Wali Songo

Wali songo berarti sembilan orang wali. Adapun ke sembilan wali tersebut diantaranya maulana Malik Ibrahim, sunan Ampel, sunan Giri, sunan Bonang, sunan Kalijaga, sunan Drajat, sunan Kudus, sunan Gunung Jati serta Sunan Muria. Kesembilan Wali tersebut tidak hidup pada saat yang sama atau bersamaan.

Dari kesembilan wali songo tersebut, maulana Malik Ibrahim merupakan yang tertua. Kisah  ini merupakan era berakhirnya dominasi Hindu Budha serta budaya nusantara yang kemudian diganti dengan kebudayaan Islam. Adapun mengenai kisah dari kesembilan Wali ini bisa dilihat dalam uraian berikut ini.

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di samarkand yaitu Asia Tengah. Beliau diperkirakan lahir di awal abad ke-14. Maulana Malik Ibrahim di Arab juga dikenal sebagai Syekh magribi. Sebagian rakyat memanggilnya dengan kakek bantal. Iya merupakan saudara Maulana Ishaq yaitu ulama yang terkenal di Samudera Pasai Sekaligus merupakan ayah dari Sunan Giri.

Maulana Malik Ibrahim pernah tinggal di campa yang sekarang dikenal dengan Kamboja kurang lebih selama 13 tahun bahkan Beliau juga pernah menikahi putri raja. Dikaruniai 2 orang Putra. Kedua orang putranya tersebut yaitu Raden Rahmat yang saat ini dikenal dengan nama Sunan Ampel. Serta Sayyid Ali murtad alias Raden Santri.

Maulana Malik Ibrahim mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam, ia mengajak masyarakat kalangan bawah yang disisihkan di dalam kasta Hindu. Maka pada waktu itu sempurnalah misi pertamanya. Yaitu di mana beliau bisa mengambil hati masyarakat sekitar itu itu sedang dilanda krisis ekonomi serta perang saudara.

Sunan Ampel

Sunan Ampel

Sunan Ampel merupakan putra tertua dari Maulana Malik Ibrahim. Beberapa versi menyebutkan jika Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa di tahun 1443 Masehi .Sebelum ke Jawa, Sunan Ampel singgah terbit dahulu di Palembang.

Setelah menetap 3 tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Setelah itu dilanjutkan pergi ke kerajaan Majapahit untuk menemui saudaranya. Sunan Ampel kemudian menikah dengan seorang putri yaitu seorang Adipati yang berada di Tuban. Dari perkawinan tersebut ia kemudian dikaruniai beberapa Putera serta Putri.

Adapun salah satu penerusnya dari putranya yaitu Sunan Bonang serta Sunan Drajat. Di Ampel Denta yang berawa-rawa yaitu merupakan daerah yang dihadiahkan dari Raja Majapahit kemudian ia membangun serta mengembangkan pondok pesantren. Awal mula ia merangkul masyarakat di sekitarnya.

Kemudian di pertengahan abad ke-15 Pesantren tersebut akhirnya menjadi salah satu sentra pendidikan yg yang memiliki pengaruh cukup besar di wilayah nusantara bahkan hingga ke mancanegara. Sunan Ampel menganut fikih mazhab Hanafi akan tetapi, ketika memberikan pelajaran kepada para santrinya, iahanya memberikan pelajaran sederhana yang lebih menekankan di dalam penanaman aqidah dalam ibadah.

Sunan Ampel juga mengenalkan istilah molimo. Yakni sebuah ajakan untuk tidak berjudi, tidak mengkonsumsi minuman keras, mencuri tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika serta tidak berzina.

Sunan Giri

Sunan Giri

Sunan Giri memiliki nama kecil Raden paku. Sunan Giri lahir di Blambangan yang kini dikenal dengan nama Banyuwangi. Beliau lahir pada tahun 1442 Masehi. Ayahnya yaitu Maulana Ishak yang merupakan saudara kandung dari Maulana Malik Ibrahim. Waktu itu Maulana Ishak berhasil mengislamkan istrinya akan tetapi gagal dalam mengislamkan sang mertua.

Dengan demikian maka Iya akhirnya meninggalkan keluarga istrinya dan berkelana sampai di Samudra Pasai. Kisah Wali Songo Sunan Giri ini diawali dari Sunan Giri menuntut ilmu di pesantren. Beliau juga sempat berkelana hingga ke Malaka dan Pasai. Kalau merasa hidupnya sudah cukup maka beliau kemudian membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti wilayah yang berada di selatan Gresik.

Pesantren yang dibuatnya bukan hanya digunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit. Mainkan juga menjadi pusat pengembangan masyarakat. Para santri dari pesantren Giri juga dikenal sebagai agama Islam yang gigih di berbagai pulau. Bahkan menyebarkan Islam hingga ke Sulawesi Selatan.

Di dalam keagamaan sunan Giri dikenal karena memiliki pengetahuan yang luas di dalam ilmu fiqih. Selain itu orang-orang juga menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Sunan Giri juga merupakan seorang pencipta karya seni yang sangat bagus. Beliau berhasil menciptakan permainan anak di antaranya jelungan jamuran, cublak-cublak Suweng.

Hingga akhirnya kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Pulau Jawa pada waktu itu. Di mana Raden patah melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Jadi kemudian bertindak sebagai penasihat serta Panglima militer Kesultanan Demak. Hal itu tercatat di dalam babad Demak.

Konflik Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia pun akhirnya diakui juga sebagai multi seorang Panglima Pemimpin tertinggi keagamaan di Jawa. Yang mana  mampu bertahan sampai 200 tahun. Yaitu Pangeran Singosari yang dikenal sebagai tokoh paling gigih dalam menentang kolusi VOC serta Amangkurat 2. Bukan hanya itu saja para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar agama Islam yang gigih.

Sunan Bonang

Sunan Bonang

Sunan Bonang merupakan anak dari Sunan Ampel yang merupakan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Sunan Bonang memiliki nama kecil Raden Makdum Ibrahim. Beliau lahir di tahun 1465 masehi dari seorang perempuan yang memiliki nama Nyi Ageng Manila. Yang mana merupakan seorang putri Adipati dari Tuban Sunan Kudus lebih banyak berguru dengan Sunan Kalijaga.

Selain itu, ia juga berkelana ke berbagai daerah tandus di ada di Jawa Tengah seperti Sragen, simo sampai ke Gunung Kidul. Cara berdakwah yang dilakukan oleh Sunan Bonang pun juga sangat mirip dengan pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang sangat toleransi terhadap kebudayaan setempat. Kisah Wali Songo Sunan Bonang ini juga perlu kita teladani. Di mana beliau gigih dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Bonang juga berhasil mengubah cerita ketauhidan. Kisah tersebut kemudian disusun secara seri, akhirnya masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan oleh Sunan bonang.

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga

Kisah Wali Songo Sunan Kalijaga ini merupakan kisah yang paling banyak disebut oleh masyarakat Jawa. Sunan Kalijogo merupakan Sunan yang lahir pada tahun 1450 Masehi. Yang merupakan anak dari Arya wilatikta yang merupakan Adipati Tuban. Ayahnya merupakan tokoh pemberontakan Majapahit Ronggolawe di waktu itu.

Sunan Kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Selain itu beliau juga memiliki sejumlah nama panggilan di antaranya Lokajaya, syekh Malaya, pangeran Tuban serta Raden Abdurrahman. Masyarakat Cirebon berpendapat jika nama tersebut berasal dari dusun Kalijaga. Yaitu sebuah dusun yang ada di Cirebon. Memang Sunan Kalijaga pernah tinggal di daerah Cirebon serta memiliki sahabat yaitu Sunan Gunung Jati.

Sunan Kalijaga diperkirakan hidup lebih dari 100 tahun. Dengan demikian diperkirakan Iya mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit, kesultanan Demak, kesultanan Cirebon serta Banten.Ketika melakukan dakwah, beliau menggunakan pola yang sama oleh guru serta sahabat dekatnya yaitu Sunan Bonang. Agama yang dibawanya cenderung sufistik berbasis Salaf.

Sunan Kalijaga juga sangat toleran terhadap kebudayaan lokal. Selain itu, ia juga berpendapat jika masyarakat akan menjauh menang kalah diserang oleh pendiriannya. Untuk itu maka cara melakukan pendekatannya harus dengan bertahap di mana beliau mengikuti sambil mempengaruhi. Agama yang diberikan oleh Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam.

Beliau menggunakan seni ukir, wayang, seni suara suluk yang menjadi salah satu sarana dakwah. Beliau juga merupakan pencipta baju taqwa, perayaan Sekaten, Grebeg Maulud  dan layang Kalimasada,, bahkan lakon wayang Petruk yang menjadi raja. Selain itu lanskap pusat kota juga berupa Keraton alun-alun dengan adanya dua beringin serta masjid yang diyakini merupakan karya dari Sunan Kalijaga.

Dakwah tersebut ternyata sangat efektif, sebagian besar Adipati yang berada di Jawa akhirnya memeluk agama Islam melalui Sunan Kalijaga. Diantara Adipati tersebut adalah Adipati Pandanaran,  kartasuro, banyumas, kebumen serta pajang. Sunan Kalijaga akhirnya dimakamkan di kadilangu, yaitu sebuah tempat yang berada di selatan Demak.Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Djati

Kisah Wali songo dari sunan Gunung Jati banyak yang tidak masuk akal. Seperti cerita bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra Mi’raj Kemudian bertemu dengan Rasulullah. Semua itu hanyalah isyarat kekaguman masyarakat di waktu itu terhadap Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati yaitu Wali songo yang lahir sekitar tahun 1448 Masehi. Dia merupakan anak dari Nyai Rara Santang itu putri dari Raja Pajajaran. Sunan Gunung Jati mendalami ilmu agama sejak masih berusia 14 tahun dari para ulama di Mesir.

Selain itu beliau juga sempat berkelana hingga ke berbagai negara menyusul berdirinya Kesultanan Demak Bintoro.  Banyak ulama lain Sunan Gunung Jati akhirnya mendirikan Kesultanan Cirebon yang saat ini dikenal sebagai Kesultanan pakungwati. Melihat cerita tersebut maka bisa dikatakan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Wali Songo yang memimpin pemerintahan.

Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memanfaatkan pengaruhnya sebagai Putra Raja Pajajaran. Bersama dengan putranya semoga jadi akhirnya melakukan ekspedisi ke Banten. Di waktu menginjak usia 89 tahun sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya.

Sunan Drajat

Sunan Drajat

Sunan Drajat memiliki nama kecil Raden Qosim yang merupakan anak dari Sunan Ampel. Serta merupakan saudara dengan Sunan Bonang. Sesuai dengan cerita yang beredar, bahwa Sunan Drajat ini memiliki gelar Raden Syarifuddin. Terkait dengan kelahirannya, sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1970 Masehi.

Sunan Drajat mendapatkan tugas pertama kali dari ayahnya untuk melakukan dakwah ke pesisir Gresik. Selain itu, ia juga berdampak di sebuah Dusun yang saat ini dikenal dengan nama Lamongan. Akan tetapi, setahun setelahnya Sunan Drajat berpindah 1 km ke arah selatan serta mendirikan Padepokan santri dalem duwur. Tempat tersebut saat ini disebut dengan nama desa Drajat, Paciran,  Lamongan.

Di dalam mengajarkan tauhid serta aqidah, sunan Drajat menggunakan cara yang digunakan oleh ayahnya. Beliau langsung serta tidak banyak melakukan pendekatan di budaya lokal. Tetapi Meskipun demikian, penyampaiannya juga turut mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan oleh Sunan Muria.

Salah satunya yaitu seni suluk. Selain itu ia juga mengubah sejumlah sudah. Sunan Drajat juga dikenal sebagai orang yang bersahaja serta suka menolong. Di pondok pesantrennya, banyak memelihara anak-anak yatim piatu serta fakir miskin.

Sunan Kudus

Sunan Kudus

Sunan Kudus memiliki nama kecil Jafar Shodiq. Sunan Kudus merupakan pasangan dari Sunan ngandung serta Syarifah atau adik dari Sunan Bonang diceritakan jika tulang udang merupakan. Perang Putra sultan yang udah berkelana sampai di pulau Jawa. Hingga akhirnya ketika sampai di Kesultanan Demak ia diangkat untuk menjadi panglima perang.

Sunan Kudus banyak belajar dari Sunan Kalijaga. Selain itu, ia juga berkelana hingga ke berbagai daerah tandus yang berada di Jawa Tengah seperti Sragen,  bahkan Gunungkidul. Cara berdakwah yang dilakukan pun juga sangat mirip dengan cara yang pertama dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus yaitu dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu serta benda hal itu nampak terlihat dari arsitektur Masjid Kudus saat ini. Di mana bentuk menara gerbang serta padasan wudhu juga melambangkan delapan Jalan Budha. Itu merupakan salah satu wujud kompromi yang secara sengaja Sunan Kudus lakukan.

Selain itu, Sunan Kudus juga memancing masyarakat untuk pergi ke masjid menggunakan tekniknya. Beliau sengaja menempatkan sapinya yang diberikan nama kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu merupakan orang yang mengagungkan sapi.

Apalagi ketika mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus mengenai surat Al Baqarah yang memiliki arti sapi betina. Hingga saat ini sebagian masyarakat tradisional yang berada di Kudus masih menolak untuk melakukan penyembelihan sapi.

Sunan Muria

Sunan Muria

Sunan Muria merupakan putra dari Dewi Saroh yaitu adik kandung dari Sunan Giri sekaligus anak dari Syekh Maulana Ishaq dengan Sunan Kalijaga. Memiliki nama kecil Raden Prawoto. Kisah Wali Songo Sunan Muria ini di mana nama Muria diambil dari sebuah tempat tinggal terakhirnya yaitu di lereng gunung Muria. Gunung Muria ini terletak 18 km ke utara menuju Kota Kudus.

Terkait dengan cara berdakwahnya beliau banyak mengambil cara yang dilakukan oleh ayahnya sendiri yaitu Sunan Kalijogo. Akan tetapi berbeda dengan sang ayah, dimana Sunan Muria lebih banyak untuk tinggal di daerah sangat terpencil serta jauh dari pusat perkotaan untuk melakukan dakwah penyebaran agama Islam. Sunan Muria juga banyak bergaul dengan rakyat jelata.

Sembari mengejar keterampilan-keterampilan bercocok tanam, pedagang serta melaut. Sunan Muria juga kerap dijadikan sebagai penengah ketika terjadi konflik internal di dalam Kesultanan Demak. Sunan Muria dikenal sebagai sosok pribadi yang mampu memecah  beragam masalah.

Betapapun beratnya masalah tersebut. Selain itu, solusi pemecahannya pun selalu bisa diterima oleh semua pihak yang sedang berkonflik. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juanna hingga ke sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dari dakwahnya yaitu seni lagu Sinom dan Kinanti.

Makna Wali Songo

Makna Wali Songo

Songo Ini awalnya diartikan sebagai wali yang memiliki jumlah sembilan. Meskipun demikian, di dalam wacana kata tersebut ditemukan memiliki beberapa penafsiran lain. Kata Songo merupakan perubahan dari Arab tsana yang memiliki arti terpuji. Selain itu penafsiran lainnya juga menjelaskan jika kata sangha berasal dari kata sangha yang di dalam istilah agama Buddha memiliki arti jamaah para biksu atau ulama.

Dengan demikian, maka Walisongo berarti sekumpulan para wali yang terhimpun di dalam suatu lembaga dakwah. Berangkat dari perbedaan penafsiran ini, maka tidak terheran jika nama Wali Songo yang terhimpun dalam Walisongo antara satu daerah ternyata berbeda dengan daerah lain.

Proses Islamisasi Jawa merupakan hasil perjuangan serta kerja keras dari para Wali songo ini. Proses Islamisasi ini, sebagian besar berjalan secara damai yaitu nyaris tanpa adanya konflik. Konflik politik maupun konflik budaya. Meskipun terdapat konflik kecil ternyata sangat kecil.

Selain itu kehadiran Wali Songo juga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dikarenakan mereka menetapkan metode dakwah yang akomodasi serta lentur.

Sekian pembahasan Wali Songo, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.