Ketentuan Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba, maka itulah saatnya Anda sebagai umat Muslim akan menjalankan puasa selama 30 hari penuh. Tidak hanya sekedar melaksanakan ketentuan puasa Ramadhan dalam artian menahan lapar dan haus. Anda juga diwajibkan membatasi diri untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat membatalkan.

Sebaliknya, Anda sangat disarankan untuk memperbanyak amalan sholeh. Seperti Anda ketahui bahwa bulan Ramadhan sangat istimewa karena amalan sholeh akan dilipat gandakan pahalanya. Dengan demikian, inilah waktu yang tepat bagi Anda untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun, sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada baiknya Anda memahami berbagai ketentuannya.

Pengertian puasa Ramadhan

Pengertian puasa Ramadhan

Sebagai umat muslim yang beriman, Anda tentu sudah mengetahui bahwa puasa Ramadhan merupakan rukun iman keempat. Dikarenakan kedudukannya sebagai rukun iman, maka Anda wajib untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Melalui pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan, ini artinya Anda sudah melakukan kegiatan yang berhubungan dengan aspek hablum minallah.

Akan tetapi, berpuasa juga mempunyai keterkaitan dengan aspek hablum minanas. Jadi, selain meningkatkan kualitas ketaqwaan Anda terhadap perintah Allah SWT, melalui puasa hubungan antar sesama manusia juga menjadi lebih erat. Sebagai contoh, ketika Anda berpuasa maka akan timbul beberapa sikap positif.

Diantaranya yaitu munculnya rasa simpatik serta kebersamaan, semangat untuk saling tolong menolong dan berlatih menjaga perasaan orang lain. Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa puasa ramadhan adalah ibadah wajib yang harus dilakukan oleh umat muslim. Disini, puasa sebagai pewujudan dari rukun iman, pengamalan aspek hablum minallah dan hablum minanas.

Terdapat beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang mengatur soal ketentuan puasa Ramadhan serta menegaskan ibadah ini wajib dilaksanakan. Firman Allah SWT tersebut diantaranya adalah surat Al-Baqarah ayat 183 serta 185, Supaya lebih mudah dalam memahami maksud ayat tersebut, berikut ini adalah terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Q.S. Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Q.S Al-Baqarah ayat 185:

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”

Rukun puasa Ramadhan

Rukun puasa Ramadhan
  • Niat

Sebelum melakukan puasa Ramadhan, Anda harus mengawalinya dengan mengucapkan niat baik secara lisan maupun dalam hati. Niat menjadi bagian yang amat penting dan menentukan sah atau tidaknya puasa beserta ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Saking pentingnya, Rasulullah SAW sampai mengatur aspek ini dalam sebuah hadist yang diriwayatkan kepada jamaah berikut ini.

Sesungguhnya amal tergantung dari niat, dan setiap manusia hanya memperoleh apa yang diniatkannya.”

Ketentuan puasa Ramadhan yang bersangkutan dengan niat memang penting. Oleh sebab itu, Anda juga perlu mengetahui kapan waktu yang diwajibkan untuk mengucapkannya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh 5 orang perawi dari Hafsah, waktu pengucapan niat berpuasa adalah sebelum fajar tiba. Adapun bunyi terjemahan hadist yang mengatur soal niat puasa yaitu sebagai berikut:

“barang siapa tidak berniat berpuasa sebelum fajar, tak ada puasa baginya.”

Niat merupakan rukun puasa Ramadhan yang wajib Anda lakukan. Akan tetapi, mengenai kapan waktu pengucapannya hingga kini masih ada beberapa versi dari berbagai mahdzab yang ada. Menurut mahdzab Maliki, pernyataan niat melakukan ibadah puasa cukup dilakukan satu kali saja. Proses pengucapannya bisa dilaksanakan pada malam pertama bulan Ramadhan.

Sebaliknya, pandangan berbeda justru dikemukakan oleh mahdzab Syafii, Hanafi dan Hambali. Menurut ketiganya, niat untuk beribadah puasa mesti dilafalkan pada setiap malam selama bulan Ramadhan. Lalu, waktu pengucapannya dapat dilakukan setelah matahari terbenam hingga sebelum terbitnya matahari. Sekedar mengingatkan, di bawah ini adalah lafadz niat puasa beserta artinya.

Niat puasa Ramadhan versi mahdzab Syafii, Hanafi dan Hambali:

“Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta ‘aala”

(Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”)

Niat puasa Ramadhan versi mahdzab Maliki:

“Nawaitu sauma syahri ramadana kullihi lillahi ta’aalaa.”

(“Aku berniat berpuasa sebulan Ramadhan ini karena Allah ta’ala.”)

  • Menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan wujud ketaqwaan Anda kepada Allah SWT. Saat sedang menjalankan ibadah rukun iman keempat ini, Anda diwajibkan untuk menahan diri dan tidak diperkenankan melakukan beberapa hal. Diantaranya meliputi makan, minum, marah, bersetubuh dsb. Kesengajaan dalam melakukan tindakan tersebut, maka membuat puasa Anda menjadi batal.

Namun, bagi pasangan suami istri terdapat ketentuan puasa Ramadhan yang secara khusus mengatur pola hubungan mereka. Jika Anda sudah bersuami maupun beristri berhubungan intim di bulan Ramadhan memang tidak diperbolehkan. Tetapi, aturannya hanya berlaku setelah fajar hingga malam menjelang. Persoalan ini diatur dalam firman Allah SWT yaitu surat Al-Baqarah ayar 187.

Syarat wajib puasa Ramadhan

Maksud dari syarat wajib ini adalah kondisi seseorang yang sudah memasuki usia tertentu sehingga diwajibkan untuk berpuasa. Syarat yang pertama adalah berakal, ini artinya puasa harus dilakukan bagi Anda yang waras dan bisa berpikir logis. Sebaliknya, kewajiban berpuasa akan gugur apabila seseorang tersebut gila maupun dalam kondisi koma atau tidak sadarkan diri.  

Disamping berakal, Anda juga harus memenuhi syarat wajib lainnya yaitu baligh. Adapun beberapa tanda bagi pria maupun wanita ketika sudah mencapai kondisi baligh. Bagi pria biasanya ditandai dengan keluarnya air mani baik itu dalam kondisi sadar maupun sedang bermimpi. Kemudian, tanda lainnya adalah tumbuhnya rambut di sekitar area kemaluan.

Sementara itu, bagi wanita tanda-tanda kondisi baligh adalah berupa haid dan kehamilan. Lalu, masih ada syarat wajib berpuasa yang kedua yaitu kuat mengerjakannya. Artinya bila Anda dalam keadaan sakit dan berpuasa berpotensi mendatangkan beban dan membuat penyakit lebih parah, maka boleh tidak puasa. Selain itu, bagi Anda yang sedang bepergian jauh juga boleh tidak melakukannya.

Ketentuan puasa Ramadhan yang berhubungan dengan syarat wajib ini dipertegas dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Adapun terjemahan dari firman Allah SWT tersebut adalah sebagai berikut:

“…barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…”

Syarat sah puasa Ramadhan

Syarat sah puasa Ramadhan

Terdapat beberapa syarat yang akan menjadikan ibadah puasa Anda sah. Syarat pertama dan paling utama tentu saja Anda beragama Islam. Selanjutnya, persyaratan yang kedua adalah Anda harus bisa membedakan mana baik dan burut atau disebut juga Mumayiz. Kemudian, khusus wanita terdapat syarat tambahan yaitu suci dari haid dan nifas.

Jadi, apabila Anda adalah wanita dan dalam kondisi haid maupun nifas maka diperbolehkan tidak berpuasa. Namun, Anda tetap mempunyai kewajiban untuk mengganti jumlah hari tidak menjalankan ibadah puasa. Secara khusus, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim persoalan ini telah diatur.

Dari Mu’adzah dia berkata, Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

Hal-hal yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa

  • Bepergian jauh

Ketentuan puasa Ramadhan memperbolehkan Anda yang sedang melaksanakan perjalanan jauh untuk tidak berpuasa. Selama tujuan dari perjalanan Anda tersebut adalah bukan untuk melakukan kemaksiatan. Akan tetapi, sama seperti kasus pada wanita haid maupun hamil, dalam kondisi ini Anda juga wajib mengganti puasa di lain waktu.

Islam sendiri mengatur mengenai ketentuan berpuasa bagi Anda seorang musafir. Aturan tersebut terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 184 yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

  • Berusia lanjut

Bagi Anda yang berusia lanjut, maka berpuasa sebenarnya tidak disarankan. Islam memang memberikan toleransi terhadapa kondisi ini. Dikarenakan apabila Anda tetap berpuasa, maka dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan kesehatan. Selain itu, Anda juga tidak perlu menggantinya di lain waktu. Tindakan yang perlu dilakukan hanyalah mengeluarkan sejumlah fidyah.

Ketentuan puasa Ramadhan mengenai diperbolehkannya orang berusia lanjut untuk tidak berpuasa diatur dalam surat Al-Baqarah ayat 184. Adapun bunyi dari dalil firman Allah SWT tersebut dapat dilihat pada terjemahannya di bawah ini.

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

  • Dalam keadaan sakit

Jika Anda dalam keadaan sakit tetapi bisa sembuh lagi, maka boleh tidak berpuasa tetapi harus menggantinya. Sebaliknya, apabila penyakit yang Anda derita cukup parah dan kemungkinan sembuh kecil, maka tidak berkewajiban untuk menggantinya. Akan tetapi, kewajiban tersebut dialihkan menjadi pembayaran sejumlah fidyah bila mampu.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW mengatur ketentuan puasa Ramadhan. Hadist ini secara khusus membahas mengenai ketentuan berpuasa bagi mereka yang dalam kondisi sakit. Berikut adalah bunyi terjemahan dalil Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh sahabat tersebut.

Maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang miskin bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa.”

  • Wanita menyusui dan hamil

Saat masa kehamilan dan menyusui, wanita memang membutuhkan banyak asupan nutrisi. Oleh karena itu, Islam memberikan keringanan wanita dalam keadaan ini untuk tidak berpuasa. Tetapi, mereka tetap dibebankan kewajiban untuk menggantinya di kemudian hari. Tidak hanya sekedar itu, pembayaran fidyah juga harus tetap mereka lakukan.

Aturan yang memperbolehkan wanita hamil dan menyusui ini terdapat dalam salah satu hadist. Hadist tersebut adalah firman Allah SWT melalui Rasulullah SAW yang diriwayatkan kepada sahabatnya yaitu Abu Dawud. Di bawah ini adalah bunyi dari terjemahan hadist Rasulullah SAW tersebut.

Wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin “ (HR. Abu Dawud).

Sunnah-sunnah dalam menjalankan ibadah puasa

  • Sahur

Sunnah pertama yang mesti Anda lakukan sebelum melaksanakan ibadah puasa adalah sahur. Kegiatan ini dilakukan pada akhir malam meski hanya seteguk dengan air saja. Tujuan Anda melakukan aktivitas sahur adalah agar memiliki energi atau kekuatan untuk menjalankan puasa. Sebaiknya, sahur Anda akhiri sebelum terbitnya matahari sesuai dengan perintah Rasulullah SAW.

Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur.” (HR. Ahmad)

  • Segera berbuka puasa

Apabila waktu berbuka puasa telah tiba, maka berdasarkan ketentuan puasa Ramadhan Anda disunnahkan untuk segera membatalkan puasa. Ada beberapa jenis makanan yang disarankan untuk Anda konsumsi ketika berbuka. Diantaranya adalah kurma, makanan yang manis atau boleh hanya meminum air putih saja. Rasulullah SAW mengatur persoalan ini dalam sebuah hadist yang berbunyi:

“Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin ‘Amir)

  • Membaca niat berbuka puasa

Niat merupakan aspek penting yang harus Anda perhatikan dalam menjalankan ibadah puasa.

Selain niat yang dibacakan sehabis shalat tarawih dan sesudah sahur, Anda juga disunnahkan membaca niat berbuka puasa. Adapun bunyi dari lafadz niat buka puasa yang sering diucapkan oleh ummat muslim yaitu sebagai berikut:

Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin.

(“Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau beriman aku dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”)

  • Menjaga lisan dan perbuatan

Ketentuan puasa Ramadhan lainnya juga menyarankan Anda supaya menjaga lisan. Selain lisan, Anda juga sebaiknya menjaga perbuatan agar tidak menjurus ke arah maksiat. Apabila terlanjur melakukannya maka segeralah memohon ampun dan bertaubat. Tujuannya agar tidak terjerumus ke perilaku kemaksiatan lebih dalam.

  • Memperbanyak amalan shaleh

Bulan Ramadhan merupakan momen yang istimewa bagi ummat Islam. Dikarenakan pada bulan inilah segala amalan yang Anda lakukan akan dilipat gandakan pahalanya. Oleh sebab itu, Anda diharuskan untuk melaksanakan beberapa amalan wajib seperti sholat 5 waktu dan puasa itu sendiri. Selain amalan wajib, Anda juga disunnahkan untuk melakukan beberapa ibadah.

Amalan sunnah yang bisa dilakukan adalah membaca, menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an, melaksanakan sholat tarawih, tahajud dan witir. Selain itu, Anda juga sebaiknya sering melakukan i’tikaf di masjid terlebih waktu malam Lailatul Qadar. Jangan lupa juga untuk memberikan hak kaum dhuafa dari sebagian harta Anda.

Sekian pembahasan Ketentuan Puasa Ramadhan, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.