Kisah Ali bin Abi Thalib

Sejarah perkembangan agama Islam sangat menarik untuk dikulik dan dipelajari, salah satunya adalah kisah para tokoh dan sahabat Rasulullah yang terlibat dalam perjuangan menegakkan Islam. Perjuangan Rasulullah dalam membela agama Islam begitu menginspirasi para umatnya. Ribuan sahabat Rasulullah berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan mencapai ridha Allah SWT.

Ali bin Abu Thalib merupakan salah satu dari ribuan pejuang Islam yang kisahnya begitu menginspirasi dan patut untuk dicontoh. Ali bin Abu Thalib yang juga sahabat Rasulullah ini berhasil meroketkan Islam ke negeri jauh di Persia, hingga Afrika. Segudang prestasi yang membanggakan juga dimiliki oleh Ali bin Abu Thalib, tak heran jika kisah kehidupannya begitu menarik perhatian.

Kelahiran dan Masa Kecil Ali Bin Abu Thalib

kisah kelahiran ali bin abi thalib

Ali bin Abu Thalib merupakan putra dari pamannya Rasulullah yakni Abu Thalib. Ali bin Abu Thalib juga berstatus kerabat dekat dari Rasulullah, beliau adalah sepupu dari Rasulullah. Ali bin Abu Thalib lahir pada tanggal 13 Rajab di Mekkah, tepatnya di daerah Hejaz, Jazirah Arab. Menurut sejarawan dan beberapa kalangan ulama, Ali bin Abu Thalib lahir 10 tahun sebelum Rasulullah memulai kenabiannya, yaitu pada sekitar tahun 599 atau 600 Masehi.

Ali bin Abu Thalib dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Fatimah binti Asad, Asad merupakan anak dari Hasyim. Hal tersebut menjadikan Alin bin Abu Thalib merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak serta ibu. Muslim Syiáh mempercayai bahwa Ali bin Abu Thalib dilahirkan di dalam Ka’bah.

Pada awalnya, Ali bin Abu Thalib bernama asli Haydar bin Abu Thalib, yang memiliki makna Singa yang berarti harapan keluarga Abu Thalib untuk memiliki penerus yang menjadi tokoh pemberani serta disegani pada kalangan Quraisy Mekkah. Rasulullah rupanya tak terlalu menyukai nama asli tersebut, lalu beliau memanggilnya dengan nama baru yakni Ali, yang memiliki makna ÿang tertinggi derajatnya disisi Allah”.

Lahirnya Ali bin Abu Thalib ke dunia menjadi hiburan tersendiri bagi Rasulullah karena beliau tidak memiliki anak laki-laki, kemudian uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberikan kesempatan kepada Rasulullah Bersama sang istri, Kadhijah guna mengasuh Ali dan menjadikannya sebagai putra angkat. Ali diasuh oleh Rasulullah ketika berusia 6 tahun.

Diangkatnya Ali bin Abu Thalib oleh Rasulullah ini sekaligus sebagai tanda balas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Rasulullah sejak kecil hingga dewasa, hal ini menjadikan semenjak kecil, Ali bin Abu Thalib ini telah hidup Bersama dengan Rasulullah. Ali bin Abu Thalib sudah dianggap seperti anak kandung oleh Rasulullah, beliau sangat menyayangi Ali.

Istri Rasulullah, Khadijah juga sangat menyayangi Ali bin Abu Thalib. Ali memiliki beberapa saudara yakni, saudara laki-lakinya Aqil dan Ja’far, sementara itu saudara perempuannya yaitu Ummu Hani’serta Jumanah.

Rasulullah mengasuh Ali bin Abu Thalib hingga dewasa, selama itu banyak sekali pelajaran dan hal mulia yang yang diajarkan pada Ali. Ali bin Abu Thalib ini menjadi orang pertama yang masuk Islam sebelum sahabat-sahabat yang lainnya. Ali bin Abu Thalib mengakui kenabian Rasulullah ketika berusia 10 tahun. Sejak kecil, Ali sudah mengenal dan mempelajari agama Islam dengan baik

Kehidupan Masa Remaja dan Dewasa Ali bin Abi Thalib

Kehidupan Masa Remaja dan Dewasa Ali bin Abi Thalib

Sejak kecil, Ali bin Abi Tholib sudah hidup Bersama Rasulullah, tak heran jika nilai-nilai kebaikan sudah tertanam pada diri Ali sejak dirinya masih anak-anak. Ali bin Abi Thalib telah belajar Islam langsung dari Rasulullah, begitu banyak hal-hal yang telah dilaluinya Bersama dengan Rasulullah.

Manusia yang menginjak usia remaja pada umumnya mereka berada pada emosi tinggi dan sikap kelabilan, namun hal tersebut rupanya tidak tercermin pada kehidupan remaja Ali bin Abi Thalib. Ketika menginjak usia remaja, masa-masa Ali telah dihabiskan Bersama dengan Rasulullah serta menimba ilmu dalam agama Islam.

Ilmu dan didikan yang didapatkan Ali bin Abu Thalib langsung dari Rasulullah ini mencakup semua aspekislam, baik aspek zahir atau eksterior, dan batin atau interior, atus sering disebut juga dengan tasawuf. Berkat didikan Rasulullah ini, Ali pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang berani, bijak, serta cerdas.

Masa-masa remaja Ali bin Abi Thalib pun dilalui dengan penuh tantangan dan penggemblengan dari Rasulullah. Ketika Ali bin Abi Thalib beranjak dewasa, ia pun kemudian dinikahkan dengan putri dari Rasulullah, Fatimah Az Zahra, dari pernikahan tersebut,mereka pun dikaruniai empat orang anak.

Empat anak tersebut yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kultsum. Dikisahkan sebelum Rasulullah menerima Ali sebagai menantunya, beliau pernah menolak lamaran dari sahabat yang berstatus kaya raya serta memiliki jabatan pada waktu itu, yakni sahabat Abu Bakar As Shiddiqdan Umar bin Khatab.

Waktu itu Rasulullah menolak pinangan dari kedua sahabat tersebut kepada putrinya karena Malaikat Jibril dating kepada Rasulullah dan mengabarka bahwa Ali bin Abi Thalib lah yang akan menikah dengan Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah. Berdasarkan pendapat ulama, Ali bin Abu Thalib menikah dengan Fatimah setelah peristiwa perang Badar terjadi

Kisah Cinta Ali bin Abu Thalib dengan Fatimah Az Zahra

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan putri Rasulullah, Fatimah Az Zahra rupanya diwarnai dengan berbagai kisah yang sungguh menggetarkan hati. Hati Ali bin Abi Thalib tergetra ketika untuk pertama kalinya pada seorang wanita ketika Fatimah dengan cekatan membasuh serta mengobati luka ayahnya, Rasulullah ketika terluka parah setelah peperangan.

Melalui momen itu, Ali bin Abi Thalib lalu bertekad untuk membulatkan niat guna melamar Fatimah. Beliau tidak serta merta langsung mengajukan lamaran tersebut, melainkan sebelumnya beliau telah berusaha keras serta tekun mengumpulkan uang untuk membelikan mahar dan mempersunting putri Rasulullah.

Belum genap jumlah uang Ali bin Abi Thalib, nasib malang menghampirinya. Rupanya salah satu sahabat Rasulullah yang lainnya, yaitu Abu Bakar telah mendahuluinya dan terlanjur melamar Farimah Az Zahra. Saat itu hancurlah hati Ali melihat gadis pujaannya telah dipinang oleh laki-laki lain, namun Ali pun menyadari jika saingannya ini memiliki kualitas iman dan Islam yang lebih tinggi daripada dirinya.

Ali memang sosok yang dikenal sebagai pribadi yang gagah dan berani, namun disisi lain, beliau juga dikenal sebagai sosok yang miskin karena hidupnya telah dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah, beliau tak terlalu mengutamakan harta.

Kesedihan Ali pun segera terhapus lantaran beliau mengetahui Fatimah telah menolak lamaran dari Abu Bakar. Namun, tak lama kemudian hati Ali kembali terguncang kembali karena mendapat kabar ada sosok lain yang akan melamar Fatimah, sosok tersebut yaitu orang terdekat Rasulullah, Umar bin Khatab.

Ali bin Abi Thalib lagi-lagi hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit ini. Beliau kembali tersadar karena tak mungkin bisa bersaing dengan Umar bin Khatab yang begitu gagah perkasa. Sikap pasrah Ali pun akhirnya berbuah manis, kabar baik pun kembali ia dapati, lagi-lagi Fatimah menolak lamaran yang diajukan oleh Umar bin Khatab.

Meski telah mendapati kabar tersebut, Ali belum berani untuk mengambil sikap segera melaram Fatiman, beliau sangat sadar jika beliau hanyalah pemuda miskin yang tak memiliki banyak harta. Kemudian Ali pun berkata kepada Abu Bakar As-Siddiq, berikut petikan perkataan Ali kepada Abu Bakar:

“Wahai Abu Bakar, Anda telah membuat hati saya goncang yang sebelumnya merasa tenang, Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah aku lupakan, demi Allah, aku menghendaki Fatimah, akan tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku yaitu karena aku tidak memiliki apa-apa.”

Mendengar perkataan Ali, Abu Bakar pun terharu, belialu lalu membalas perkataan Ali, “Wahai Ali, jangan engkau berkata seperti itu, bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia beserta isinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!”

Setelah mendengan pertkataan Abu Bakar, Ali pun merasa terdorong dan semakin percaya diri untuk melamar gadis pujaanya, teman-temannya juga memberikan semangat dan dorongan kepada Ali agar berani meminang Fatimah.

Lalu datanglah Ali menemui Rasulullah, pada waktu itu Ali tidak langsung menyampaikan niatnya tersebut pada Rasulullah. Ali hanya terdiam dan  merasa grogi, tak berani mengungkapkan apa yang ada dalam isi hatinya.

Pada akhirnya, Rasulullah yang pertama kali membuak pertanyaan kepada Ali bin Abi Thalib, “Apakah engkau datang ingin melamar Fatimah?” tanya Rasulullah kepada Ali. Mendengar pertanyaan tersebut, Ali pun baru bisa mengeluarkan suara dan menjawabnya, “:Iya Rasulullah, aku ingin melamar Fatimah,”jawab Ali.

Namun, kebingungan kembali melanda Ali, beliau bingung karena merasa tak memiliki mahar yang cukup untuk melamar Fatimah, Rasulullah memang sungguh mulia, beliau lalu tak memberatkan atau mempersulit hal tersebut. Kemudian beliau berkata kepada Ali bahwa Ali memiliki baju besi yang dulu pernah diberikan oleh Rasulullah.

Kemudian Rasulullah pun menyetujui baju besi tersebut untuk dijadikan sebagai mahar pernikahannya. Setelah segala persiapan telah matang, dengan perasaan yang gembira, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab Kabul pada pernikahan putrinya dengan Ali. Lalu menikahlah Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah.

Pertempuran yang Diikuti Ali bin Abu Thalib Bersama Rasulullah

Sejak kecil, Ali diasuh oleh Rasulullah, hal itu membuat Ali menerima banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga, termasuk keterlibatannya dalam peperangan. Hampir semua peperangan Ali ikuti, kecuali perang Tabuk, karena dalam perang tersebut mewakili Rasulullah untuk menjaga Kota Madinah, berikut perang yang telah Ali ikuti bersama Rasulullah:

  • Perang Badar

Perang Badar terjadi pada tahun ke-2 setelah hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Pada saat itu, jumlah umat Islam sekitar 313 orang yang berhadapan dengan pasukan Quraisy yang berjumlah lebih banyak, yakni 1000 orang. Di kesempatan ini, Ali yang masih muda benar0benar menjadi pahlawan di samping Hamzah bin Abdul Muththallib, paman dari Rasulullah.

Pada perang ini, Ali berhasil memusnahkan banyak pasukan Quraisy Mekkah.Para ulama pun sepakan jika Ali telah menjadi bintang lapangan dalam peperangan ini pada usia yang masih sangat muda, yaitu sekitar 25 tahun.

  • Perang Khandaq

Perang ini terjadi pada tahun ke-5 H, ketika itu koalisi kafir Quraisy bersama Yahudi Madinah telah berkumpul untuk mengepung Madinah dari berbagai sudut kota. Pada perang ini, Ali pun kembali menunjukkan keberaniannya ketika memerangi Amar bin Abdu Wud.

  • Perang Khaibar

Perang ini terjadi pada tahun ke-8 H, perang Khaibar terjadi karena adanya pengkhianatan orang-orang Yahudi setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dan Yahudi. Ketika perang ini terjadi, orang-orang Yahudi bertahan di banteng Khaibar yang berdiri sangat kokoh.

Ketika para sahabat tak mampu membuka banteng Khaibar, Rasulullah pun bersabda: “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Seluruh sahabat berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan itu, ternyata Ali bin Abi Thaliblah yang mendapatkan kehormatan tersebut, dan beliau mampu menghancurkan banteng Khaibar.

Kehidupan Ali bin Abu Thalib Setelah Rasulullah Wafat

Ketika Rasulullah wafat, kaum Muslimin tidak percaya akan adanya berita duka tersebut. Rasulullah wafat sekitar 40 hari setelah haji Wada’tahun 11 H. Setelah wafatnya Rasulullah, terdapat satu kisah yang masih menjadi polemic. Hampir semua pihak telah sepakat mengenai riwayat Ali bin Abi Thalib yang ridha dengan kekhilafahan Abu Bakar Ash-shiddiq.

Meski begitu, terdapat perbedaan pendapat yang mulai Nampak ketika Syiáh berpendapat adanya wasiat yang menyebutkan bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Rasulullah wafat. Namun, Sunni tidak sependapat, sehingga ketika Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana yang duka, orang-orang Quraisy  bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.

Pengangkatan Abu Bakar ini sebagai khalifah yang pertama rupanya tak disetujui oleh orang-orang yang mengaku cinta pada keluarga Rasulullah, yakni Ahlul Bait beserta pengikutnya. Terdapat beberapa riwayat yang berbeda pendapat pada waktu pembaiátan Ali bin Abu Thalib terhadap Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah.

Ada yang meriwayatkan setelah Rasulullah dimakamkan, namun ada juga yang beberapa hari setelah itu. Riwayat yang terbanyak yakni  Ali membaiát Abu Bakar setelah Fatimah meningga, yakni enam bulan setelah Rasulullah meninggal, hal itu terjadi demi mencegah perpecahan umat.

Ada yang menyatakan jika Ali belum pantas menjadi khalifah karena usianya yang tergolong masih muda, namun ada juga yang menyatakan jika kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tak berada di tangan Bani Hasyim.

Kisah kehidupan Ali bin Thalib sebagai khalifah, bermula pada peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan yang mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam. Pemberontak yang kala itu menguasai Madinah, tak memiliki pilihan lain selain Ali bin Abu Thalib diangkat sebagai Khalifah.

Ketika itu, Ali berusaha untuk menolaknya, namun Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhum ajmaín memaksa beliau untuk tidak menolaknya, sehingga Ali pun menerima baiát mereka. Ali menjadi satu-satunya khalifah yang dibaiát secara massal, dikarenakan khalifah yang sebelumnya dipilih melalui cara berbeda-beda.

Wafatnya Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abi Thalib menjadi sosok yang memiliki banyak prestasi dan kemahiran dalam bidang militer, serta berbakat dalam strategi perang. Pada akhirnya beliau berhasil keluar dari berbagai permasalahan setelah mengalami kesulitan, yang disebabkan kekacauan luar biasa yang terjadi semenjak zaman Utsman hingga berlanjut pada zamannya.

Ali bin Abu Thalib pun akhirnya tutup usia pada usia yang ke-63. Kematiannya ini disebabkan karena pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij, pada saat mengimami shalat subuh di Masjid Kufah. Ali terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman bin Muljam ketika Ali sedang bersujud saat menuaikan ibadah shalat subuh.

Kejadian itu berlangsung pada tanggal 19 Ramadhan, serta Ali mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah atau 29 Januari 661. Sebagian kalangan memiliki pendapat jika Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf. Namun, ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib dikubur di tempat yang lainnya.

Itulah kisah hidup Ali bin Abi Thalib yang memiliki segudang prestasi dan keteguhan dalam memperjuangkan agama Islam. Dalam kisah tersebut tentu banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa diambil agar menjadi kaum Muslim yang lebih baik dan berkualitas.

Sekian pembahasan Kisah Ali bin Abi Thalib, silahkan disebarluaskan, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Ayo bergabung dengan komunitas pondokislam.com dan dapatkan MP3 Al-Quran 30 Juz yang menyejukkan hati.