Surat Al – Baqarah 

Apa nama surat dalam Al – Qur’an yang Anda temukan ketika pertama kali membuka Al – Qur’an? Surat Al – Baqarah bukan? Mengapa Surat Al – Baqarah menjadi surat pertama dalam Al-Qur’an? Bagaimana kisah surat tersebut diturunkan? Tentu pertanyaan – pertanyaan tersebut akan muncul di benak Anda, serta seluk – beluk lainnya tentang Surat Al – Baqarah yang membuat Anda penasaran akan dibahas disini.

Surat Al – Baqarah, Surat Kedua dalam Al – Qur’an

Surat Al – Baqarah, Surat Kedua dalam Al – Qur’an

Masuk ke dalam pembahasan mengenai Surat Al – Baqarah. Surat Al – Baqarah adalah surat kedua yang Anda jumpai ketika pertama membaca Al – Qur’an. Surat Al Baqarah terdiri dari 286 ayat dengan 6221 jumlah kata dan 25.500 huruf di dalamnya. Termasuk dalam surat Madaniyah karena diturunkan ketika Nabi Muhammad telah melakukan hijrah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah.

Sebagian besar ayat – ayatnya diturunkan pada awal tahun hijriyah, terkecuali ayat 281. Ayat tersebut menjadi ayat terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW sedang melaksanakan Haji Wada’ (Haji Perpisahan) di Mina. Surat Al – Baqarah memiliki ayat yang terpanjang dalam Al – Qur’an bila dibandingkan dengan surat Al Waqiahsurat Yusuf, surat Al Kafirun, surat Al Mulk, maupun ayat – ayat lainnya, yaitu berjumlah 282 ayat.

Selain memiliki ayat yang terpanjang, Surat Al – Baqarah juga terkenal dengan surat yang memiliki jumlah ayat terbanyak, serta surat terpanjang yang hampir mencapai tiga juz sendiri di dalam Al – Qur’an. Kemudian Surat Al – Baqarah menempati urutan kedua dalam Al – Qur’an setelah surat pertama, yaitu Al – Fatihah dan sebelum Surat Ali – Imran bukan karena urutan wahyu yang diterima Nabi.

Sebab Surat Al – Baqarah Menjadi Surat Kedua dalam Al – Qur’an

Sebab Surat Al – Baqarah Menjadi Surat Kedua dalam Al – Qur’an

Alasan mengapa Nabi Muhammad SAW mengurutkan Surat Al – Baqarah menjadi surat kedua dalam Al – Qur’an, tentunya atas panduan dan petunjuk dari Allah SWT yang sudah mengatur secara sempurna urutan ayat demi ayat, surat demi surat dalam Al – Qur’an sehingga saling terkait satu sama lain. tidak menimbulkan suatu kekosongan, melaikan tersusun menjadi sebuah harmoni yang sempurna.

Apabila dicermati, Surat Al – Baqarah memiliki keterkaitan makna dengan ayat terakhir Surat Al – Fatihah, dan makna ayat terkahir dalam Surat Al – Baqarah dilanjutkan dalam surat selanjutnya, Surat Ali Imran. Lalu bila digunakan perumpamaan, sesuatu yang memiliki kapasitas kepentingan dan kemuliaan lebih akan ditempatkan pada posisi pertama, tidak perduli kapan datangnya, seperti itulah Surat Al – Baqarah.

Surat Al – Baqarah dan Nama Lainnya

Surat Al – Baqarah dan Nama Lainnya

Surat Al – Baqarah memiliki nama lain, seperti:

  1. Fustaathul Qur’an atau puncak Al – Qur’an

Karena memuat beberapa hukum tatanan Islam dalam beribadah kepada Allah SWT dan bagaimana bermu’amalat (berkomunikasi dan menjalin hubungan) dengan sesama manusia yang tida dimuat dalam surat lain

  1. Alif Lam Mim

Karena pembuka surat Al – Baqarah terdiri dari tiga huruf, yaitu alif, lam, dan mim yang artinya sendiri hanyalah Allah yang mengetahui

  1. Az – Zahrawan

Az – Zahrawan yang berarti “Dua yang Cemerlang”. Surat Al – Baqarah disebut sebagai Az – Zahrawan karena memuat hal – hal yang disembunyikan (menurut ahli kitab). Selain Al – Baqarah, Surat Ali Imran pun dinamakan Az – Zahrawan.

  1. As – Sinam

As – Sinam berarti “Puncak Petunjuk”. Dinamakan As – Sinam karena Surat Al – Baqarah sebagai bukti kuasa Allah dan pembenaran semua petunjuk yang Allah berikan, serta terkandung perkara penting kehidupan manusia.

Surat Al – Baqarah (Sapi Betina) dan Kisahnya

Surat Al – Baqarah (Sapi Betina) dan Kisahnya

Mengapa dinamai dengan Al – Baqarah yang memiliki arti Sapi Betina? Berikut kisah singkat tentang Surat Al – Baqarah yang termasuk dalam salah satu surat dalam Al – Qur’an. Sapi Betina yang menjadi arti dari surat ini dilatarbelakangi oleh kisah pada zaman Nabi Musa AS dengan umatnya, yaitu Bani Israil. Kisah ini tercantum dalam Surat Al – Baqarah ayat 67 – 74.

Terdapat seorang kaya raya diantara kalangan Bani Israil dimana ia memiliki sepupu yang tergolong fakir miskin. Apabila orang kaya tersebut meninggal dunia, maka saudara sepupunya ini yang emnjadi ahli warisnya, dikarenakan tidak ada seorang pun yang berhak menjadi ahli warisnya. Namun, sang kaya raya tidak kunjung meninggal, dan sepupunya tersebut tidak sabar untuk segera memiliki hartanya.

Akhirnya orang kaya raya tersebut dibunuh oleh saudara sepupunya sendiri dan jenazahnya dibawa ke desa lain, dan dilemparkannya ke pelataran desa dengan berpura – pura marah dan ingin menuntut balas atas kematian saudaranya tersebut yang merupakan saudaranya sendiri. Warga desa tersebut beserta dengan dirinya menghampiri Nabi Musa AS untuk bertanya penyelesaian dari kasus tersebut.

Nabi Musa AS kemudian memerintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Awalnya mereka tersinggung dan tidak mengerti mengapa Nabi Musa AS memerintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Namun, setelah mengetahui bahwa perintah tersebut adalah perintah dari Allah (ayat 67 Surat Al – Baqarah), mereka segera menanyakan lebih jauh tentang ciri – ciri sapi yang harus mereka sembelih.

Di satu sisi terdapat orang shalih (masih dalam kalangan Bani Israil) yang memiliki anak laki – laki yang masih kecil dan anak sapi betina. Anak sapi betinanya tersebut dibawa ke dalam hutan, dan ia berdoa yang berisi menitipkan anak sapi betinanya kepada Allah untuk anaknya kelak ketika sudah dewasa. Kemudian orang shalih tersebut meninggal dunia.

Singkat cerita, anak laki – laki kecilnya sudah tumbuh dewasa, dan begitupun dengan anak sapi betina yang ditinggalkan di dalam hutan. Anak laki – lakinya tumbuh menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada Ibunya. Ketika dinilai sudah cukup dewasa, akhirnya Ibunya menyuruh anak laki – laki tersebut untuk pergi ke hutan dan menemui sapi betina yang ditinggalkan oleh suaminya untuk anaknya tersebut.

Anak laki – laki yang sholeh dan berbakti kepada Ibunya tersebut akhirnya pergi ke hutan dan mencari sapi betina yang dimaksud oleh Ibunya. Ibunya berpesan agar anaknya berdoa kepada Allah untuk dipertemukan dengan sapi betina yang ditinggalkan oleh ayahnya sebelum meninggal. Sapi betina tersebut memiliki ciri kulitnya seolah bersinar seperti matahari ketika ia melihatnya.

Sampai ketika anak laki – laki tersebut melihat seekor sapi yang sedang merumput, dan ia berdoa kepada Allah seperti doa yang diajarkan oleh Ibunya sebelum keberangkatannya ke hutan. Sapi betina menoleh ke arahnya, namun sapi tersebut tidak langsung kabur seperti biasanya yang sapi tersebut lakukan ketika melihat manusia. Sapi tersebut menghampiri sang anak laki – laki, dan pulang berdua bersamanya.

Melihat anak laki – lakinya kembali ke rumah bersama dengan seekor sapi, sang Ibu menyuruhnya untuk menjual sapi tersebut sebesar tiga dinar. Berangkatlah sang anak bersama sapinya ke pasar. Di pasar ia berjumpa dengan seorang pembeli yang merupakan malaikat utusan Allah untuk menguji kepatuhan terhadap Ibunya. Pembeli tersebut menawar sapinya dengan harga lebih tinggi, yaitu enam dinar.

Anak laki – laki tersebut tidak setuju, kembali ke rumah dan segera bercerita mengenai harga sapi enam dinar tersebut. Mendengar ceritanya, sang Ibu menyuruhnya kembali dan menjual harga sapinya dengan harga enam dinar. Pembeli yang sama menawarnya kembali dengan harga dua kali lipatnya. Sang anak tetap patuh terhadap perintah dari sang Ibu. Anak tersebut kembali pulang, dan menceritakan hal tersebut.

Ibunya berkata bahwa yang mendatanginya adalah malaikat untuk menguji anaknya tersebut. Sang Ibu berpesan kepada anaknya jika bertemu dengan pembeli tersebut untuk menanyakan apakah sapinya boleh dijual atau tidak. Benar adanya, sang anak bertemu dengan pembeli yang sama, dan segera ia tanyakan pesan Ibunya. Dan pembeli menjawab untuk tidak menjual sapi sampai Nabi Musa membelinya.

Kaum Nabi Musa AS akan membeli sapi betinanya guna mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi di kalangan Bani Israil dengan harga dinar memenuhi kulit sapi tersebut. Dengan kuasa Allah, akhirnya sang anak laki – laki yang sholeh dan berbakti kepada Ibunya tersebut dipertemukan dengan warga Bani Israil yang dimaksud, dan dibelilah sapinya seharga dinar memenuhi kulit sapi betinanya.

Sapi betina tersebut akhirnya disembelih, dan bagiannya dipukulkan kepada jenazah korban pembunuhan. Dengan kuasa Allah, jenazah tersebut bangkit kembali dan dapat berkata siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Dengan demikian terungkap dan terselesaikan sudah kasus pembunuhan di kalangan Bani Israil, dan akhirnya saudara sepupu sang jenazah terhalang mendapatkan warisannya.

Surat Al – Baqarah dan Pokok Pembahasannya

Surat Al – Baqarah dan Pokok Pembahasannya

Surat Al – Baqarah dengan 286 ayatnya terkandung beberapa pokok bahasan, yaitu:

Keimanan

Hal keimanan yang dibahas dalam Surat Al – Baqarah yaitu bagaimana cara Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah, menanamkan nilai keimanan dan ke – Esa an Allah SWT kepada umat Islam, ahli kitab, hingga kaum musyrikin pada masa pertama kali Islam diturunkan hingga Nabi wafat.

Hukum – Hukum Ajaran Agama Islam

Meliputi hukum melaksanakan rukun Islam, yaitu shalat, berpuasa, zakat, dan haji atau umroh. Tidak hanya itu, hukum halal – haram, qishas, mencari nafkah, meminum arak, berjudi, menyantuni anak yatim, riba, wasiat, sumpah, haid, talak, khulu’, illa’, melamar, mahar, menyampaikan amanat, sihir, merusak masjid, menikahi dan mengawainkan wanita musyrik, hukum perang, hingga hukum memberikan air susu kepada bukan anak kandung (anak orang lain)

Kisah Para Nabi

Kisah para Nabi yang dibahas dalam Surat Al – Baqarah seperti bagaimana penciptaan Nabi Adam AS, Nabi Musa dengan kaumnya Bani Israil, dan Nabi Ibrahim AS

Sifat – Sifat dan Lainnya

Diantara sifat – sifat yang dibahas adalah sifat – sifat Allah, sifat orang munafik, dan orang bertakwa. Kemudian dibahas pula mengenai kehidupan manusia setelah kematiannya, sampai dengan arah kiblat dalam melaksanakan sholat.

Surat Al – Baqarah, Keistimewaan dan Fadhilahnya

Surat Al – Baqarah, Keistimewaan dan Fadhilahnya

Surat – surat yang terdapat di dalam Al – Qur’an pasti memiliki keistimewaan dan fadhilahnya masing – masing. Diantara fadhilah Surat Al – Baqarah antara lain:

  1. Bagi rumah yang selalu dilantunkan Surat Al – Baqarah, maka baginya, rumah dan anggota keluarganya terlindung dari keburukan dan tipu daya setan
  2. Di dalam Surat Al – Baqarah terdapat ayat yang paling agung di dalam Al – Qur’an, yaitu Ayat Kursi
  3. Apabila membaca dua ayat terakhir Surat Al- Baqarah, maka dicukupkan dari segala keburukan dan dimudahkan banyak kebaikan
  4. Sebagai penyembuh, baik penyakit hati, maupun mental

Surat Al – Baqarah dan Beberapa Tafsir Ayatnya

Surat Al – Baqarah dan Beberapa Tafsir Ayatnya

Yang akan dibahas dalam tafsir Surat Al – Baqarah disini adalah ayat – ayat yang menjadi pembuka Surat Al – Baqarah. Pada ayat 1 – 5 Surat Al – Baqarah membicarakan hal yang paling mendasar bagi seorang Muslim, yaitu tentang keimanan dan ketakwaan. Namun dibawah ini pembahasan hanya sampai pada ayat ketiga Surat Al – Baqarah.

Ayat Pertama

Berbunyi “Alif laam miim”. Banyak tafsir yang dikemukakan oleh para ulama dan ahli agama mengenai ayat yang terdiri dari tiga huruf ini. Semua tafsir tersebut memiliki pendapatnya masing – masing, dan sampai saat ini tidak menemukan satu kesepakatan yang bulat dan utuh mengenai arti yang sesungguhnya dari ayat Alif laam miim ini.

Ada yang mengemukakan bahwa huruf Alif Lam dan Mim mengisyaratkan tiga nama, yaitu Alif untuk Allah, Lam untuk malaikat Jibril, dan Mim untuk Nabi Muhammad SAW. Tafsir tersebut dikemukakan dari riwayat Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas dalam riwayatnya juga berpendapat bahwa huruf Alif berarti Ana, Lam berarti Allah, dan Ra yang berarti Ara. Bila digabungkan menjadi arti Aku adalah Allah, Aku Melihat.

Kemudian berdasarkan riwayat Al – Baihaqi dan Ibnu Jarir menafsirkan bahwa ketiga huruf tersebut adalah kunci nama Allah Yang Maha Agung. Huruf Alif sebagai kunci dari nama Allah, Lam untuk nama – Nya Lathif, dan Mim untuk nama – Nya Majid. Selain hal tersebut, ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini termasuk dalam ayat mutasyabih, yaitu hanya Allah SWT saja yang mengetahui artinya.

Ayat Kedua

“Kitab (Al – Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Tidak ada keraguan lagi pada Al – Qur’an karena merupakan firman Allah SWT, yang Allah langsung turunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat – Nya. Tidak mengalami perubahan sekalipun sejak diturunkan hingga saat ini dan menjadi petunjuk bagi mereka (yang bertakwa).

Arti ini berkaitan dengan ayat terakhir dalam Surat Al – Fatihah yang memohon diberikan petunjuk jalan yang lurus, jalan yang diridhai oleh – Nya, bukan jalan orang yang sesat. Allah kemudian menjawabnya melalui ayat ini. Itulah mengapa Surat Al – Baqarah menjadi surat kedua dalam Al – Qur’an, karena bila ditelaah memiliki kesinambungan makna dengan ayat terakhir surat sebelumnya, demikian seterusnya.

Takwa sendiri berasal dari kata wiqayah yang berarti memelihara. Memelihara yang dimaksud adalah memelihara hubungan yang baik dengan Allah SWT.  Memelihara diri dari hal – hal yang tidak diridhai Allah, dan menjalankan semua perintah – Nya. Demikian arti kata takwa yang paling dikenal sampai saat ini. Takwa merupakan pelaksanaan dari iman dan amal shalih.

Ayat Ketiga

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”. Pada ayat ini adalah penjelasan mengenai ciri – ciri orang yang bertakwa. Hal pertama yang dibahas adalah tentang keimanan. Iman berarti percaya. Iman dilakukan dengan pengakuan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Beriman adalah hal pertama yang harus Anda lakukan sebagai seorang muslim. Beriman kepada yang ghaib, berarti percaya kepada yang tidak dapat dirasakan oleh panca indera, namun dapat dirasakan oleh akal. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah Allah Sang Pencipta. Tidak dapat Anda lihat, namun adanya bumi, alam semesta beserta isinya membuat Anda berfikir, bukan?

Lalu keimanan berlanjut yang Anda kenal sebagai Rukun Iman yang berjumlah enam butir pokok, orang yang demikian disebut sebagai seorang mukmin. Salah satu bentuk keimanan adalah dibuktikan dengan amal perbuatan. Pada ayat ini dijelaskan bagaimana Anda dapat menunjukkan kalau Anda beriman, yaitu dibuktikan dengan melaksanakan sholat, hingga menyedekahkan sebagian rezeki – Nya.

Sekian pembahasan Surat Al Baqarah, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.