Surat Al Ikhlas

Tahukah Anda tentang surat al ikhlas? Apa sajakah yang terkandung dalam surat ini? Surat al ikhlas memang merupakan sebuah surat pendek dalam Al Qur’an yang memiliki keistimewaan luar biasa. Bagaimana bisa? Surat yang turun di wilayah makkah ini memiliki arti dan makna yang tauhid dan merupakan salah satu jiwa dari agama Islam karena memiliki inti bahwa Allah itu Esa.

Surat Al Ikhlas merupakan surat ke-112 dalam Al Qur’an. Kata Al Ikhlas memiliki arti “Memurnikan Keesaan Allah”. Surat ini banyak di amalkan dalam kegiatan sehari-hari, mulai dari amalan saat Anda bangun tidur, melakukan aktivitas harian sampai akan kembali tidur. Artikel berikut ini akan menjelaskan tentang beberapa hal ulasan tentang surat Al Ikhlas.

Surat Al Ikhlas dalam Bahasa Arab

Surat Al Ikhlas dalam Bahasa Arab

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمَ

قُلْهُوَ اللهُ اَحَدٌ  اَللهُ الصَّمَدُ .  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ . وَلَمْ يَكٌنْ لَهُ كُفُوً ااَحَدٌ .

Surat Al Ikhlas Latin

Bismillahir rahmaanir rahiim

Qul’huwallahu ahad. Allaahush shomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakulahuu kufuwan ahad.

Arti Surat Al Ikhlas

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Katakanlah : Dialah yang maha esa. Allah adalah tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia.

Tentang Surat Al Ikhlas

Tentang Surat Al Ikhlas

Surat Al Ikhlas merupakan surat ke 112 di dalam Al Qur’an, surat ini di turunkan di Makkah dan tergolong sebagai surat Makkiyah. Sebagai surat pendek, surat Al Ikhlas memiliki 4 (empat) ayat pendek. Al Ikhlas, dalam bahasa arab di tuliskan sebagai اَلْاِخْلَصُ , yang memiliki arti “Memurnikan Keesaan Allah”. Surat Al Ikhlas terletak dalam juz terakhir Al Qur’an, yakni juz 30 (tiga puluh).

Surat Al Ikhlas memiliki inti isi yang menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang maha Esa, dan menolak segala bentuk persekutuan kepada-Nya. Kalimat قُلْهُوَ اللهُ اَحَدٌ  اَللهُ الصَّمَدُ (Qul’huwallahu ahad. Allaahush shomad. Arti : Katakanlah : Dialah yang maha esa. Allah adalah tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu.) di tulis dalam uang dinar emas pada masa kekhalifahan dulu.

Asal Usul Turunnya Surat Al Ikhlas

asal usul turunnya surat al ikhlas

Ada banyak riwayat yang menjelaskan tentang awal mula turunnya surat Al Ikhlas ini kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. Namun pada intinya adalah surat ini di turunkan sebagai perintah kepada Nabi Muhammad dan para umatnya untuk menjawab dengan lantang tentang sifat Allah yang Maha Esa. Dia lah yang berdiri sendiri, Maha Besar dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa sekelompok Bani Quraisy pernah meminta kepada Nabi Muhammad untuk menjelaskan tentang leluhur Tuhannya, yakni Allah Subhanallahu wa ta’ala atau juga asal usul dari Allah sebagai Tuhan alam semesta. Berawal dari hal tersebut, turunlah surat Al Ikhlas untuk menjelaskan kepada Bani Quraisy tersebut tentang sifat Allah yang Esa.

Riwayat selanjutnya adalah di riwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi, yang menyebutkan bahwa surat Al Ikhlas turun ketika orang musyrik meminta dan menyuruh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk membuktikan keesaan Allah Subhanallahu wa ta’ala. “Beritahu kepada kami tentang sifat Tuhanmu!” pinta orang musyrik. Di saat itu pula turunlah ayat ini kepada Nabi Muhammad.

Selain riwayat yang menunjukkan bahwa surat Al Ikhlas merupakan surat Makkiyah, ternyata ada pula riwayat sahabat nabi yang menyebutkan bahwa surat Al Ikhlas bukanlah tergolong sebagai surat Makkiyah, melainkan surat Madaniyah. Namun berdasarkan urutan peristiwa yang pertama kali terjadi di dalam hadist-hadist, maka di putuskan bahwa surat ini merupakan surat Makkiyah.

Keutamaan Surat Al Ikhlas

Keutamaan Surat Al Ikhlas

Sebagai sebuah surat pendek yang tercantum dalam Al Qur’an, surat Al Ikhlas memiliki keutamaan yang melebihi keutamaan surat-surat lainnya. Kenapa? Dalam beberapa hadis yang pernah di sampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam pernah menyebutkan bahwa Pahala sekali membaca surat Al Ikhlas sama dengan pahala membaca sepertiga membaca Al Qur’an.

Luar biasa sekali bukan? Bayangkan apabila Anda membaca minimal tiga surat Al Ikhlas setiap hari, maka pahala yang Anda dapatkan adalah setara dengan pahala sekali mengkhatamkan bacaan Al Qur’an. Nah apabila Anda mampu membaca surat Al Ikhlas ini lebih dari tiga kali, atau beberapa kali lipat dari tiga bacaan, mak seberapa banyak pahala mengkhatamkan Al Qur’an yang Anda dapat?

Beberapa kisah mengiringi hadist ini, salah satunya adalah dimana kisah Nabi Muhammad yang bertanya kepada para sahabat untuk mengkhatamkan Al Qur’an dalam waktu satu malam. Namun umar menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang amat mustahil. Saat Ali menyanggupi apa yang di minta Rasulullah, umar menganggap Ali masih belum mengerti maksud Nabi karena masih muda.

Kemudian Ali pun membacakan surat Al Ikhlas di depan Nabi sebanyak tiga kali dan Nabi Muhammad pun membenarkan apa yang dilakukan oleh Ali. Selain itu ada pula kisah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang menceritakan bahwa 70.000 malaikat di utus kepada salah seorang sahabat yang meninggal hanya karena ia sering membaca surat Al Ikhlas.

Bagaimana? Cukup besar juga bukan, keutamaan dari surat Al Ikhlas satu ini? Oleh karena itu, banyak amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari yang menyarankan untuk membaca surat Al Ikhlas ini sebagai bagian dari amalan tersebut. Salah satunya adalah membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali sebelum Anda beranjak tidur.

Kandungan Tiap-Tiap Ayat Surat Al Ikhlas

Kandungan Tiap-Tiap Ayat Surat Al Ikhlas

Ayat 1

قُلْهُوَ اللهُ اَحَدٌ

Qul’huwallahu ahad

Artinya  : “Katakanlah     : Dialah Allah yang Maha Esa”.

Sebagaimana awal mula turunnya surat Al Ikhlas, ayat pertama ini menunjukkan bahwa apabila seorang muslim mendapatkan pertanyaan tentang sifat Allah yang paling utama, maka Anda harus menjawab dengan lantang tentang Sifat Allah yang Maha Esa. Perintah ini tak hanya di turunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam, melainkan juga pada umatnya.

Sifat Allah, yakni Allah yang Maha Esa atau Tunggal menunjukkan bahwa dengan demikian tiada Tuhan lain yang mampu menandingi kekuasaan-Nya selain Allah. Tiada sekutu ataupun tandingan bagi Allah Subhanallahu wa ta’ala. Dia hanya sendiri dengan segala keagungan dan kebesaran yang menyelimuti-Nya. Selain itu Allah tidak dibentuk dari komponen karena Dia adalah diri-Nya sendiri.

Makna ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah bukanlah sesuatu yang beranak dan di peranakkan serta tak ada seorangpun ataupun sesuatu pun yang mampu menandingi kebesaran dan keagungannya. Perincian dan penjelasan tentang ke-esa’an Allah Subhanallahu wa ta’ala juga di jelaskan dalam beberapa ayat lain dalam Al Qur’an.

Menurut Buya Hamka, ayat pertama dalam surat Al-Ikhlas merupakan pangkal aqidah dan puncak dari kepercayaan. Pengakuan atas ke-Esa’an atau hanya ada satu Tuhan saja yang pantas untuk di puja dan di sembah. Tuhan tersebut adalah Allah Subhanallahu wa ta’ala, dimana tiada Tuhan lain yang mampu menandingi ataupun sekutu yang menyerupai-Nya.

Ayat 2

اَللهُ الصَّمَدُ

Allaahush shomad

Artinya  : “Allah adalah tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu.”

Kata “Allah adalah tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu”, menunjukkan bahwa hanya Allah lah tempat bersandar, berserah diri, memohon, dan bergantung. Sedangkan bila di tinjau dari kata “Al-Samad” berdasarkan bahasa memiliki arti tuan yang di tuju suatu perkara, dimana hal tersebut tidak akan terlaksana tanpa atau oleh sebab izin dari tuan tersebut.

Nah, tuan yang di maksud dalam ayat tersebut adalah Allah subhanallahu wa ta’ala. Jadi secara utuh dapat di artikan sebagai, Allah lah sebagai pengatur utama kehidupan. Hanya Dia yang mampu menghentikan suatu hal dan Dia juga yang menentukan perkara tersebut terjadi. Sehingga hanya Allah lah sebaik-baik tempat bergantung dan tempat bersandar dari segala permasalahan duniawi.

Selain arti tersebut, ada pula ulama yang berpendapat atau mengartikan kata al-Samad sebagai “tidak memiliki rongga”, sehingga apabila di kembangkan maka akan di dapatkan arti “sesuatu yang tidak memiliki rongga, atau berarti bahwa Ia amat sangat padat, sehingga ia tidak membutuhkan sesuatu untuk di masukkan atau di sisipkan kepada diri-Nya sebagai pelengkap”.

Kesimpulannya adalah, ayat kedua dari surat Al Ikhlas ini memiliki makna yang serupa dengan kandungan makna kalimat “Hasbunallah wa nikmal wakil, ni’mal maula wa ni’man nasir”. Di mana kalimat ini juga menyebutkan bahwa hanya Allah lah satu-satunya tempat mengadu dan memohon yang paling baik dan tiada Tuhan lain yang mampu melampauinya.

Ayat 3

.  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ

Lam yalid walam yuulad.

Artinya  : “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Allah adalah Dzat yang tetap, kekal, abadi dan azali. Sifat yang tetap membuatnya tidak akan pernah mengalami perubahan ataupun berubah-ubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Ia sempurna dan mutlak dalam segala situasi dan keadaan. Ia juga merupakan Dzat yang kekal dan abadi, dimana hal tersebut menunjukkan bahwa dialah sang awal dan dia pula sang akhir.

Dia tidak beranak, tidak memiliki anak, dan tidak diperanakkan oleh dzat ataupun makhluk tertentu. Kelahiran bias juga di artikan sebagai kemunculan atau pembaharuan dari suatu kekurangan, oleh karena itu mustahil bagi Allah untuk di lahirkan kembali dari suatu perkawinan atau sebagainya untuk mendukung kemunculannya sedangkan dirinya lah sang maha pencipta.

Karena sifatnya yang tidak beranak, tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan, maka Allah adalah Dzat yang tidak membutuhkan makhluk ataupun dzat lain untuk membantunya dan meneruskan eksistensi-Nya sebagai Tuhan atau bisa dimaknai juga, bahwa Allah berdiri sendiri. Allah memiliki sifat Al Awwal yang tidak ada sesuatu pun sebelum Dia.

Allah berfirman dalam surat Al An’am ayat 101:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضِ , اَنَّى يَكُوْنُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ , وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ , وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيْمٌ .

Artinya  : Dia pencipta langit dan bumi, bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri, Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Ayat surat Al Ikhlas ayat 3 dan surat Al An’am ayat 101 ini juga sebagai bantahan kepada 3 golongan yang menyimpang, yakni orang-orang musyrik, Yahudi dan Nasrani. Dimana mereka menganggap bahwa Allah Subhanallahu wa ta’ala mampu memiliki anak melalui seorang makhluk ataupun dzat lain yang dianggap menyerupai diri-Nya.

Orang-orang musyrik menganggap bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, orang Yahudi menganggap Ulzair sebagai anak laki-laki Allah. Sedangkan orang Nasrani menganggap bahwa nabi Isa sebagai putra Allah. Melalui surat Al Ikhlas ini Allah menunjukkan bahwa para musyrikin adalah golongan orang-orang yang berdusta akan sifat-sifat Allah yang sesungguhnya.

Ayat ini juga mendukung argumentasi dari ayat pertama yang menunjukkan bahwa Allah Maha Esa. Sehingga apabila Dia mampu beranak, memiliki anak ataupun diperanakkan, maka bias jadi dapat di simpulkan bahwa ada makhluk ataupun dzat lain yang memiliki kemampuan dan kekuasaan yang sama dengan Allah. Padahal Allah itu Maha Esa.

Ayat 4

وَلَمْ يَكٌنْ لَهُ كُفُوً ااَحَدٌ

Walam yakulahuu kufuwan ahad.

Artinya  : “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia.”

Bentuk penekanan aktualisasi dan eksistensi Allah sebagai Dzat Yang maha Esa, maka tidak boleh ada makhluk ataupun Dzat lain yang setara ataupun memiliki kemampuan bahkan kekuasaan yang sama dengan-Nya. Allah Maha Tinggi, dan Dialah Raja yang merajai alam semesta, dengan merajai dari segala raja, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam sebuah hadis Qudsy menyatakan bahwa, Allah Subhanallahu wa ta’ala pernah berfirman:

كَذَّبَنِى تبْنُ اَدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِى وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَاَمَّا تَكْذِيْبُهُ اِيَّايَ فَقَوْلُهُ لَنْ يُعِيْدَنِى كَمَا بَدَاَنِى وَلَيْسَ اَوَّلُ الْخَلْقِ بِاَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ اِعَادَتِهِ وَاَمَّا شَتْمُهُ اِيَّايَ فَقَوْلُهُ اتَّخَذَ الَّلهُ وَلَدًا وَاَنَا الّاحَدُ الصَّمَدُ لَمْ اَلِدْ وَلَمْ اُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَي كُفْئًا اَحَدٌ .

“Anak Adam telah menganggap Aku berdusta, padahal itu tidak benar, ia juga telah memaki Aku, padahal itu tidak layak. Adapun menganggap-Ku berdusta adalah ucapannya bahwa Aku tidak dapat menghidupkan kembali seperti semula, padahal mencipta tidaklah lebih ringan daripada menghidupkan kembali. Adapun caci makinya adalah ucapannya bahwa Allah punya anak, padahal Aku Maha Esa, bergantung segalanya kepada-Ku, Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Ku”. (HR. Bukhari)

Penggunaan Surat Al Ikhlas Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Penggunaan Surat Al Ikhlas Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Apakah Anda pernah melakukan amalan-amalan yang menggunakan surat Al Ikhlas sebagai bagian dari amalan tersebut. tahukah Anda bahwa beriringan dengan manfaat da pahala surat Al Ikhlas yang cukup besar membuat surat ini tak lepas dari amalan-amalan harian dalam islam. Beberapa amalan di antaranya adalah membaca surat Al Ikhlas saat Anda telah menyelesaikan salat fardhu Anda.

Membaca surat Al Ikhlas seusai salat fardhu di barengi dengan bacaan surat Al Fatehah, An Naas, Al Alaq dan beberapa surat lainnya yang di ambil beberapa bagian ayatnya. Doa atau bacaan ini menjadi suatu perlambangan permohonan kita kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. Di sisi lain, Anda juga bisa mengamalkan surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali setiap sebelum akan tidur.

Nah, meskipun pahala yang Anda dapatkan saat membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali adalah sebesar pahala untuk mengkhatamkan Al Qur’an, namun alangkah baiknya apabila Anda tetap merutinkan diri untuk membaca keseluruhan bagian Al Qur’an sebagai tambahan pengetahuan dan ladang amal bagi Anda.

Bagaimana menurut Anda tentang surat Al Ikhlas satu ini? Cukup menarik dan bernilai bukan. Suratnya yang cukup pendek dapat membantu mereka yang ingin menghafal bagian-bagian ayatnya beserta dengan arti-artinya. Selain itu keutamaannya yang amat besar dapat membantu Anda dalam mengumpulkan pahala yang besar.

Wallahu a’lam

Sekian pembahasan Surat Al Ikhlas, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.