwayatkan dari Abu Sa’id RA, dia berkata: Sabda Rasulullah SAW:

 اِذَاشَكَّ اَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ، فَلَمْ يَدْرِكَمْ صَلَّى، ثَلاََثًا اَمْ اَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ اشَكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَااسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ اَنْ يُسَلِّمَ، فَاِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَاِنْ كَانَ صَلَّى اِتْمَامًا ِلاَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ 

Apabila seorang dari kamu sekalian ragu-ragu dalam shalatnya, yakni tidak tahu pasti sudah berapa rakaatkah ia shalat, tiga atau empat, maka hendaklah ia membuang keraguan itu, dan peganglah apa yang dia yakini, kemudian bersujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat sudah lima rakaat, maka rakaat-rakaat itu menggenapkan baginya pahala shalatnya. Dan jika ternyata dia shalat persis empat rakaat, maka dua sujud itu merupakan penghinaan terhadap syetan. 

Dari Abdurrahman bin ‘Auf katanya:

“Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Jika salah seorang di antaramu ragu dalam shalatnya, hingga ia tidak tahu, apakah baru seraka’at ataukah sudah dua raka’at, maka baiknya ditetapkannya seraka’at saja. Jika ia tidak mengetahui apakah dua atau sudah tiga raka’at, baiknya ditetapkannya dua raka’at. Dan jika tidak tahu apakah tiga atau sudah empat raka’at, baiknya ditetapkannya tiga raka’at, kemudian hendaklah ia sujud bila shalat selesai di waktu masih duduk sebelum memberi salam, yaitu sujud Sahwi sebanyak 2 kali’.”

 (H.R. Ahmad dan Muslim).

Dari Kedua hadits di ataslah yang menjadi landasa bila keraguan telah disadari setelah kita melaksanakan shalat, tentunya kesalahan itu tidak memengaruhi kesahan dalam shalatnya, Namun dalam hal ini tidak berlaku untuk kesalahan dalam melakukan niat dan takbiratul ihram, bila hal ini terjadi maka dipastikan harus mengulangi shalatnya kembali. 

Sebuah kejadian dimana kita sedang shalat berjamaah dan sebagai ma’mum yang mengikuti imam, Bila terjadi kelupaan pada saat tasyahud awal, hal tersebut menjadi tanggungan dari imam dan  bagi Ma’mum tidak diharuskan untuk melakukan sujud sahwi sesudah imam mengucapkan salam. Berikut adalah Dalilnya

Sabda Nabi SAW:

 اْلاِمَامُ ضَامِنٌ (رواه ابن حبان وصححه 362

Imam itu penjamin. (Hadits diriwayatkan dan disahkan oleh Ibnu Hibban: 362). 

3. Melakukan sesuatu yang tidak termasuk dalam rukun shalat karena lupa

Apabila kita melakukan sesuatu yang membatalkan syarat sahnya shalat  sekiranya disengaja maka disunahkan melakukan penambalan. Seperti contoh Menambah perkataan atau menambah rakaat dalam shalat bila kita menyadarinya dalam keadaan shalat maka hendaklah melakukan sujud syahwi. 

Nabi Muhammad SAW pernah lupa dalam shalatnya dan dalam sebuah hadis dijelaskan bahkan beliau sendiri bersabda: 

إِ نَّــمَا أَ نَـا بَـشَــرٌ أَ نَـسِى كَــمَا تَــنْـسَــوْ نَ : فَـإِ ذَ ا نَـسِـيْتُ فَـذَ كِّــرُوْ نـِىْ

“Saya ini hanyalah seorang manusia biasa, saya juga lupa sebagaimana tuan-tuan lupa.  Oleh sebab itu jika saya lupa, maka ingatkanlah!” (H.R.BukharI dan Muslim).

4.Memindahkan dan melewatkan Rukun rukun Shalat

Sebuah rukun yang dipindahkan tidak semestinya baik itu sebuah sunnah Ab’adh ataupun pada sebuah bacaan surat dan rukun yang lainnya. seperti contoh membaca surat pada saat tasyahud atau seperti dengan membaca Qunut ketika sujud maka tentulah disunahkan harus melakukan penambalan dalam shalatnya, Hal ini telah diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ibnu Buhainah:

 “Bahwa Nabi saw. bershalat lalu setelah sampai dua raka’at terus berdiri. Orang-orang pun sama mengucapkan bacaan tasbih, tetapi beliau meneruskan shalatnya. Dan setelah selesai barulah beliau sujud 2 kali kemudian memberi salam.”

Barang siapa yang terlupa duduk pertama lalu ingat sebelum sempurna berdiri, hendaklah ia duduk kembali. Tetapi bila sudah sempurna berdirinya, maka ia tidak perlu untuk duduk kembali.

(H.R.Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Mughirah bin Syu’bah).

5.Mengucapkan salam sebelum shalat sempurna.

Diterima dari ‘Atha’:

 “Bahwa Ibnu Zubair shalat Maghrib kemudian memberi salam setelah menyelesaikan dua raka’at kemudian bangun menuju Hajar Aswad. Orang-orang membacakan tasbih dan ia pun bertanya: ‘Ada apa?’ Dan setelah mengerti maksud orang-orang itu, ia lalu meneruskan shalatnya dan sujud dua kali. Peristiwa ini disampaikan kepada Ibnu Abbas r.a. maka tuturnya: Perbuatannya itu sesuai dengan sunah Nabi saw.”

(Diriwayatkan oleh Ahmad, Bazzar dan Thabrani).

6.Kelebihan dalam bilangan raka’at shalat

Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ibnu Mas’ud,

Bahwa Nabi Saw Pada suatu waktu ketika beliau shalat Dhuhur. Lalu ditanya: ‘Apa kah raka’at shalat ini memang ditambah?’ Ujar beliau: ‘Mengapa demikian’? Kata orang-orang itu: ‘Anda telah melakukan shalat 5 raka’at’. Maka beliau pun sujud 2 kali setelah memberi salam itu’.

Dengan adanya Hadits ini mengindikasikan bahwa shalat yang hitungannya terlebih jumlah raka’atnya karena lupa dan dalam raka’at ke-4 tidak duduk maka shalatnya tetap sah.

 Tata Cara

Berikut adalah sebuah tata cara dalam melakukan sujud syahwi yang bisa dilakukan sebelum dan juga setelah salam, yang tentunya tergantung dari mana kita menyadari sebuah kesalahan dari sebab sebab yang mengharuskan melakukan sujud syahwi.

  1. Bisa dilakukan sebelum ataupun juga setelah salam. Rukun sujud  Syahwi adalah dengan melakukan dua kali sujud sebelum salam ataupun bila melakukannya sesudahnya oleh seorang yang dalam melakukan shalat dan rukun ini sudah seperti sabda Rasulullah saw. sebagai berikut

Dalam sebuah hadits yang shahih dari Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

 إِذَا شَـكَّ أَحَـدُ كُــمْ فـِى صَـلاَ تـِـهِ فَــلَـمْ يـَـدْرِكُــمْ صَــلَّى، ثَــلاَ ثَـا أَ مْ أَرْ بـَــعَــتَـا، فَـــلْــيَـطْــرَ حِ الـشَّــكَّ وَ لْــيَــبْـنِ عَــلَى مَـااسْــتَــيْــقَـنَ ثُــمَّ سَـجَـدَ تَــيْـنِ قَـــبْــلَ أَنْ يـُـسَــلِّـمَ

 “Jikalau salah seorang diantaramu ragu-ragu dalam shalatnya, hingga tak tahu berapa raka’at yang sudah dikerjakannya, apakah tiga ataukah empat, maka baiknya ia menghilangkan mana yang diragukan dan menetapkan mana yang diyakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam.”(H.R.Muslim).

  • Adapula sebuah Kisah yang dilaksanakan sesudah salam. di dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang disebutkan juga dalam sebuah cerita Dzulyadain bahwa beliau pernah pula Sujud Sahwi saat sesudah salam.
  • Hal yang paling utama tentunya adalah dengan tergantung dari sebab yang disunahkan nya melakukan sujud Syahwi. Bila kita sadar sebelum salam maka lakukan sujud nya sebelum salam dan jika kita sadar setelah selesai salam maka hendaklah melakukan penambalan dengan setelah salam.

Apabila tidak termasuk dalam sebuah keadaan yang terdapat di atas, tentunya dipilih salah satunya baik itu sesudah salam ataupun juga sebelumnya. tentunya itu bukanlah sebuah yang membedakan baik itu sujud itu berupa penambahan atau pengurangan raka’at.

Hal ini berdasarkan keterangan H.R Muslim dalam shahihnyabahwa Nabi saw. bersabda:

  إِذَازَادَ الـرَّجُـلُ أَوْ نَــقَـصَ فَــلْــيَـسْـجُـدْ سَـجَـدَ تَــيْـنِ 

“Jikalau shalat seseorang terlebih atau terkurang, maka hendaklah ia sujud dua kali.” 

  • Dengan diawali Takbir.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa sebelum melakukan sujud syahwi maka hendaklah melakukan takbir berikut dijelaskan dalam sebuah hadits .

‘Abdullah bin Buhainah, فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ 

“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu beliau bertakbir pada setiap hendak sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.”

(HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570).

Contoh sesudah salam dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah,

 فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَسَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ وَرَفَعَ 

“Lalu beliau shalat 2 rakaat lagi (yang tertinggal), kemudian beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.”

(HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573).

  • Melakukan pengulangan salam.

Untuk sujud syahwi yang dilakukan setelah salam maka disunahkan kembali melakukan salam kembali hal ini tentu djelaskan dalam dalam hadits ‘Imran bin Hushain, 

فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ.

 “Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan 2 kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574).

Do’a Saat Melaksanakan

Untuk Doa  yang dibaca ada saat melaksanakan sujud syahwi diantara sebagian ulama menganjurkan do’a ini ketika sujud sahwi,  

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو

“Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa).

Tentunya sebuah dzikir di atas adalah sebuah anjuran saja dari sebagian ulama yang tanpa disertai dengan dalil Ibnu Hajar rahimahullah yang mengatakan, 


قَوْلُهُ : سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا : سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو – أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ – قُلْت : لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا

“Perkataan beliau, “Aku telah mendengar sebagian ulama yang menceritakan tentang dianjurkannya bacaan: “Subhaana man laa yanaamu wa laa yas-huw” ketika sujud sahwi (pada kedua sujudnya), maka aku katakan, “Aku tidak mendapatkan asalnya sama sekali.”


Dan untuk itu maka untuk bacaan yang tepat mengenai sebuah bacaan ketika sujud sahwi adalah seperti bacaan sujud biasa ketika shalat. Bacaannya yang bisa dipraktekkan seperti,


1. سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

Subhaana robbiyal a’laa” –

[Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi]


2. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى


“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” 
[Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku].

Sebagai penutup, tiada kekhilafan yang bisa terlewatkan oleh semua makhluk ciptaannya. Maka dari itu ada banyak cara bagi manusia untuk bisa menutupi dosanya. Seperti halnya dalam shalat yang merupakan sebuah rukun Islam yang pertama dan merupakan bahan pokok untuk bisa menuju ridho-Nya. Dengan sujud Syahwi kita menjadi sadar bahwa kita adalah makhluk yang tak luput dari lupa.

Nabi Muhammad SAW manganjurkan bagaimana kita menyikapi sebuah problematika hidup, begitupun dalam hal ibadah yang utama dalam memberikan sunnah- sunahnya yang tentunya menjadi kewajiban untuk kita pahami sebagai umat islam yang senantiasa mencari ridho-Nya.

Sekian pembahasan Sujud Syahwi, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.